Portal Berita Ekonomi Senin, 23 September 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 20:04 WIB. CPO - Harga CPO CIF Rotterdam diperdagangkan pada level 567,5 Dollar/Ton
  • 19:58 WIB. OIL - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 58,08 $/barel
  • 19:57 WIB. OIL - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 64,18 $/barel
  • 19:56 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.519 $/ounce
  • 19:55 WIB. Valas - Dollar melemah 0,04% terhadap Yen pada level 107,52 Yen/Dollar
  • 19:54 WIB. Valas - Dollar menguat 0,48% terhadap Yuan pada level 7,1248 Yuan/Dollar
  • 19:53 WIB. Valas - Dollar menguat 0,42% terhadap Poundsterling pada level 1,2426 $/Pound
  • 19:52 WIB. Valas - Dollar menguat 0,25% terhadap Euro pada level 1,0989 $/Euro
  • 16:18 WIB. Bursa - Indeks Shanghai ditutup melemah 0,98% pada level 2.977
  • 16:17 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup menguat 0,01% pada level 2.091
  • 16:16 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup melemah 0,37% pada level 3.147
  • 16:11 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup menguat 0,16% pada level 22.079
  • 16:13 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng ditutup melemah 0,81% pada level 26.222
  • 16:10 WIB. Valas - Dollar menguat 0,21% terhadap Rupiah pada level 14.085 Rupiah/Dollar
  • 14:29 WIB. India - Karyawan bank di India akan mogok nasional 26 dan 27 September sebagai protes mega merger bank

Genjot SDM Industri Keuangan, WE Academy Bahas Standar Akuntansi Keuangan Baru

Genjot SDM Industri Keuangan, WE Academy Bahas Standar Akuntansi Keuangan Baru - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Warta Ekonomi (WE) Academy kembali memberikan kontribusinya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di industri keuangan. Kali ini WE Academy menyelenggarakan pelatihan dua hari bertajuk Kupas Tuntas Persiapan Akuntansi Terkini: Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71, 72, dan 73.

Pelatihan yang dihelat 19-20 Agustus 2019 ini menghadirkan dua praktisi perbankan, yakni Maki Maulana dan Deny Sudrajat sebagai trainer. Sementara peserta pelatihan berasal dari J Trust Bank, Bank of China, dan perusahaan penyedia layanan internet, Netciti Persada.

Kepada Warta Ekonomi, Maki Maulana mengungkapkan, PSAK 71 merupakan aturan baru standar akuntansi keuangan yang akan diterapkan mulai 1 Januari 2020. Standar yang mengacu pada International Financial Reporting Standard (IFRS) 9 ini akan menggantikan PSAK 55 yang sebelumnya berlaku.

Baca Juga: Masa Depan Akuntansi: Batasan Baru Teknologi dan Keamanan Siber

Dia menuturkan, aturan baru ini salah satunya mengharuskan perbankan menambah cadangan atas piutang, pinjaman atau kreditnya. Standar baru ini mengubah secara mendasar metode penghitungan dan penyediaan cadangan untuk kerugian akibat pinjaman yang tak tertagih.

"Kenapa ditambah? Latar belakangnya krisis moneter di AS tahun 2008, di mana saat itu cadangan kerugian yang dibentuk menurut aturan yang lama dirasa belum cukup, sehingga muncullah aturan baru PSAK 71," ujarnya.

Asal tahu saja, berdasarkan PSAK 55, kewajiban pencadangan baru muncul setelah terjadi peristiwa yang mengakibatkan risiko gagal bayar (incurred loss). Sementara PSAK 71 memandatkan korporasi menyediakan pencadangan sejak awal periode kredit.

Kini, dasar pencadangan adalah ekspektasi kerugian kredit (expected credit loss) di masa mendatang berdasarkan berbagai faktor, termasuk di dalamnya proyeksi ekonomi di masa mendatang.

"Oke cadangan enggak cukup nih, kamu perlu nambah, nambahnya gimana? Dengan adanya konsep expected credit loss. Jadi, walaupun nasabah belum jelek atau nunggak kreditnya, kita sudah harus membentuk cadangan kerugian atas kredit debitur tersebut. Namanya kan expected, perkiraan nantinya kalau debitur itu nunggak kira-kira cadangannya berapa," jelas Maki.

Metodologi expected credit loss inilah yang dikupas tuntas Maki kepada para peserta training WE Academy.

