Portal Berita Ekonomi Selasa, 24 September 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:39 WIB. Valas - Dollar menguat 0,19% terhadap Yen pada level 107,75 Yen/Dollar
  • 16:37 WIB. Valas - Dollar menguat 0,42% terhadap Poundsterling pada level 1,2426 $/Pound
  • 16:36 WIB. Valas - Dollar menguat 0,25% terhadap Euro pada level 1,0989 $/Euro
  • 16:34 WIB. Valas - Dollar menguat 0,21% terhadap Rupiah pada level 14.085 Rupiah/Dollar
  • 16:31 WIB. Bursa - Indeks FTSE dibuka melemah 0,26% pada level 7.326
  • 16:29 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng ditutup melemah 0,81% pada level 26.222
  • 16:28 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup melemah 0,37% pada level 3.147
  • 16:28 WIB. Korea - Hyundai Motor akan uji coba truk bertenaga hidrogen pada 2020
  • 16:27 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup menguat 0,16% pada level 22.079
  • 16:25 WIB. Bursa - Indeks Shanghai ditutup menguat 0,28% pada level 2.985
  • 16:24 WIB. Meksiko - Presiden Meksiko: Meksiko berencana investasi lagi untuk naikkan produksi hingga 75% pada 2020
  • 16:24 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup menguat 0,45% pada level 2.101
  • 16:21 WIB. AS - Harga bensin di Texas,  Lousiana,  Alabama,  Mississippi,  Arkansas dan New Mexico naik 12 sen jadi US$2,35 per galon
  • 16:18 WIB. Iran - Presiden Iran kritik Perancis,  Jerman dan Inggris yang menyalahkan Iran terhadap serangan Aramco
  • 16:00 WIB. IHSG - IHSG ditutup melemah 1,11% di akhir sesi II.

Pakar Kesehatan Sebut Malaria Bisa Diberantas Paling Cepat 2050, Ini Alasannya

Pakar Kesehatan Sebut Malaria Bisa Diberantas Paling Cepat 2050, Ini Alasannya - Warta Ekonomi
WE Online, London -

Malaria bisa diberantas dalam satu generasi menurut para pakar kesehatan global. Laporan yang disusun 41 pakar itu menyatakan masa depan bebas malaria bisa tercapai paling cepat pada 2050.

Malaria merupakan salah satu penyakit paling tua dan paling mematikan di dunia. Laporan terbaru itu berbeda dengan kesimpulan tentang malaria oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Para pakar meminta WHO tidak menghindari dari target tersebut.

"Untuk memenuhi target itu, semua negara, para pakar, dan pemimpin kesehatan publik, harus mengucurkan lebih banyak dana dan inovasi untuk memerangi malaria dan nyamuk yang menyebarkannya," ungkap laporan itu dilansir Reuters.

Baca Juga: Tangkal Virus Dengue dengan Nyamuk Wolbachia, Ini Penjelasannya

Berbagai langkah itu memerlukan ambisi, komitmen, dan kemitraan yang belum pernah ada sebelumnya.

"Sejak lama memberantas malaria telah menjadi mimpi yang jauh, tapi sekarang kita memiliki bukti bahwa malaria bisa dan harus diberantas pada 2050," kata Richard Feachem, Direktur Global Health Group di Universitas California, San Francisco, memimpin review pemberantasan malaria yang disusun komisi jurnal medis The Lancet.

Menurut Feachem, untuk menangani kasus besar seperti malaria ini, semua pihak harus berkomitmen dan menantang diri sendiri untuk melampaui target.

"Kita harus menantang diri kita sendiri dengan target dan komitmen ambisius untuk bertindak demi mencapainya," kata Feachem.

Laporan Komisi The Lancet itu muncul beberapa pekan setelah WHO merilis laporan tentang apakah malaria bisa diberantas. WHO menyimpulkan, pemberantasan malaria tak bisa tercapai dalam waktu dekat dan menetapkan target yang tidak masuk akal dengan biaya dan titik akhir tak diketahui dapat mengakibatkan frustrasi dan kritik.

Berbeda dengan laporan Komisi The Lancet, laporan WHO menyatakan prioritas saat ini harus dilakukan untuk pemberantasan malaria di masa depan dan mengurangi risiko kegagalan yang bisa membuang banyak dana dan menciptakan frustrasi semua pihak yang terlibat.

Laporan The Lancet menyatakan, otoritas kesehatan global dapat berkomitmen pada target waktu untuk pemberantasan sehingga memberi tujuan dan dedikasi untuk memerangi malaria.

Malaria telah menginfeksi sekitar 219 juta orang pada 2017 dan menewaskan sekitar 435.000 orang. Mayoritas korban tewas adalah bayi dan anak-anak di kawasan paling miskin di Afrika.

Karena terus terjadi penyebaran, setengah populasi dunia masih berisiko terkena malaria dan secara global menewaskan satu anak setiap dua menit.

Data ini hanya sedikit berubah dari 2016, tapi jumlah kasus global telah turun dari 239 juta orang pada 2010 menjadi 214 juta orang pada 2015 dan korban tewas dari 607.000 orang menjadi sekitar 500.000 orang mulai dari 2010 hingga 2013.

Baca Juga: Hindari DBD dengan Kenali Tempat Nyamuk Bersarang

Kepala Malaria No More, Martin Edlund menyatakan, dunia harus melakukan semua yang mungkin dilakukan untuk memberantas penyakit itu.

"Jika kita bisa mengurangi malaria sekarang, dunia akan mendapat banyak manfaat sosial, kemanusiaan dan ekonomi, serta menyelamatkan jutaan orang dari kematian sia-sia akibat gigitan nyamuk," tutur dia.

Doktor asal Tanzania yang turut memimpin Komisi The Lancet, Winnie Mpanju-Shumbusho menyatakan, pemberantasan malaria sangat penting bagi kesehatan publik.

Untuk memberantas malaria pada 2050, para pakar menyarankan tiga cara untuk mempercepat pemberantasan.

Tiga cara itu adalah peralatan untuk memerangi malaria harus digunakan secara cermat, vaksin harus terus dikembangkan, dan dunia harus mendorong investasi menjadi sekitar USD2 miliar per tahun, untuk mempercepat kemajuan upaya pemberantasan malaria.

Partner Sindikasi Konten: SINDOnews

Tag: malaria, Kesehatan

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Muhammad Syahrianto

Foto: ECDC Europa

Loading...

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,777.59 3,739.57
British Pound GBP 1.00 17,621.99 17,446.46
China Yuan CNY 1.00 2,003.28 1,983.49
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,169.00 14,029.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,596.66 9,499.04
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,807.80 1,789.87
Dolar Singapura SGD 1.00 10,288.27 10,185.13
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,574.56 15,419.27
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,393.77 3,357.83
Yen Jepang JPY 100.00 13,173.11 13,039.32

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6206.199 -25.274 655
2 Agriculture 1370.120 -3.285 20
3 Mining 1655.731 -9.706 49
4 Basic Industry and Chemicals 865.817 -15.123 73
5 Miscellanous Industry 1175.534 6.983 49
6 Consumer Goods 2216.558 -7.799 54
7 Cons., Property & Real Estate 492.330 -8.272 81
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1221.672 -6.834 75
9 Finance 1256.359 0.335 90
10 Trade & Service 796.070 -0.485 164
No Code Prev Close Change %
1 OPMS 135 228 93 68.89
2 AHAP 75 101 26 34.67
3 OKAS 216 270 54 25.00
4 POLA 840 1,000 160 19.05
5 KRAH 1,135 1,320 185 16.30
6 ALKA 420 480 60 14.29
7 ABMM 1,950 2,180 230 11.79
8 PSAB 240 268 28 11.67
9 ISSP 121 135 14 11.57
10 MPOW 181 198 17 9.39
No Code Prev Close Change %
1 YELO 176 145 -31 -17.61
2 FILM 416 350 -66 -15.87
3 PORT 625 530 -95 -15.20
4 PSDN 167 142 -25 -14.97
5 TIRA 286 254 -32 -11.19
6 PRAS 167 150 -17 -10.18
7 PTIS 280 252 -28 -10.00
8 EMTK 5,100 4,610 -490 -9.61
9 KPAL 680 625 -55 -8.09
10 BAPA 89 82 -7 -7.87
No Code Prev Close Change %
1 MAMI 147 148 1 0.68
2 IATA 50 50 0 0.00
3 IPTV 520 555 35 6.73
4 FREN 166 163 -3 -1.81
5 YELO 176 145 -31 -17.61
6 ERAA 1,925 2,020 95 4.94
7 PGAS 2,170 2,280 110 5.07
8 HOME 84 84 0 0.00
9 BCAP 160 161 1 0.62
10 BRPT 1,000 965 -35 -3.50