Portal Berita Ekonomi Jum'at, 20 September 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 14:28 WIB. Myanmar - Komisi Investasi setujui 251 perusahaan investasi asing dalam 11 bulan pertama (FY 2018/2019)
  • 14:13 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup menguat 0,16% pada level 22.079
  • 14:12 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup menguat 0,54% pada level 2.091
  • 13:36 WIB. Valas - Dollar melemah 0,15% terhadap Yen pada level 107,86 yen/dollar
  • 13:35 WIB. Valas - Dollar melemah 0,16% terhadap Yuan pada level 7,0851 yuan/dollar
  • 13:34 WIB. Valas - Dollar melemah 0,40% terhadap Poundsterling pada level 1,2576 $/pound
  • 13:30 WIB. Valas - Dollar melemah 0,14% terhadap Euro pada level 1,1057$/euro
  • 13:28 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.506$/ounce
  • 13:27 WIB. Oil - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 58,68$/barel
  • 13:26 WIB. Oil - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 64,75$/barel
  • 11:48 WIB. AS - Produsen senjata Colt hentikan produksi AR-15 untuk konsumen sipil 
  • 11:12 WIB. AS - Freddie Mac: Suku bunga tetap 30 tahun (FRM) mortgage naik 3,73% pada minggu ini, minggu sebelumnya 3,56%
  • 09:46 WIB. Hong Kong - Otoritas Moneter Hong Kong turunkan tarif dasar dari 2,5% jadi 2,25%
  • 07:50 WIB. Ekonomi Global - OECD koreksi perkiraan pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,9% (2019) dan 3% (2020)

Genjot SDM Industri Keuangan, WE Academy Bahas Standar Akuntansi Keuangan Baru

Genjot SDM Industri Keuangan, WE Academy Bahas Standar Akuntansi Keuangan Baru - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Warta Ekonomi (WE) Academy kembali memberikan kontribusinya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di industri keuangan. Kali ini WE Academy menyelenggarakan pelatihan dua hari bertajuk Kupas Tuntas Persiapan Akuntansi Terkini: Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71, 72, dan 73.

Pelatihan yang dihelat 19-20 Agustus 2019 ini menghadirkan dua praktisi perbankan, yakni Maki Maulana dan Deny Sudrajat sebagai trainer. Sementara peserta pelatihan berasal dari J Trust Bank, Bank of China, dan perusahaan penyedia layanan internet, Netciti Persada.

Kepada Warta Ekonomi, Maki Maulana mengungkapkan, PSAK 71 merupakan aturan baru standar akuntansi keuangan yang akan diterapkan mulai 1 Januari 2020. Standar yang mengacu pada International Financial Reporting Standard (IFRS) 9 ini akan menggantikan PSAK 55 yang sebelumnya berlaku.

Baca Juga: Masa Depan Akuntansi: Batasan Baru Teknologi dan Keamanan Siber

Dia menuturkan, aturan baru ini salah satunya mengharuskan perbankan menambah cadangan atas piutang, pinjaman atau kreditnya. Standar baru ini mengubah secara mendasar metode penghitungan dan penyediaan cadangan untuk kerugian akibat pinjaman yang tak tertagih.

"Kenapa ditambah? Latar belakangnya krisis moneter di AS tahun 2008, di mana saat itu cadangan kerugian yang dibentuk menurut aturan yang lama dirasa belum cukup, sehingga muncullah aturan baru PSAK 71," ujarnya.

Asal tahu saja, berdasarkan PSAK 55, kewajiban pencadangan baru muncul setelah terjadi peristiwa yang mengakibatkan risiko gagal bayar (incurred loss). Sementara PSAK 71 memandatkan korporasi menyediakan pencadangan sejak awal periode kredit.

Kini, dasar pencadangan adalah ekspektasi kerugian kredit (expected credit loss) di masa mendatang berdasarkan berbagai faktor, termasuk di dalamnya proyeksi ekonomi di masa mendatang.

"Oke cadangan enggak cukup nih, kamu perlu nambah, nambahnya gimana? Dengan adanya konsep expected credit loss. Jadi, walaupun nasabah belum jelek atau nunggak kreditnya, kita sudah harus membentuk cadangan kerugian atas kredit debitur tersebut. Namanya kan expected, perkiraan nantinya kalau debitur itu nunggak kira-kira cadangannya berapa," jelas Maki.