"Training kemarin membahas bagaimana metodologi expected credit loss itu. Cara meramal cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) itu seperti apa," ungkapnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, untuk menerapkan metode expected credit loss, bank bisa melakukan kalibrasi kemungkinan gagal bayar (probability default) dengan kondisi makro-ekonomi di saat ini dan masa mendatang.

"Jadi, ada faktor eksternal yang dimasukkan dalam perhitungan cadangan perbankan," tuturnya.

Baca Juga: Waspada, Tanda-Tanda Krisis Mengemuka

Maki mengakui, aturan baru ini akan berdampak pada kinerja perbankan, khususnya modal dan laba bank. Pasalnya bank wajib melakukan pencadangan meskipun kredit nasabah tersebut lancar, sehingga pencadangannya meningkat.

"Jadi, kalau dulu bank yang rasio kredit bermasalahnya (non performing loan/NPL) kecil, cadangannya juga ikut kecil, tapi kalau aturan baru meskipun bank itu NPL kecil, tapi kalau kondisi ekonomi sedang gonjang-ganjing, maka bank harus menambah cadangannya, juga berdampak pada kenaikan CKPN," paparnya.

Berdasarkan informasi terakhir, untuk menerapkan PSAK 71, BRI telah menambahkan cadangannya sebesar Rp8 triliun, Bank Mandiri menambah Rp12 triliun, dan Bank Panin Rp1,2 triliun.

"Kalau menambah, otomatis akan berimbas ke kinerja dong, ke profitabilitas, ke laba, dan modal," cetusnya.

Namun di balik itu, Maki yakin perbankan akan lebih kuat bila suatu saat terjadi krisis kembali seperti krisis moneter di AS tahun 2008. "Betul, tujuannya memang itu, memperkuat buffer," tutupnya.

Tag: WE Academy, Finansial

Penulis: Fajar Sulaiman

Editor: Rosmayanti

Foto: Sufri Yuliardi

Loading...

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,771.53 3,734.01
British Pound GBP 1.00 17,665.36 17,487.74
China Yuan CNY 1.00 2,000.03 1,980.24
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,147.00 14,007.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,588.84 9,486.94
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,804.63 1,786.72
Dolar Singapura SGD 1.00 10,279.76 10,176.55
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,597.07 15,441.32
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,392.57 3,354.97
Yen Jepang JPY 100.00 13,136.78 13,003.16

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6206.199 -25.274 655
2 Agriculture 1370.120 -3.285 20
3 Mining 1655.731 -9.706 49
4 Basic Industry and Chemicals 865.817 -15.123 73
5 Miscellanous Industry 1175.534 6.983 49
6 Consumer Goods 2216.558 -7.799 54
7 Cons., Property & Real Estate 492.330 -8.272 81
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1221.672 -6.834 75
9 Finance 1256.359 0.335 90
10 Trade & Service 796.070 -0.485 164
No Code Prev Close Change %
1 OPMS 135 228 93 68.89
2 AHAP 75 101 26 34.67
3 OKAS 216 270 54 25.00
4 POLA 840 1,000 160 19.05
5 KRAH 1,135 1,320 185 16.30
6 ALKA 420 480 60 14.29
7 ABMM 1,950 2,180 230 11.79
8 PSAB 240 268 28 11.67
9 ISSP 121 135 14 11.57
10 MPOW 181 198 17 9.39
No Code Prev Close Change %
1 YELO 176 145 -31 -17.61
2 FILM 416 350 -66 -15.87
3 PORT 625 530 -95 -15.20
4 PSDN 167 142 -25 -14.97
5 TIRA 286 254 -32 -11.19
6 PRAS 167 150 -17 -10.18
7 PTIS 280 252 -28 -10.00
8 EMTK 5,100 4,610 -490 -9.61
9 KPAL 680 625 -55 -8.09
10 BAPA 89 82 -7 -7.87
No Code Prev Close Change %
1 MAMI 147 148 1 0.68
2 IATA 50 50 0 0.00
3 IPTV 520 555 35 6.73
4 FREN 166 163 -3 -1.81
5 YELO 176 145 -31 -17.61
6 ERAA 1,925 2,020 95 4.94
7 PGAS 2,170 2,280 110 5.07
8 HOME 84 84 0 0.00
9 BCAP 160 161 1 0.62
10 BRPT 1,000 965 -35 -3.50