Portal Berita Ekonomi Minggu, 05 April 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 12:03 WIB. Shanghai Composite - 2.747 (30/3), 2.750 (31/3), 2.734 (1/4), 2.780 (2/4), 2.763 (3/4).
  • 11:57 WIB. Nikkei 225 - 19.084 (30/3), 18.917 (31/3), 18.065 (1/4), 17.818 (2/4), 17.820 (3/4).
  • 11:55 WIB. FTSE 100 - 5.563 (30/3), 5.671 (31/3), 5.454 (1/4), 5.480 (2/4), 5.415 (3/4).
  • 11:52 WIB. Nasdaq - 7.889 (30/3), 7.813 (31/3), 7.486 (1/4), 7.635 (2/4), 7.528 (3/4).
  • 11:44 WIB. Dow Jones - 22.327 (30/3), 21.917 (31/3), 20.943 (1/4), 21.413 (2/4), 21.052 (3/4).
  • 11:42 WIB. S&P 500 - 2.626 (30/3), 2.584 (31/3), 2.470 (1/4), 2.526 (2/4), 2.488 (3/4).

Pengamat Pesimis Pemerintah Capai Target Ekonomi 2020: Angkanya Gak Realistis

Pengamat Pesimis Pemerintah Capai Target Ekonomi 2020: Angkanya Gak Realistis - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) pesimis target pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,3 persen dapat tercapai tahun ini. Untuk diketahui, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen.

"5,3 persen tidak realistis untuk 2020. Kondisi global tertekan karena performa China turun dan menyebarnya virus corona. Saat China saluran ekspor 16% kita tidak bisa serap ekspor kita, artinya kontribusi perdagangan tidak bisa dimaksimalkan," ujar Peneliti Indef Abdul Manap Pulungan di Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Apalagi, lanjut dia, struktur ekspor Indonesia merupakan barang mentah sehingga sulit untuk memigrasikan barang mentah ke negara lain terutama yang punya barang yang sama.

Baca Juga: Waduh, Waduh, Indef Ramal Ekonomi Tahun Ini Mentok 4,8 Persen

Lebih lanjut, Abdul mengatakan industri pengolahan adalah kontributor utama terhadap produk domestik bruto (PDB) sehingga jika terdapat penurunan pada sektor itu, maka untuk mendorong peningkatan PDB akan sulit.

"Kalau industri tidak bisa serap tenaga kerja, maka porsi konsumsi akan melemah, penerimaan pajak turun yang artinya shortfall meningkat dan utang bisa meningkat," katanya.

Di sisi lain, Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law yang sedang dirancang oleh pemerintah nantinya tidak akan langsung mampu menyerap investor secara maksimal ketika telah diimplementasikan.

Baca Juga: Ekonomi Loyo, Indef Semprot Pemerintah: Jangan Sedikit-Sedikit Salahkan Global

"Investor tidak akan langsung ke sini karena regulasi kita terus berubah. Dan hanya di pusat yang cepat, sedangkan daerah sangat lama dan belum optimal walaupun Omnibus Law ingin sederhanakan proses investasi," tandasnya.

Abdul menuturkan, memang ada peluang ekonomi Indonesia untuk tumbuh, tapi kembali lagi tidak akan mencapai 5,3%. "Kita pendudukanya besar dan ada periode konsumsi tinggi terutama saat Lebaran, Natal, dan tahun baru. Sekarang apakah momentum bisa dimanfaatkan atau tidak," tutupnya.

Ada jutaan anak yang terkendala belajar online karena keterbatasan akses internet. Ada banyak tenaga medis yang tidak dibekali APD lengkap. Mari kita sama-sama sukseskan kampanye #AmanDiRumah untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Donasi Anda akan disalurkan untuk membantu pengadaan APD dan fasilitas pendidikan online anak-anak Indonesia. Informasi soal donasi klik di sini.

Baca Juga

Tag: Ekonomi Indonesia, Omnibus Law, Institute for Development of Economics and Finance (Indef)

Penulis: Fajar Sulaiman

Editor: Rosmayanti

Foto: Antara/Aprillio Akbar

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 4,398.86 4,352.78
British Pound GBP 1.00 20,494.27 20,285.43
China Yuan CNY 1.00 2,336.23 2,311.67
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 16,546.32 16,381.68
Dolar Australia AUD 1.00 10,032.03 9,928.94
Dolar Hong Kong HKD 1.00 2,134.68 2,113.30
Dolar Singapura SGD 1.00 11,569.24 11,453.32
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,964.34 17,779.04
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,803.75 3,758.13
Yen Jepang JPY 100.00 15,340.55 15,185.09
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 4623.429 91.744 687
2 Agriculture 936.003 11.914 22
3 Mining 1225.526 31.432 49
4 Basic Industry and Chemicals 652.518 51.220 78
5 Miscellanous Industry 736.691 0.113 51
6 Consumer Goods 1712.721 8.686 57
7 Cons., Property & Real Estate 326.084 -0.307 89
8 Infrastruc., Utility & Trans. 825.116 22.729 79
9 Finance 990.464 18.601 92
10 Trade & Service 596.613 2.104 170
No Code Prev Close Change %
1 REAL 61 82 21 34.43
2 KOBX 67 90 23 34.33
3 BTON 130 165 35 26.92
4 DOID 109 137 28 25.69
5 KBLI 400 500 100 25.00
6 SAMF 272 340 68 25.00
7 SAPX 935 1,165 230 24.60
8 DNAR 250 310 60 24.00
9 TMAS 80 99 19 23.75
10 PJAA 480 590 110 22.92
No Code Prev Close Change %
1 SRAJ 200 186 -14 -7.00
2 KRAH 486 452 -34 -7.00
3 BBHI 86 80 -6 -6.98
4 JAST 505 470 -35 -6.93
5 HRME 535 498 -37 -6.92
6 KONI 494 460 -34 -6.88
7 POLL 9,450 8,800 -650 -6.88
8 SRTG 3,080 2,870 -210 -6.82
9 AGII 470 438 -32 -6.81
10 MAPA 1,705 1,590 -115 -6.74
No Code Prev Close Change %
1 BBRI 2,870 2,890 20 0.70
2 REAL 61 82 21 34.43
3 BRPT 830 1,000 170 20.48
4 BBCA 27,050 27,475 425 1.57
5 ELSA 181 204 23 12.71
6 MEDC 432 480 48 11.11
7 FREN 62 76 14 22.58
8 PGAS 800 800 0 0.00
9 LPPF 1,160 1,095 -65 -5.60
10 PAMG 107 104 -3 -2.80