Berkunjung ke Candi Badut, Gratis Loh!

Berkunjung ke Candi Badut, Gratis Loh! Kredit Foto: Lili Lestari

Rhani memberikan pose terbaiknya saat bidikan kamera tertuju ke arahnya. Berkebaya dan berkerudung merah, serta bawahan jarik yang dililitkan di pinggang, Rhani bergaya bak model di bawah undak-undakan candi. Sesekali ia gandeng teman lelakinya dengan mata berbinar dan senyum merekah.

Rhani dan temannya ternyata bukan model profesional. Bukan pula pasangan calon pengantin yang tengah mengambil foto pra-pernikahan. Ia dan teman-temannya adalah siswa-siswi salah satu SMA di Kota Malang yang sedang mengerjakan tugas sekolah di Candi Badut.

"Kami sedang syuting untuk tugas pelajaran Bahasa Daerah," kata Rhani malu-malu dengan logat Jawa Timur yang kental.

Baca Juga: Ini Dia 6 Tempat Wisata Baru yang Wajib Dikunjungi di Malang

Candi Badut ada di Desa Karangbesuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Candi ini diyakini sebagai candi tertua di Jawa Timur. Peninggalan Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan pada abad ke-8, jauh sebelum Kerajaan Airlangga berdiri. Konon dinamakan badut lantaran sang raja suka melucu (mbadhut).

Candi Badut sering dimanfaatkan pengunjung sebagai tempat rekreasi, penelitian, dan lokasi foto, seperti yang dilakukan Rhani, dkk. Bangunan batu yang menjulang 8 meter itu memang tampak elegan bila dijadikan latar untuk foto maupun video. Namun, hanya ada satu bangunan candi di sana. Bentuknya kotak persegi. Luasnya 17,27 x 14,04 meter. Bangunannya sederhana sekali. Tersusun dari batu-batuan andesit.

Pintu masuk candi juga cuma satu, melalui undak-undakan setinggi dua meter. Di dalamnya ada satu ruangan dengan altar di tengah. Pengunjung yang beragama Hindu suka bersembahyang di sini. Di sekeliling candi terdapat selasar selebar satu meter. Setiap sisi dinding ada cerukan di tengah, tempat arca dewa-dewi diletakkan.

Namun yang terlihat hanya satu arca, arca Durga Mahisasuramardini atau Dewi Parwati, istri dari Dewa Siwa, di sisi kanan candi. Di sisi kiri dan belakang kosong. Mestinya, ada arca Agastya dan Ganesha, murid dan anak dari Dewa Siwa Di pintu candi juga seharusnya terdapat dua arca penjaga candi, Mahakala dan Nandiswara, dua perwujudan Dewa Siwa.

"Sejak dulu memang cuma ada satu arca. Yang lain tidak ditemukan," kata Jayadi, penjaga Candi Badut. Candi ini ditemukan dalam bentuk bukit batu dan reuntuhan candi di tengah sawah pada 1921. Saat ini menjadi situs cagar budaya yang dikelola Badan Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Candi Badut menempati areal 2.808 meter persegi. Kondisinya terawat dengan baik meskipun titian jalan di sisi tengah belum semua tertutup paving block. Tanaman hijau menghiasi taman sekitar candi. Tak terlihat coret-coretan iseng pengunjung di badan candi. Batu-batu reruntuhan candi yang belum tersusun diletakkan di sisi kiri halaman.

Banyak yang berkunjung untuk berwisata, menghabiskan sore, atau mengisi akhir pekan di tempat ini. Tak sedikit pula yang datang dari luar kota bahkan luar negeri untuk melakukan penelitian atau beribadah.

"Pengunjung tidak dikenakan tiket masuk. Setiap orang bebas berkunjung asalkan mengisi buku tamu. Kalau mau bayar, seikhlasnya saja," kata Jayadi.

Lokasi candi sangat mudah dijangkau. Sekitar 5 km dari pusat Kota Malang. Jika ingin ke tempat ini menggunakan kendaraan umum, ada angkutan kota jurusan Tidar menuju Institut Teknologi Malang. Bila tak mau ribet, bisa menggunakan jasa taksi atau ojek online.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini