Hoax Hantam Generasi Muda Bandung

Hoax Hantam Generasi Muda Bandung Kredit Foto: Rahmat Saepulloh

Generasi muda dinilai masih menjadi sasaran empuk dalam penyebaran informasi bohong (hoax) yang marak terjadi di media sosial. Tingginya penggunaan internet di kalangan milenial ini harus diikuti dengan kecerdasan emosional dan intelektual.

Hal ini terungkap dalam sosialisasi antihoaks dan pelatihan jurnalistik yang diberikan Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Gedung Sate dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Jawa Barat kepada ratusan mahasiswa dan masyarakat umum yang memadati Lapangan Gasibu, Bandung, Sabtu (28/12/2019).

Baca Juga: Hadapi Era 4.0, Pesan Sandi Uno kepada Mahasiswa dan Generasi Muda Mantap!

Kegiatan ini merupakan rangkaian acara dari Kilas Balik (Kaleidoskop) Jawa Barat 2019 yang digelar Humas Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

"Kalau menerima informasi, jangan langsung percaya. Harus kritis dan melakukan verifikasi," kata Wakil Sekretaris Pokja Wartawan Gedung Sate Rahmat Saepulloh yang menjadi salah satu pemateri dalam acara tersebut.

Dia mengimbau agar generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam melawan hoaks. "Kalau mahasiswanya sudah mudah tertipu hoax bagaimana dengan masyarakat yang lain," ujarnya.

Sebagai generasi penerus yang lebih akrab dengan internet dan media sosial, generasi muda harus cerdas sehingga mampu mengampanyekan antihoax kepada masyarakat lain. "Apalagi mahasiswa, kaum intelek, harus aktif menyosialisasikan tentang bahaya hoaks," tegasnya.

Baca Juga: Cihuy! Milenial Bakal Jadi Generasi Paling Kaya Raya, Gegara. . .

Rahmat menambahkan agar bisa membedakan antara informasi yang benar dengan hoax, maka masyarakat harus memerhatikan sejumlah hal. Pertama, jangan mudah percaya dengan judul yang fantastis karena belum tentu sesuai dengan isi yang dimuat.

"Berita hoaks biasanya judulnya provokatif. Jadi kalau ad berita judulnya sensasional, segera cari berita pembanding," paparnya.

Kedua, dalam mencari berita pembanding, harus merujuk kepada media-media arus utama yang sudah memiliki kredibilitas yang baik. "Jadi mencari berita pembandingnya jangan dari media sosial," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini