Riset HARA dan BOI: Data Pertanian di Indonesia Masih Kurang

Riset HARA dan BOI: Data Pertanian di Indonesia Masih Kurang Kredit Foto: Bernadinus Adi Pramudita

BOI Research dan HARA merilis Laporan Beras di Indonesia tahun 2018. Kerja sama tersebut berawal dari kepedulian terhadap banyaknya masalah di sektor pertanian yang berasal dari keterbatasan data yang tersedia dan akurasinya yang kurang.

Kolaborasi ini menghasilkan riset yang menggali pola konsumsi, produksi, dan kebijakan mengenai pertanian padi di Indonesia, serta mengonfirmasi potensi besar untuk menggunakan data yang dapat diandalkan dari sektor pangan dan pertanian.

Baca Juga: Gebrakan Mentan Soal Validasi Data Diapresiasi

"Jika kita berbicara tentang memiliki persediaan makanan yang cukup, memiliki data yang benar adalah langkah awal untuk membuat strategi yang baik. Untuk semua orang, di setiap level. Saya pikir apa yang kami coba lakukan sekarang adalah mendapatkan asumsi yang tepat untuk mendapatkan data yang benar," kata Dian Irawati, salah satu pendiri BOI Research di Tierspace, Kamis (31/10/2019).

Laporan ini meliputi gambaran yang komprehensif tentang kondisi ekonomi produksi beras di Indonesia, ekonomi Indonesia telah tumbuh stabil dengan rata-rata 5,1% dalam 5 tahun terakhir. Pada tahun 2018, Indonesia memproduksi lebih dari 56,5 juta ton gabah. Hal ini diproyeksikan akan meningkat hingga 60,8 juta ton gabah di tahun 2020 dengan tiga provinsi penghasil beras utama di Jawa (Jawa Timur, Barat, dan Jawa Tengah) yang masih memainkan peran penting dalam produksi beras menurut laporan tersebut.

"Melakukan penelitian tentang petani kecil cukup menantang karena kita harus pergi ke daerah yang sangat jauh dan terpencil," ujar Co-founder BOI Research, Ingmar van den Brink, di Tierspace, Kamis (31/10/2019).

Ketersediaan data pertanian yang hampir real-time (selalu terbarui) yang disediakan oleh HARA melalui platform Data Exchange merupakan sebuah penyempurnaan bagi penelitian pertanian di Indonesia karena melakukan fieldwork adalah usaha yang memakan banyak waktu dan biaya. Data ini juga akan memungkinkan untuk menerbitkan analisis triwulan-an tentang produksi beras di Indonesia dengan biaya dan waktu yang lebih sedikit.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini