UMKM Jadi Prioritas Fintech untuk Naikkan Inklusi Keuangan

UMKM Jadi Prioritas Fintech untuk Naikkan Inklusi Keuangan Kredit Foto: Unsplash/Rawpixel

Dalam upaya untuk menaikkan tingkat inklusi keuangan, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi pasar yang menjanjikan bari para pelaku financial technology (fintech)dalam mendongkrak perekonomian nasional. Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida.

"Fintech berusaha menemukan cara untuk mengambil 40 persen masyarakat yang tidak memiliki rekening bank. Inilah alasan saya percaya fintech, melalui dukungan dan bimbingan yang tepat dari regulasi, akan dengan cepat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia," kata Nurhaida di Indonesia Fintech Summit and Expo (IFSE) 2019 di Jakarta Convention Center, Selasa (24/9/2019).

Baca Juga: Inklusi Keuangan Belum Capai 75%, OJK Andalkan Fintech

Data dari Kementerian Koperasi dan UKM mencatat ada setidaknya 59,2 juta pelaku UKM di Indonesia. Selain itu, UKM sendiri sudah berkontribusi sampai 60 persen untuk produk domestik bruto (PDB) nasional pada tahun lalu. Bahkan, diprediksi akan naik 5 persen pada tahun ini.

Sayangnya, Nurhaida menyebut bahwa dari 59 juta pelaku UKM baru 12 persen yang memilki akses layanan pinjaman, bahkan baru 20 persen dari pelaku UKM yang dapat dijangkau oleh lembaga keuangan formal. Di sinilah peran fintech diperlukan.

"Pemerintah ingin mendorong inklusi keuangan agar bisa menjangkau peluang bagi para institusi atau pelaku usaha agar mereka bisa mendorong inovasi keuangan digital, khususnya melalui fintech," katanya.

Tambahnya, di Indonesia sendiri sudah ada pertambahan jumlah fintech yang signifikan dari tahun 2016 yang berjumlah di bawah 100, menjadi lebih dari 200 fintech yang berasal dari luar dan dalam negeri di tahun ini.

Dari ratusan fintech tersebut, OJK mencatat sudah ada sekitar 127 perusahaan fintech yang memiliki izin resmi dari OJK. Nurhaida sendiri mengaku masih optimis mengejar target inklusi keuangan dengan kehadiran fintech di era revolusi industri keempat ini.

"Itu (fintech) menjadi kekuatan bagi kami. Bahkan, Indonesia memilki pasar yang potensial bagi perusahaan multinasional atau luar negeri karena faktor demografinya," katanya.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini