Bahana Revisi Proyeksi IHSG Memble, Kenapa?

Bahana Revisi Proyeksi IHSG Memble, Kenapa? Kredit Foto: Antara/Nova Wahyudi

PT Bahana Sekuritas memutuskan memangkas proyeksi indeks harga saham gabungan (IHSG) ke level 6.085 dari perkiraan semula di level 6.560. Pasalnya, hampir keseluruhan emiten yang sudah melantai di bursa efek Indonesia (BEI) telah melaporkan kinerja keuangan selama sembilan bulan tahun ini, beberapa emiten masih memperlihatkan kinerja positif, namun tidak sedikit yang mencatatkan kinerja stagnan dan bahkan ada yang mengalami pertumbuhan negatif sejalan dengan lemahnya pertumbuhan ekonomi domestik akibat kondisi global. 

Dari pantauan Bahana Sekuritas terhadap kinerja keuangan sekitar 100 perusahaan yang melantai di BEI, secara keseluruhan mencatat kinerja cukup rendah, tercermin dari perolehan laba bersih yang tercatat negatif sebesar 4,2%, lebih rendah dari perkiraan Bahana yang semula memperkirakan akan tumbuh positif dikisaran 9%.    

‘’Kami memperkirakan pada kuartal keempat, pertumbuhan laba operasional masih akan tertekan untuk sebagian besar emiten, kecuali untuk emiten sektor rokok, perkebunan dan perbankan,’’ papar Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi, dalam keterangan resminya, di Jakarta, Senin (18/11/2019).

Baca Juga: Mantab! Neraca Dagang Surplus, IHSG Bergerak Bebas Tanpa Hambatan!

Namun dengan trend penurunan suku bunga dan Rupiah yang menguat akan membantu laba emiten dari sektor telekomunikasi dan semen yang cukup tergantung pada penguatan Rupiah karena banyak mengeluarkan biaya dalam dollar, tambahnya. 

Anak usaha Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) ini memperkirakan laba bersih emiten akan mengalami pertumbuhan sekitar 2% - 3% untuk keseluruhan 2019. Beberapa risiko yang patut dicermati pada sisa tahun ini salah satunya adalah realisasi penerimaan pajak selama 8 bulan pertama 2019, yang masih tercatat sebesar 51% dari target APBN 2019 yang ditetapkan sebesar Rp 1.577,56 triliun. 

"Hal ini bisa berdampak pada tertundanya belanja pemerintah yang bisa mempengaruhi emiten konstruksi, perbankan dan telekomunikasi yang terkait dengan proyek pemerintah," terangnya. 

Dalam catatan Bahana dari kinerja keuangan 100 emiten yang diamati, secara keseluruhan membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 3,6% untuk periode Januari –September 2019, terutama ditopang oleh sektor perbankan, semen, kesehatan dan obat-obatan, sedangkan sektor konstruksi, perkebunan dan property membukukan kinerja negatif. 

Baca Juga: Ekonomi Masih Belum Kondusif, Bursa Tak Pasang Target Tinggi

Selama sembilan bulan pertama tahun ini, marjin laba kotor mencatat rata-rata pertumbuhan sebesar 2,9% secara tahunan dengan kinerja dari sektor konsumer terutama kontribusi dari PT Gudang Garam dan PT Indofood CBP, sedangkan emiten dari sektor perkebunan, konstruksi dan unggas membukukan kinerja negatif. Sedangkan laba operasional hanya tumbuh sebesar 1,8% dibanding periode yang sama tahun lalu, karena turunnya kinerja emiten dari sektor unggas, perkebunan dan konsumer. 

Kedepan, dengan adanya rencana pemerintah untuk memotong pajak penghasilan perusahaan, diperkirakan akan ada potensi pembayaran dividen yang lebih besar dari badan usaha milik negara (BUMN) seperti dari PT Telekomunikasi Indonesia yang memiliki arus kas yang besar dengan rasio utang terhadap modal yang rendah. Bahana memberi rekomendasi beli saham Telkom (TLKM) dengan target harga Rp 4.200/saham.

Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI) dengan tingkat kecukupan modal yang tinggi serta dengan tingkat provisi yang semakin berkurang diperkirakan akan membukukan kinerja positif sampai akhir tahun. BBRI direkomendasikan beli dengan target harga Rp 5.300/saham, dan BMRI dengan target harga Rp 9.000/saham.  

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini