IHSG Anjlok 55,88 Poin ke Level 5.884,17 Poin

IHSG Anjlok 55,88 Poin ke Level 5.884,17 Poin Kredit Foto: Antara/Sigid Kurniawan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot lagi 55,88 poin atau 0,94% ke level 5.884,17 poin. Pelemahan IHSG terjadi di tengah penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebesar 0,41% menjadi Rp13.712 per dolar AS. Sejumlah 6,62 miliar saham diperdagangkan dengan frekuensi 482.322 kali dan membukukan nilai transaksi harian sebesar Rp6,82 triliun. Pergerakan saham yang terpantau meliputi 107 saham naik, 312 saham turun, dan 123 saham lainnya stagnan.

Investor asing tercatat masih terus melakukan aksi jual di pasar modal. Kali ini memang dana yang ditarik asing tak sebesar penutupan perdagangan akhir pekan lalu yang lebih dari Rp1 triliun. Namun, jumlah dana yang ditarik tergolong cukup besar hingga senilai Rp812 miliar.

Lagi-lagi, asing paling banyak menarik dana dari saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) hingga senilai Rp476 miliar. Tak ayal, saham bank yang berada di bawah naungan Djarum Group pun anjlok 0,62 poin atau 0,62% ke posisi Rp32.200 per saham.

Baca Juga: Alamaaak! Investor Asing ke Pasar Modal: Loe Gue End!

Pada perdagangan hari ini, saham BBCA sempat menyentuh level terendah Rp31.850 per saham dan tertinggi Rp32.925 per saham. Nilai transaksi di BCA pun menjadi yang terbesar menyentuh Rp970 miliar dengan ditransaksikan sebanyak 17.303 kali. 

Head of Research Reliance Sekuritas, Lanjar Nafi mengungkapkan ada beberapa faktor yang membuat asing melepas saham BCA. Faktor pertama, kapitalisasi pasar BBCA terbesar di IHSG sehingga porsi asing pada saham IHSG akan lebih besar dari porsi saham lain.

"Kemudian, saham BBCA telah mengalami kenaikan yang signifikan sejak tahun 2019 lalu. At least telah naik sebesar 28,56% dari 26.000 menjadi 33.425," kata Lanjarsaat dihubungi di Jakarta, Senin (3/2/2020). 

Baca Juga: Asing Bakar Duit di Sejumlah Bank, Pasar Modal Tekor Triliunan Rupiah!

Menurutnya, saat ini BBCA memiliki price to book value (PBV) sebesar 4,78% lebih tinggi dari PBV empat bank lainnya, di mana BBRI sebesar 2,66 kali; BMRI sebesar 1,72 kali; dan BBNI sebesar 1,10 kali. Bisa diartikan bila harga saham BCA jauh lebih mahal dibandingkan bank lain. 

Secara fundamental, lanjut Lanjar, PBV rata-rata BBCA di level 3,94 kali dan saat ini berada di 4,78 kali sehingga apabila mengarah pada PBV rata-rata secara fundamental BBCA berpotensi ke level 26.550-an. “Karena sangat pesimistis perbandingannya bisa kita ambil di kisaran PBV 4,5 kali di level 30.300-an,” terangnya.

Lalu, apabila dilihat potensi pertumbuhan kredit masih di bawah estimasi meskipun suku bunga telah dipangkas 100 bps tahun lalu.

Sementara itu, Analis Paramitra Alfa Sekuritas, William, menjelaskan keputusan asing melepas saham BBCA dipengaruhi oleh ekspektasi market regional akan kembali melemah seiring dengan impact dari kejadian di China. "Investor pastinya akan cenderung untuk memilih safe heaven saat ini, so mungkin lebih memilih emas dan obligasi dan sebagainya,” ujar

Senasib dengan BCA, asing pun melakukan penjualan Rp91 miliar pada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), kemudian Rp91 miliar di saham PT Astra International Tbk (ASII).

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini