Bank Sentral 4.0: Jurus Jitu Hadapi Inovasi Keuangan Digital

Bank Sentral 4.0: Jurus Jitu Hadapi Inovasi Keuangan Digital Kredit Foto: Pitchbook

Dalam menyikapi menurunnya globalisasi dan meningkatnya digitalisasi, Bank Sentral 4.0 merupakan salah satu strategi dalam mendorong inovasi dalam ekonomi dan keuangan digital untuk memperkuat daya saing dan kepentingan nasional serta mempersempit kesenjangan masyarakat.

Demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam kuliah umum di London School of Economics (LSE), London (11/2/2020) dengan tema Diminishing Globalisation & Rising Digitalisation: Central Bank Policy Responses.

"Sebagai dukungan BI dalam integrasi ekonomi dan keuangan digital secara nasional, BI telah menyusun arah kebijakan Sistem Pembayaran Indonesia ke depan melalui peluncuran Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025: Menavigasi Sistem Pembayaran Nasional di Era Digital," kata Perry.

Baca Juga: Bank Sentral Indonesia dan Filipina Perkuat Kerja Sama Keuangan Digital

Dalam kesempatan tersebut, Perry juga menyampaikan bahwa sinergi bauran kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan akan terus diperkuat untuk mendukung ketahanan ekonomi nasional.

Perang dagang antara AS dan Tiongkok dan kebijakan perdagangan global lainnya yang mencirikan tren penurunan globalisasi telah berdampak pada volume perdagangan dunia dan pertumbuhan ekonomi global.

"Di sisi lain, digitalisasi ekonomi dan keuangan telah merambah ke berbagai segmen ekonomi," cetus Perry.

Baca Juga: Saking Kangen Harun, Warganet Bikin Pantun. Ada yang Ngocok Perut

Ekonomi dan keuangan digital berkembang secara pesat dalam berbagai bentuk layanan keuangan fintech maupun layanan keuangan digital unbundling di luar bank maupun lembaga keuangan lainnya yang dapat berpotensi menciptakan shadow banking.

Hal tersebut juga turut berdampak pada longgarnya mekanisme transmisi moneter, dan meningkatnya risiko terhadap stabilitas moneter dan keuangan. Perilaku pelaku ekonomi juga telah berubah terutama didorong oleh generasi milenial.

"Dua hal tersebut menjadi tantangan bagi bank sentral dalam memberikan respons guna menjaga stabilitas perekonomian," tukas Perry.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini