Portal Berita Ekonomi Rabu, 22 Januari 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:47 WIB. Valas - Yuan ditutup positif 0,08% terhadap Dollar AS pada level 6,9048 CNY/USD.
  • 16:47 WIB. Valas - Rupiah ditutup negatif 0,17% terhadap Dollar AS pada level 13.646 IDR/USD.
  • 16:36 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup positif 0,20% pada level 3.253.
  • 16:35 WIB. Bursa - Indeks Shanghai ditutup positif 0,28% pada level 3.060.
  • 16:33 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng ditutup positif 1,27% pada level 28.341.
  • 16:10 WIB. Bursa - Indeks FTSE 100 dibuka positif 0,10% pada level 7.618.
  • 15:33 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup positif 0,70% pada level 24.031.
  • 15:32 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup positif 1,23% pada level 2.267.

Illegal Fishing Masih Ada, Pemerintah Apa Bisa Tindak Tegas Praktik Itu?

Illegal Fishing Masih Ada, Pemerintah Apa Bisa Tindak Tegas Praktik Itu? - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Anggota Komisi IV DPR Johan Rosihan mengatakan penangkapan ikan yang dilakukan secara ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (IUU Fishing) semakin menarik perhatian masyarakat internasional dan negara-negara yang memiliki pantai di seluruh dunia untuk memperkuat upaya dalam penanganan aktivitas IUU fishing sebagai sebuah masalah prioritas. Hal ini karena dampaknya yang sangat buruk terhadap pangan, ekonomi, lingkungan, dan keamanan sosial.

Johan menilai sebagai negara kepulauan terbesar di dunia kasus IUU fishing merupakan salah satu permasalahan utama bagi Indonesia dan menjadi perhatian serius kementrian kelautan dan perikanan saat Susi Pudjiastuti menduduki jabatan mentri kelautan dan perikanan periode 2014 hingga 2019.

Johan mengungkapkan menurut perkiraan kerugian total tahunan Indonesia dari aktivitas IUU Fishing mencapai 20 miliar dolar AS pada 2017.

Baca Juga: Sentuh ZEE, 3 KRI Usir Kapal China di Natuna

"Hal ini termasuk risiko kerusakan permanen pada ekosistem terumbu karang kemungkinan mencapai 65 persen dari total luasan karang," ujar Johan saat dihubungi di Jakarta, Minggu (12/1/2020).

Johan menyampaikan pemberantasan IUU Fishing juga harus dilihat dalam sebuah perspektif yang jauh lebih luas, bukan saja terkait dengan pelanggaran hak kedaulatan atau sekadar masalah manajemen perikanan semata, namun hal ini sejalan dengan kejahatan perikanan bahkan masuk dalam kategori kejahatan transnasional terorganisasi. Sehingga pemberantasannya juga harus dipandang dari berbagai macam perspektif.

Melihat data satgas 115 kejahatan IUU Fishing, kata Johan, dapat ditumpangi kejahatan lain seperti perdagangan narkoba, human trafficking, perdagangan senjata bahkan penyelundupan tumbuhan dan satwa liar. Pada 7 februari 2018, pemerintah telah berhasil menggagalkan penyelundupan 1,37 Ton narkotika di perairan Batam, Riau yang menggunakan kapal perikanan Sunrise Glory berbendera Singapura. 

Kemudian kejadian yang tidak kalah menyedihkan adalah terbongkarnya kasus perbudakan nelayan (slavery) di kawasan Benjina laut Aru dan Ambon pada 2015. Johan menilai kejadian tersebut semakin menguatkan kejahatan IUU Fishing tidak boleh lagi dianggap sebagai kejahatan perikanan biasa.

Baca Juga: Investasi di Natuna, Jokowi Ajak Negeri Matahari Terbit

"Oleh sebab itu, saya meminta kepada pemerintah untuk tegas terhadap pemberantasan aktivitas IUU Fishing di seluruh wilayah Indonesia," ucap Johan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, lanjutnya, memang tidak bisa sepenuhnya dilimpahkan kepada pemerintah atau instansi tertentu saja, namun merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

Johan menyarankan kepada pemerintah membuat sebuah sistem perlindungan utamanya di wilayah terpencil, terluar dan terdepan di seluruh wilayah Indonesia dengan mengembangkan ekonomi di daerah tersebut.

Partner Sindikasi Konten: Republika

Baca Juga

Tag: Perairan Natuna, Laut Natuna Utara

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Muhammad Syahrianto

Foto: Antara/M Risyal Hidayat

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,663.85 3,626.71
British Pound GBP 1.00 17,932.17 17,752.38
China Yuan CNY 1.00 1,991.11 1,970.95
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,746.39 13,609.61
Dolar Australia AUD 1.00 9,399.78 9,304.89
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,769.03 1,751.36
Dolar Singapura SGD 1.00 10,182.51 10,078.21
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,231.00 15,078.09
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,373.35 3,337.32
Yen Jepang JPY 100.00 12,500.13 12,372.37
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6233.453 -4.700 676
2 Agriculture 1393.817 5.439 21
3 Mining 1482.196 -25.902 49
4 Basic Industry and Chemicals 954.012 -0.286 77
5 Miscellanous Industry 1220.702 -4.992 51
6 Consumer Goods 2072.040 0.419 57
7 Cons., Property & Real Estate 471.929 -3.296 85
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1091.009 -9.075 76
9 Finance 1373.955 5.301 92
10 Trade & Service 750.211 1.380 168
No Code Prev Close Change %
1 DMND 915 1,370 455 49.73
2 AMIN 288 360 72 25.00
3 LTLS 500 615 115 23.00
4 PRDA 3,000 3,690 690 23.00
5 BISI 830 1,015 185 22.29
6 INDR 2,000 2,350 350 17.50
7 KIOS 338 396 58 17.16
8 PTIS 86 100 14 16.28
9 INTD 202 234 32 15.84
10 NIRO 121 140 19 15.70
No Code Prev Close Change %
1 LMAS 168 113 -55 -32.74
2 GMFI 158 114 -44 -27.85
3 DYAN 97 72 -25 -25.77
4 PICO 1,190 895 -295 -24.79
5 PEGE 202 152 -50 -24.75
6 ASBI 298 230 -68 -22.82
7 FPNI 110 88 -22 -20.00
8 AKSI 620 510 -110 -17.74
9 BAJA 87 72 -15 -17.24
10 SDPC 120 104 -16 -13.33
No Code Prev Close Change %
1 TOWR 800 830 30 3.75
2 LUCK 600 630 30 5.00
3 MNCN 1,750 1,720 -30 -1.71
4 ENVY 436 492 56 12.84
5 PURE 216 246 30 13.89
6 ANTM 795 770 -25 -3.14
7 TCPI 6,750 6,700 -50 -0.74
8 BBRI 4,670 4,710 40 0.86
9 KAYU 91 80 -11 -12.09
10 TLKM 3,890 3,860 -30 -0.77