Metodologi expected credit loss inilah yang dikupas tuntas Maki kepada para peserta training WE Academy.

"Training kemarin membahas bagaimana metodologi expected credit loss itu. Cara meramal cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) itu seperti apa," ungkapnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, untuk menerapkan metode expected credit loss, bank bisa melakukan kalibrasi kemungkinan gagal bayar (probability default) dengan kondisi makro-ekonomi di saat ini dan masa mendatang.

"Jadi, ada faktor eksternal yang dimasukkan dalam perhitungan cadangan perbankan," tuturnya.

Baca Juga: Waspada, Tanda-Tanda Krisis Mengemuka

Maki mengakui, aturan baru ini akan berdampak pada kinerja perbankan, khususnya modal dan laba bank. Pasalnya bank wajib melakukan pencadangan meskipun kredit nasabah tersebut lancar, sehingga pencadangannya meningkat.

"Jadi, kalau dulu bank yang rasio kredit bermasalahnya (non performing loan/NPL) kecil, cadangannya juga ikut kecil, tapi kalau aturan baru meskipun bank itu NPL kecil, tapi kalau kondisi ekonomi sedang gonjang-ganjing, maka bank harus menambah cadangannya, juga berdampak pada kenaikan CKPN," paparnya.

Berdasarkan informasi terakhir, untuk menerapkan PSAK 71, BRI telah menambahkan cadangannya sebesar Rp8 triliun, Bank Mandiri menambah Rp12 triliun, dan Bank Panin Rp1,2 triliun.

"Kalau menambah, otomatis akan berimbas ke kinerja dong, ke profitabilitas, ke laba, dan modal," cetusnya.

Namun di balik itu, Maki yakin perbankan akan lebih kuat bila suatu saat terjadi krisis kembali seperti krisis moneter di AS tahun 2008. "Betul, tujuannya memang itu, memperkuat buffer," tutupnya.

Tag: WE Academy, finansial

Penulis: Fajar Sulaiman

Editor: Rosmayanti

Foto: Sufri Yuliardi

Loading...

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,773.96 3,736.24
British Pound GBP 1.00 17,748.95 17,572.01
China Yuan CNY 1.00 2,001.27 1,981.48
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,155.00 14,015.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,608.41 9,511.98
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,807.08 1,789.13
Dolar Singapura SGD 1.00 10,276.61 10,169.80
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,648.35 15,492.18
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,384.74 3,348.06
Yen Jepang JPY 100.00 13,113.77 12,980.46

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6244.470 -32.163 654
2 Agriculture 1367.560 -20.038 21
3 Mining 1651.226 -19.891 49
4 Basic Industry and Chemicals 887.628 -7.335 73
5 Miscellanous Industry 1173.485 -14.145 49
6 Consumer Goods 2237.091 -6.321 53
7 Cons., Property & Real Estate 501.440 -0.066 81
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1213.788 -7.826 75
9 Finance 1261.082 -4.842 90
10 Trade & Service 801.768 -3.260 163
No Code Prev Close Change %
1 VINS 101 136 35 34.65
2 GHON 1,350 1,600 250 18.52
3 DART 318 370 52 16.35
4 HOME 99 113 14 14.14
5 GGRP 840 945 105 12.50
6 TRIM 153 170 17 11.11
7 PDES 1,100 1,215 115 10.45
8 YELO 160 176 16 10.00
9 CCSI 296 324 28 9.46
10 BBLD 450 488 38 8.44
No Code Prev Close Change %
1 PANI 123 101 -22 -17.89
2 DIGI 1,990 1,695 -295 -14.82
3 GLOB 486 420 -66 -13.58
4 JSKY 980 860 -120 -12.24
5 TIRA 278 244 -34 -12.23
6 IDPR 350 314 -36 -10.29
7 PEGE 234 212 -22 -9.40
8 APEX 605 550 -55 -9.09
9 MBTO 145 132 -13 -8.97
10 SMDM 137 125 -12 -8.76
No Code Prev Close Change %
1 HOME 99 113 14 14.14
2 MAMI 139 140 1 0.72
3 MSIN 470 468 -2 -0.43
4 IPTV 540 530 -10 -1.85
5 FREN 154 163 9 5.84
6 MNCN 1,285 1,270 -15 -1.17
7 BCAP 163 163 0 0.00
8 ERAA 1,920 1,940 20 1.04
9 YELO 160 176 16 10.00
10 KPIG 148 146 -2 -1.35