Portal Berita Ekonomi Jum'at, 28 Februari 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 13:41 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,02% terhadap Poundsterling pada level 1,2885 USD/GBP.
  • 13:41 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,03% terhadap Euro pada level 1,1004 USD/EUR.
  • 13:40 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,63% terhadap Yen pada level 108,90 JPY/USD.
  • 13:27 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.632 USD/troy ounce.
  • 13:25 WIB. OIL - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 50,90 USD/barel.
  • 13:24 WIB. OIL - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 45,59 USD/barel.
  • 11:31 WIB. IHSG - IHSG melemah 4,04% di akhir sesi I.

Janji Ekonomi Tumbuh Minimal 5%, Pemerintah Dorong Industri Ini

Janji Ekonomi Tumbuh Minimal 5%, Pemerintah Dorong Industri Ini - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Kementerian Keuangan memastikan tidak akan membiarkan ekonomi Indonesia tumbuh di bawah lima persen pada tahun ini dan pada 2020. Meskipun, perekonomian global pada periode itu dipastikan akan makin berat akibat melambatnya perdagangan dunia.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, melambatnya ekonomi global dan perdagangan dunia bukan merupakan alasan pemerintah tidak mampu mendorong ekonomi Indonesia. Terbukti, dari perdagangan global yang hanya sebesar 1,1 persen terendah sejak 2008.

Baca Juga: Ekonomi 2020 Tak Menentu, Papah Online Sandiaga Uno Beri Saran

Akibatnya, perekonomian negara-negara maju seperti China dari yang 5-10 tahun lalu mampu tumbuh double digit, kini hanya di kisaran enam persen. Begitu juga dengan Singapura, dari September 2017, mampu tumbuh lima persen kini hanya tinggal 0,1 persen.

"Kalau perekonomian kita kena imbas, tahun lalu kita 5,2 persen, tahun ini lima persen, bukannya kita enggak kena imbas, tetapi minimal kita tahan. Benar-benar kita tahan, jangan sampai di bawah lima persen," tutur dia di kantornya, Jakarta, Rabu (18/12/2019).

Menurutnya, faktor utama yang sangat penting agar ekonomi Indonesia tidak terdampak adalah dengan meningkatkan efektivitas gerak sektor properti. Sektor itu, dikatakannya, memiliki efek ganda yang sangat kompleks untuk menggerakkan ekonomi secara keseluruhan.

"Nah, sektor properti ini biasanya memegang peranan penting untuk menahan atau mengangkat kembali pertumbuhan ekonomi karena sektor properti multiplayer efeknya ke mana-mana," tuturnya.

Dia mencontohkan, untuk membangun satu rumah, dibutuhkan lahan, tanaman sebagai hiasan, batu bata, besi baja, semen, alat-alat konstrukksi lainnya, hingga tenaga kerja yang cukup banyak, khususnya pekerja konstruksi. Karenanya, sejak tahun lalu, pemerintah telah menyiapkan insentif di sektor properti.

"Jadi, dia penggunaan input-nya, range-nya dari sektor pertanian sampai manufaktur tingkat tinggi, sampai jasa-jasanya, jadi sangat tinggi multiplayer ekonomi. Karena itu, kita yakin, sejak kita lihat kondisi ekonomi ke depan akan berat maka pemerintah tahun lalu berikan seperangkat insentif untuk sektor properti," tegasnya.

Adapun insentif tersebut berupa keringanan pengenaan pajak, seperti tidak dipungutnya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk tipe rumah sederhana dan super sederhana, pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) bagi tipe menengah dari lima persen jadi satu persen hingga dinaikannya batasan nilai rumah mewah untuk dikenakan Pajak Penjualan Atas Bawang Merah (PPnBM).

"Ketemu dengan pengusaha sektor properti, kapan sektor ini bisa maju, dan kemudian mereka bilang masih kurang insentifnya kurang. Tetapi, dengan apa yang dilakukan dengan seluruh insentif ini betul-betul sektor properti kalau bisa mulai kerja dan tingkatkan pertumbuhannya," tutupnya dia.

Partner Sindikasi Konten: Viva

Baca Juga

Tag: Ekonomi Indonesia, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Properti, Suahasil Nazara

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Foto: Sufri Yuliardi

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,811.97 3,773.23
British Pound GBP 1.00 18,437.93 18,248.81
China Yuan CNY 1.00 2,042.08 2,021.50
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,305.17 14,162.83
Dolar Australia AUD 1.00 9,384.19 9,287.98
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,834.82 1,816.45
Dolar Singapura SGD 1.00 10,239.92 10,134.40
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,719.95 15,562.12
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,393.87 3,356.12
Yen Jepang JPY 100.00 13,084.40 12,953.02
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5535.694 -153.227 682
2 Agriculture 1207.532 -23.247 22
3 Mining 1368.723 -34.054 49
4 Basic Industry and Chemicals 770.392 -21.052 77
5 Miscellanous Industry 1050.866 -17.023 51
6 Consumer Goods 1799.973 -43.530 57
7 Cons., Property & Real Estate 433.140 -5.803 88
8 Infrastruc., Utility & Trans. 965.769 -20.170 78
9 Finance 1253.766 -51.425 92
10 Trade & Service 676.875 -5.364 168
No Code Prev Close Change %
1 VRNA 75 100 25 33.33
2 ALDO 362 450 88 24.31
3 IBST 6,900 8,275 1,375 19.93
4 FORU 105 122 17 16.19
5 JAYA 71 80 9 12.68
6 SRAJ 200 222 22 11.00
7 OCAP 140 155 15 10.71
8 LRNA 154 170 16 10.39
9 ITIC 1,605 1,760 155 9.66
10 DEAL 187 204 17 9.09
No Code Prev Close Change %
1 AYLS 70 50 -20 -28.57
2 CTBN 3,150 2,370 -780 -24.76
3 ALKA 396 300 -96 -24.24
4 DPNS 254 195 -59 -23.23
5 COCO 930 720 -210 -22.58
6 PICO 695 545 -150 -21.58
7 BALI 930 730 -200 -21.51
8 KPAL 140 110 -30 -21.43
9 BUKK 1,260 995 -265 -21.03
10 MAYA 8,100 6,500 -1,600 -19.75
No Code Prev Close Change %
1 BBRI 4,480 4,130 -350 -7.81
2 MNCN 1,270 1,290 20 1.57
3 BBCA 32,100 31,450 -650 -2.02
4 TOWR 855 835 -20 -2.34
5 TLKM 3,510 3,470 -40 -1.14
6 BMRI 7,650 7,350 -300 -3.92
7 ANTM 630 600 -30 -4.76
8 DEAL 187 204 17 9.09
9 BHIT 61 59 -2 -3.28
10 PGAS 1,495 1,385 -110 -7.36