Portal Berita Ekonomi Jum'at, 22 November 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 22:01 WIB. Bursa - Indeks S&P 500 dibuka melemah 0,13% pada level 3.104
  • 22:00 WIB. Bursa - Indeks Dow Jones dibuka melemah 0,12% pada level 27.788
  • 22:00 WIB. Bursa - Indeks Nasdaq dibuka melemah 0,06% pada level 8.521
  • 21:59 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,18% terhadap Poundsterling pada level 1,2947 USD/GBP
  • 21:58 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,04% terhadap Euro pada level 1,1077 USD/EUR
  • 21:57 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,02% terhadap Yen pada level 108,59 JPY/USD
  • 21:56 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.468 USD/troy ounce
  • 21:56 WIB. OIL - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 63,09 USD/barel
  • 21:55 WIB. OIL - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 57,81 USD/barel
  • 17:24 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup negatif 1,16% pada level 3.192
  • 17:24 WIB. Bursa - Indeks Shanghai ditutup negatif 0,25% pada level 2.903
  • 17:21 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng ditutup negatif 1,57% pada level 26.466
  • 17:21 WIB. Bursa - Indeks FTSE 100 dibuka negatif 0,69% pada level 7.212
  • 17:19 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup negatif 0,48% pada level 23.038
  • 17:19 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup negatif 1,35% pada level 2.096

Kementan Kembangkan Budi Daya Gandum Lokal Eksotis di Indonesia Timur

Kementan Kembangkan Budi Daya Gandum Lokal Eksotis di Indonesia Timur - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kementan) melirik pengembangan budi daya tanaman gandum di Indonesia Timur, khususnya wilayah NTT dan Papua. Pengembangan komoditas ini penting guna meningkatkan dalam negeri yang masih kurang dan juga karena semakin meningkatnya tren masyarakat masa kini untuk mengkonsumsi aneka roti dan mie, maka kebutuhan tepung nasional juga meningkat. 

Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Bambang Sugiharto menyatakan, untuk memenuhi kebutuhan gandum ini diperlukan penyediaan varietas yang mempunyai sifat unggul dan beragam. Ketersediaan plasma nutfah yang memiliki variasi yang besar merupakan sumber gen yang mendukung pembentukan varietas baru yang berdaya hasil tinggi, tahan hama penyakit, umur genjah dan sifat lainnya.

"Prospek pertanaman gandum cukup baik karena beberapa wilayah di Indonesia cocok untuk pengembangan gandum mulai dari dataran tinggi sampai sedang, pada daerah tertentu, seperti NTT dan sebagian Papua yang memiliki iklim mikro yang cocok untuk pertanaman gandum," jelas Bambang di Jakarta, Sabtu (14/9/2019).

Baca Juga: Benarkah Impor Gandum Pakan untuk Pengganti Jagung?

Menurut data Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) Kementan, potensi pertanaman gandum paling besar di papua sekitar 976 ribu ha, di NTT bisa dikembangkan sampai 52 ribu ha. 

"Namun, memang sampai saat ini kedua wilayah tersebut belum terdata hamparan gandumnya karena masih spot kecil kecil," sebut Bambang.

Kepala Subdirektorat Jagung dan Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Andi Muhammad Saleh menambanhkan, meskipun tanaman gandum memiliki potensi untuk bisa dikembangkan di Indonesia, masih terdapat banyak tantangan dalam usaha pengembangannya.

Menurutnya, salah satu kendala dalam upaya pengembangan tanaman gandum adalah terbatasnya tersedianya galur-galur gandum yang cocok ditanam di Indonesia, sesuai dengan karakteristik masing-masing lahan di Indonesia.

"Jika saja lebih banyak penelitian tentang galur-galur tanaman gandum di beberapa tempat yang potensial untuk pengembangan gandum. Ke depannya semoga gandum bisa disediakan di dalam negeri dan tidak banyak yang diimpor dari luar negeri," ujarnya.

Terpisah, Kepala Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros, Muhammad Azrai menegaskan sejumlah wilayah di Indonesia mempunyai prospek bagi pengembangan gandum, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi yang memiliki suhu rendah pada periode tertentu. Daerah tertentu di NTT (Soe) dan Papua (Merauke) cocok untuk pengembangan gandum.

"Penelitian di beberapa daerah lainnya di Indonesia juga membuktikan bahwa gandum dataran rendah (tropis, red) dapat berbunga lebih cepat yakni 35 sampai 51 hari dibandingkan dengan gandum dataran tinggi 55 hingga 60 hari," jelas Azrai.

Baca Juga: Kementan Terus Kembangkan Refugia Si Penarik Serangga

Sejumlah 15 galur atau varietas gandum yang dikembangkan di dataran rendah (< 400 m dpl) Merauke memberi hasil 1,3-2,4 ton per ha. Hasil tertinggi 2,4 ton per ha diperoleh pada varietas introduksi OASIS/SKAUZ//4*BCN.

"Hasil ini lebih tinggi dibandingkan varietas unggul nasional Selayar, Nias, dan Dewata dengan hasil masing-masing hanya 1,9 ton, 1,6 ton, dan 1,3 ton per hektar," beber Azrai.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor gandum dan biji meslin Indonesia dari Australia di tahun 2018 tercatat mencapai 2,41 juta ton, turun dari 2017 yang mencapai 5,10 juta ton. Australia merupakan negara penyuplai gandum terbanyak bagi pasar Indonesia. Sementara itu, total impor gandum Indonesia pada tahun lalu mencapai 10,09 juta ton, turun dari realisasi 2017 sebanyak 11,43 juta ton. Dengan demikian, ini kesempatan bagi Indonesia untuk mengembangkan produksi gandum dalam negeri.

Baca Juga

Tag: Pangan, Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan)

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Rosmayanti

Foto: Kementerian Pertanian

Loading...

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,781.92 3,744.08
British Pound GBP 1.00 18,340.89 18,152.77
China Yuan CNY 1.00 2,014.74 1,994.55
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,182.56 14,041.44
Dolar Australia AUD 1.00 9,639.89 9,541.16
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,811.82 1,793.61
Dolar Singapura SGD 1.00 10,410.75 10,304.89
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,708.60 15,550.89
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,398.24 3,362.01
Yen Jepang JPY 100.00 13,072.69 12,939.03

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6117.364 -37.745 662
2 Agriculture 1407.814 0.114 20
3 Mining 1479.884 -7.875 49
4 Basic Industry and Chemicals 938.327 -20.615 76
5 Miscellanous Industry 1177.586 1.391 50
6 Consumer Goods 2047.341 -21.643 54
7 Cons., Property & Real Estate 497.980 -2.889 82
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1129.754 -11.843 76
9 Finance 1282.724 0.988 90
10 Trade & Service 778.144 -4.796 165
No Code Prev Close Change %
1 SKYB 63 85 22 34.92
2 SQMI 218 272 54 24.77
3 ESIP 530 645 115 21.70
4 MASA 362 438 76 20.99
5 PBSA 312 374 62 19.87
6 KARW 67 80 13 19.40
7 ETWA 62 74 12 19.35
8 BRAM 11,250 13,400 2,150 19.11
9 CNTX 370 430 60 16.22
10 HDFA 130 149 19 14.62
No Code Prev Close Change %
1 COWL 77 52 -25 -32.47
2 PURE 360 270 -90 -25.00
3 DEAL 488 366 -122 -25.00
4 MREI 4,590 3,450 -1,140 -24.84
5 BAYU 1,600 1,210 -390 -24.38
6 POLA 1,010 775 -235 -23.27
7 KONI 650 500 -150 -23.08
8 BMSR 157 124 -33 -21.02
9 JSKY 234 191 -43 -18.38
10 POOL 940 825 -115 -12.23
No Code Prev Close Change %
1 MAMI 280 294 14 5.00
2 MNCN 1,415 1,405 -10 -0.71
3 JSKY 234 191 -43 -18.38
4 TOWR 670 685 15 2.24
5 PURE 360 270 -90 -25.00
6 IPTV 510 515 5 0.98
7 BBRI 4,220 4,220 0 0.00
8 BHIT 68 68 0 0.00
9 TCPI 5,075 5,075 0 0.00
10 BRPT 1,175 1,215 40 3.40