Pekebun Sawit di 2020: Harga TBS Teruslah Bersahabat!

Pekebun Sawit di 2020: Harga TBS Teruslah Bersahabat! Kredit Foto: Antara/FB Anggoro

Data Gapki mencatat produksi minyak sawit Indonesia pada 2019 mencapai 51,8 juta ton atau sekitar 10% lebih tinggi dibandingkan produksi 2018 lalu. Konsumsi domestik dan volume ekspor juga menguat masing-masing sebesar 24% menjadi 16,7 juta ton dan 4% menjadi 35,7 juta ton.

Namun, nilai ekspor produk minyak sawit Indonesia pada 2019 menurun hingga 17,4% dibandingkan 2018 lalu yang sekitar US$23 miliar. Meskipun demikian, 2019 telah ditutup dengan penguatan harga CPO CIF Rotterdam mencapai US$872,5 per MT dan harga TBS berkisar Rp1.500–Rp1.900 per kg. 

2020 menjadi harapan besar bagi industri kelapa sawit di Indonesia, khususnya pekebun sawit terhadap perbaikan harga tandan buah segar (TBS) setelah melewati masa-masa berat di 2019 lalu.

Baca Juga: Gapki: Ekspor Kelapa Sawit Tumbuh 4,2% Sepanjang 2019

Di tingkat petani, menguat drastisnya harga TBS di hampir seluruh provinsi sentra di Indonesia pada awal 2020 mampu kembali membangkitkan motivasi petani untuk meningkatkan intensitas kegiatan pemeliharaan pada tanaman kelapa sawit yang dikelola.

Harga TBS sawit umur 10–20 tahun di Provinsi Riau menguat hingga 12,7% atau dari Rp1.910,15 per kg pada Desember 2019 menjadi Rp2.153 per kg di Januari 2020.

Begitupun dengan Provinsi Sumatera Utara dan Jambi yang masing-masing terjadi penguatan harga TBS sebesar 10,8% atau dari Rp1.915,06 per kg menjadi Rp2.122,14 per kg dan 15% atau dari Rp1.785,69 per kg menjadi Rp2.052,06 per kg secar month on month.

Baca Juga: Harga TBS Meroket, Petani Sawit: I'm Happy!

Selain itu, harga TBS pada kategori umur sawit yang sama di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Sumatera Selatan juga menguat dibandingkan 2019 lalu. Penguatan harga tersebut dipicu oleh perkiraan menurunnya produksi TBS akibat kondisi cuaca yang tidak menentu serta program replanting yang kembali berlangsung di beberapa provinsi di Indonesia. 

Ketua Umum Gapki, Joko Supriyono mengemukakan, "meskipun kondisi ekonomi dunia 2020 masih belum menentu, situasi politik di Timur Tengah masih memanas, perang dagang AS-China belum berakhir, masih adanya tuntutan sustainability di EU, dan peningkatan penggunaan biofuel dalam negeri, namun Gapki tetap optimis pada 2020 industri sawit akan lebih baik."

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini