Desainer & Ilustrator Negara Ini Harus Pakai Aplikasi Bajakan, Bukan Tak Mampu Bayar, Tapi . . . .

Desainer & Ilustrator Negara Ini Harus Pakai Aplikasi Bajakan, Bukan Tak Mampu Bayar, Tapi . . . . Kredit Foto: SINDOnews

Para desainer, ilustrator, dan pemasar digital di Venezuela, Amerika Selatan terancam tak bisa lagi menggunakan perangkat lunak milik Adobe. Sebab, aplikasi Adobe di Venezuela tak akan berfungsi lagi mulai 28 Oktober.

Penggunaan aplikasi bajakan jadi satu opsi yang agaknya dipertimbangkan negara itu karena Adobe akan mematikan seluruh akun di sana demi mematuhi permintaan pemerintah. Sekadar informasi, Washington berupaya menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.

“Langkah itu menunjukkan konsekuensi tak terdiga dari kebijakan Pemerintahan Donald Trump,” kata para kritikus, dikutip dari Reuters, Kamis (9/10/2019).

Baca Juga: Adobe Gunakan AI Deteksi Gambar Editan

Sejumlah profesional dunia kreatif Venezuela pun turun ke media sosial untuk menentang keputusan Adobe Inc, menilai langkah itu akan berdampak buruk pada desainer dan pemasar lepas (freelance), yang sudah berjuang melawan ketidakpastian ekonomi.

Mahasiswa Desain Grafis Universitas Andes, Gremiana Gonzales pun membagikan tutorial untuk membajak aplikasi dalam Creative Cloud milik Adobe. “Meski tak sepenuhnya setuju dengan pembajakan, dalam keadaan terdesak ini tidak ada pilihan lain—atau kita tak bisa mencari nafkah,” katanya kemudian.

Kritik terhadap kebijakan AS pada Venezuela muncul karena eskalasi sanksi administrasi Trump telah merugikan masyarakat tanpa berhasil melengserkan Maduro, yang dituduh melakukan korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia.

Sebelumnya, Washington juga menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan minyak Venezuela, PDVSA pada Januari—jantung ekonomi negara bagian tersebut. Tak hanya itu, Trump juga menjatuhkan sanksi terhadap puluhan pejabat pemerintah.

Ekonom terkemuka Venezuela, Francisco Rodriguez pun menerbitkan petisi kepada Departemen Keuangan AS untuk mengecualikan Adobe dari sanksi pemerintah.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini