Merasa Dipermainkan, Venezuela Mundur dari Perundingan dengan Oposisi

Merasa Dipermainkan, Venezuela Mundur dari Perundingan dengan Oposisi Kredit Foto: SINDOnews

Pemerintah Venezuela memutuskan keluar dari perundingan dengan kelompok oposisi yang diperantarai Norwegia di Barbados. Sikap itu dilakukan sebagai aksi protes terhadap serangkaian sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat (AS) kepada Venezuela. Dengan kata lain AS memaksa Presiden Nicolas Maduro lengser dari kursi presiden.

Presiden AS Donald Trump pada hari Senin (5/8/2019) memberlakukan pembekuan aset pemerintah Venezuela di Amerika Serikat dan memblokir warga negara AS untuk melakukan bisnis dengan pemerintah Maduro. Keputusan tersebut meningkatkan tekanan pada dia untuk berhenti.

Pemerintah Maduro mengatakan delegasinya menarik diri dari putaran perundingan di Barbados yang bertujuan untuk menyelesaikan krisis politik Venezuela. Kedua belah pihak mulai bertemu di sana pada bulan Juli untuk mencari resolusi dari kebuntuan politik di negara yang kaya minyak itu.

"Rakyat Venezuela telah mencatat bagaimana pemimpin delegasi oposisi, Juan Guaido, telah merayakan dan mempromosikan tindakan-tindakan yang berbahaya bagi kedaulatan nasional," terang Kementerian Informasi Venezuela dalam sebuah pernyataan.

Dalam keterangan tersebut juga dijelaskan pihaknya tidak akan melanjutkan proses itu kecuali di dalamnya sejalan dengan kepentingan rakyat Venezuela.

"Venezuela bersedia meninjau mekanisme proses ini sehingga kelanjutannya efektif dan selaras dengan kepentingan rakyat," sambungnya seperti dikutip dari Reuters, Kamis (8/8/2019).

Guaido, yang telah diakui oleh lebih dari 50 negara termasuk AS sebagai pemimpin sah Venezuela, pada aksi demonstrasi pada hari Rabu waktu setempat mengatakan sanksi adalah hukuman bagi mereka yang mencuri dan mendapat untung dari kesengsaraan. Dia mengatakan Maduro dapat membantu negara dengan meninggalkan istana presiden, Miraflores. 

"Dengan cara itu sanksi akan dicabut besok," sebut Guaido.

Pada bulan Januari, Guaido mengutip konstitusi untuk mengangkat dirinya sendiri sebagai presiden sementara Venezuela dengan alasan bahwa terpilihnya kembali Maduro pada tahun 2018 adalah penipuan.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini