Portal Berita Ekonomi Rabu, 18 September 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 14:43 WIB. Bursa - Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,18% pada level 21.960
  • 14:41 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup menguat 0,41% pada level 2.070
  • 13:36 WIB. GOLD - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.501 $/ounce
  • 13:35 WIB. OIL - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 64,61 $/barel
  • 13:34 WIB. OIL - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 59,09 $/barel
  • 13:28 WIB. Valas - Dollar melemah 0,08% terhadap Yuan pada level 7,09 Yuan/Dollar
  • 13:27 WIB. Valas - Dollar menguat 0,08% terhadap Yen pada level 108,22 Yen/Dollar
  • 13:26 WIB. Valas - Dollar menguat 0,09% terhadap Poundsterling pada level 1,2488 $/Pound
  • 13:25 WIB. Valas - Dollar menguat 0,11% terhadap Euro pada level 1,1064 $/Euro
  • 12:00 WIB. IHSG - IHSG ditutup hijau 0,46% di akhir sesi I.
  • 10:22 WIB. Kanada - Rasio utang terhadap PDB Kanada turun 30,9% (tahun fiskal 2018-2019) sedang tahun lalu 31,3%
  • 09:17 WIB. China - Guangzhou Port Group buka jalur peti kemas perdana ke pantai timur AS
  • 22:34 WIB. Jepang  - Menkeu Taro Aso rekomendasikan Masatsugu Asakawa menjadi Presiden ADB

Peluasan Pasar Jadi Harga Mati untuk Perdagangan

Peluasan Pasar Jadi Harga Mati untuk Perdagangan - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Peluasan pasar menjadi prioritas Kementerian Perdagangan (Kemendag) saat ini untuk bisa menyelamatkan ekspor. Apalagi saat ini, kondisi perdagangan luar negeri tengah lesu terimbas ketidakpastian ekonomi global. Perjanjian-perjanjian dagang pun mutlak harus dilakukan guna bisa menggali potensi perdagangan yang lebih besar. 

 

Terhadap langkah ini, ekonom mengamini. Penguatan dan perluasan kerja sama, baik ke kawasan Afrika dan Asia akan membuat potensi ekspor bisa semakin besar ke depan. 

 

Ekonom Perdagangan Luar Negeri dari Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal menggarisbawahi soal pasar Asia. Menurutnya, bagaimanapun juga Asia merupakan kiblat baru yang berpotensi besar. Penguatan dan perluasan kerja sama ke kawasan Asia akan membuat potensi ekspor bisa semakin besar ke depan. 

 

Baca Juga: Jurus Jitu Perdagangan Indonesia Hadapi Ekonomi Global

 

Ia mengatakan, Asia tak lain merupakan pabrik besar baru di dunia. Negara-negara maju di Eropa dan Amerika bahkan sudah menyadari hal tersebut. Karena itulah, banyak negara maju di dua benua tersebut yang mengalihkan basis produksinya ke emerging market yang ada di Asia. Pemerintah Indonesia pun dilihatnya juga sudah menyadari hal tersebut. 

 

“Dari sisi arah sudah ke sana,” ujar akademisi ini kepada wartawan di Jakarta, Kamis (5/9/2019). 

 

Menariknya Asia untuk perdagangan dunia, ia menjelaskan, karena kawasan ini akan menjadi penyumbang output terbesar pada satu dekade ke depan. Hal tersebutlah yang memungkinkan transaksi perdagangan akan mayoritas berada di Asia. 

 

“Tahun 2030 dari sisi output, terutama emerging market di Asia—ada China, ASEAN, Jepang, Korea, dan beberapa negara besar lainnya di Asia, itu bisa menyumbang 33—40% output dunia,” papar Fithra. 

 

Baca Juga: Langkah Strategis Kementan Hadapi Liberalisasi Perdagangan

 

Laporan yang dirilis McKinsey Global Institute (MGI) bertajuk Asia's Future is Now. Terungkap bahwa sejak tahun 2017, sekitar 52% porsi perdagangan di Asia merupakan perdagangan intrakawan. Kondisi ini menunjukkan tren pemenuhan kebutuhan pasar di Asia dipenuhi rantai pasok yang berada di dalam kawasan.  

 

Pasar Asia sudah merupakan penyumbang terbesar dalam membentuk nilai ekspor Indonesia periode Januari—Juli 2019. China sendirian berkontribusi sebesar 15,53% dari total nilai ekspor Indonesia pada periode tersebut. Sementara itu, kawasan Asia Tenggara bersumbangsih sebesar sampai 22,98% dari total nilai ekspor pada periode yang sama. 

 

Untuk itulah, langkah Kementerian Perdagangan bersama stakeholder terkait untuk menggarap pasar Asia menjadi tepat. Tidak sebatas menjadi peluang baru di pasar nontradisonal, Fithra pun melihat penguatan kerja sama di pasar tradisional menjadi langkah bijak, khususnya dengan negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara.  

 

Selain itu, Fithra mengungkapkan, kerja sama dengan pasar-pasar di Timur Tengah dan Afrika juga perlu makin digenjot. Pasalnya, kedua kawasan tersebut pun potensial dalam perdagangan dunia. 

 

“Jadi, kita jangan membatasi diri hanya di Asia Timur karena lebih banyak, lebih baik,” cetusnya. 

 

Baca Juga: Mendag Dorong Kerja Sama Perdagangan dengan Djibouti, Zanzibar, Somalia, dan Uganda

 

Di samping itu, ia mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan utilisasi dari kerja sama perdagangan yang sudah dibuat. Pasalnya saat ini, pemberdayaan dari kerja sama yang sudah dibentuk baru sekitar 30%.  

 

Di kesempatan berbeda, ekonom Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah mengakui bahwa upaya mengekspor produk-produk Indonesia ke negara lain di Asia, bahkan Eropa, sudah dilakukan pemerintah bersama pengusaha Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) beserta Kamar Dagang Indonesia (Kadin). Pembukaan pasar dengan beragam perjanjian yang digenjot Menteri Perdagangan Enggartiasto adalah hal yang signifikan terlihat. 

 

Sedang, Menteri Enggartiasto sendiri menjelaskan, saat ini banyak negara melakukan pembatasan perdagangan atau menerapkan hambatan baik tarif dan nontarif. Karena itulah, Indonesia harus bergerak mencari negara-negara potensial dan menciptakan perjanjian dagang dengan mereka. Diharapkan dengan langkah ini, negara-negara tersebut akan terikat sehingga hambatan-hambatan dagang berpeluang besar menghilang.

 

"Kita tidak mungkin bisa berkompetisi kalau kita tertutup, tidak ada perjanjian," ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Jakarta, Rabu (4/9).

 

Baca Juga: Upaya Kemendag Tingkatkan Konsumsi Domestik dan Kemajuan UMKM

 

Indonesia memang tengah berupaya keras untuk merampungkan belasan kesepakatan dagang dalam 5 tahun terakhir ini. Dalam periode 2015—2018, tercatat ada 14 perjanjian dagang yang telah dirampungkan. Beberapa di antara mereka ialah dengan Cile, Australia, Pakistan, Palestina, EFTA, dan Mozambik.

 

Perluasan pasar pun terus dilakukan pada tahun ini. Di mana pada tahun 2019, Kemendag menargetkan merampungkan tiga perjanian dagang di kawasan Asia. 

 

Dengan demikian, akan ada 17 perjanjian dagang yang telah disepakati Indonesia dalam 5 thaun terakhir. Jumlah tersebut jauh di atas capaian kesepakatan dagang pada periode 2004-2015. Kala itu, pemerintah hanya mampu membuat 7 perjanjian kerja sama.

 

"Kami targetkan, sampai akhir tahun, tiga perjanjian lain bisa selesai yaitu RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership), Indonesia Korea CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement), dan Indonesia Taiwan ECA (Economic Cooperation Agreemen),” tutur Enggar. 

 

Baca Juga: Kemendag Pacu Ekspor Produk Berbahan Kayu Ringan Kalimantan Tengah

 

Namun, terhadap peluasan pasar ini, Piter mengingatkan, pemerintah Indonesia perlu meningkatkan kinerja sektor industri manufaktur agar pengembangan pasar lebih mudah dilakukan lantaran barang yang ingin dijual sudah tersedia dan beragam.

 

“Sebelum perluas pasar kan harus ada barangnya. Persoalan nya adalah barang yang mau kita ekspor yang jadi andalan kita itu selama ini komoditas. Nah pasar untuk barang komoditas itu ya itu-itu aja,” ujar Piter, Rabu (2/9).

 

Saat ini negara Asia yang masih membutuhkan ekspor komoditas dari Indonesia, Piter sebutkan antara lain China dan India.

 

Menurutnya, akan sulit membahas pengembangan pasar bila mayoritas barang yang dijual Indonesia berupa komoditas, bukan produk atau barang olahan. Ia pun berpandangan bahwa orang Indonesia selama ini terlalu fokus pada produksi komoditas sehingga melupakan sektor manufaktur.

 

Ia juga mengingatkan bahwa saat ini pertumbuhan industri Indonesia terus mengalami penurunan, di mana pada tahun 2018, kontribusi industri manufaktur sudah menyentuh angka di bawah 19,89% terhadap produk domestik bruto (PDB). Pemerintah menurutnya perlu juga mengoptimalkan pemanfaatan pasar dalam negeri untuk menguatkan daya saing industri manufaktur, hingga akhirnya bisa dipasarkan ke luar negeri.

Tag: Kementerian Perdagangan (Kemendag), Perdagangan, Ekspor

Penulis/Editor: Annisa Nurfitriyani

Foto: Sufri Yuliardi

Loading...

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,772.53 3,734.80
British Pound GBP 1.00 17,676.18 17,499.89
China Yuan CNY 1.00 2,000.62 1,980.83
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,150.00 14,010.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,694.17 9,595.45
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,807.89 1,789.93
Dolar Singapura SGD 1.00 10,289.41 10,184.65
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,661.22 15,502.07
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,384.36 3,347.67
Yen Jepang JPY 100.00 13,075.22 12,943.46

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6236.690 17.255 653
2 Agriculture 1401.290 40.171 21
3 Mining 1677.442 -1.658 49
4 Basic Industry and Chemicals 892.715 -1.823 72
5 Miscellanous Industry 1156.368 -32.269 49
6 Consumer Goods 2234.077 11.452 53
7 Cons., Property & Real Estate 497.631 1.437 81
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1214.642 17.931 75
9 Finance 1252.622 4.164 90
10 Trade & Service 806.759 0.554 163
No Code Prev Close Change %
1 TFAS 180 278 98 54.44
2 OKAS 193 260 67 34.72
3 ITIC 1,000 1,250 250 25.00
4 ETWA 82 96 14 17.07
5 JSKY 720 840 120 16.67
6 KOTA 478 550 72 15.06
7 KARW 91 102 11 12.09
8 YELO 134 150 16 11.94
9 MINA 2,300 2,570 270 11.74
10 BMSR 100 110 10 10.00
No Code Prev Close Change %
1 SDRA 800 675 -125 -15.62
2 TFCO 635 545 -90 -14.17
3 TRST 400 360 -40 -10.00
4 JAWA 124 112 -12 -9.68
5 LPLI 158 144 -14 -8.86
6 INTD 159 145 -14 -8.81
7 MPRO 790 725 -65 -8.23
8 AHAP 62 57 -5 -8.06
9 BUKK 1,770 1,630 -140 -7.91
10 GLOB 420 390 -30 -7.14
No Code Prev Close Change %
1 IPTV 540 540 0 0.00
2 MAMI 130 139 9 6.92
3 MNCN 1,285 1,275 -10 -0.78
4 MSIN 466 466 0 0.00
5 TFAS 180 278 98 54.44
6 BMTR 364 354 -10 -2.75
7 HMSP 2,290 2,330 40 1.75
8 PGAS 2,050 2,180 130 6.34
9 GGRM 54,600 54,625 25 0.05
10 ERAA 1,860 1,980 120 6.45