Virus Corona Jadi Biang Kerok Keruhnya Pasar Saham

Virus Corona Jadi Biang Kerok Keruhnya Pasar Saham Foto: Reuters/Adriano Machado

Pasar saham Indonesia terkoreksi cukup dalam dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5,71% sepanjang bulan lalu, sementara indeks obligasi pemerintah Indonesia (BINDO) menguat sebesar 2,17%. Ekspektasi untuk memulai tahun 2020 dengan lebih cerah, yang didukung oleh ditandatanganinya kesepakatan perdagangan fase satu antara AS dan Tiongkok, memudar setelah munculnya wabah virus corona yang menimbulkan kekhawatiran akan memberi dampak negatif terhadap ekonomi global. 

 

Baca Juga: Borong Saham IPO AYLS, Fath Capital Optimis Pasar Modal Prospektif di 2020

 

Meskipun banyak ekonom menilai masih terlalu dini untuk menghitung dampak akibat penyebaran wabah virus corona. Namun bagi mitra dagang Tiongkok, berhentinya aktivitas bisnis dan manufaktur akibat penyebaran virus tersebut dapat menghambat rantai pasokan secara luas. Selain itu dengan berkurangnya konsumsi dari masyarakat Tiongkok, di mana saat ini ekonomi Tiongkok lebih ditopang oleh konsumsi, dikhawatirkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok khususnya pada kuartal I-2020 akan melambat.

 

“Munculnya virus baru 2019-nCoV atau yang lebih familiar disebut dengan virus corona membawa kekhawatiran pada investor pasar keuangan yang menyebabkan pasar saham global dan domestik anjlok pada bulan lalu dan berlanjut di pekan pertama bulan Februari,” jelas Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya. 

 

Baca Juga: IHSG Diramalkan Bakal Tembus ke Level 6.000 Lagi

 

Dari sisi domestik, meski perekonomian Indonesia tumbuh 5,02%, namun masih memiliki fundamental yang cukup kuat dengan ditopang perbaikan ekspor dan konsumsi rumah tangga yang cukup baik. Selain itu, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate di level 5,0% untuk bulan ketiga, cadangan devisa per akhir Desember 2019 naik USD 2,55 miliar ke level USD 129,18 miliar, dan inflasi Indonesia tahun 2019 tercatat 2,72% yang merupakan level terendah dalam 10 Terakhir. 

 

Bahkan, Lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service (Moody’s) mengafirmasi peringkat sovereign credit rating Indonesia pada level Baa2/outlook stabil (Investment Grade) pada 10 Februari lalu dan sebelumnya Fitch Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di BBB dengan outlook stabil. 

 

Ivan menjelaskan, selain data pertumbuhan PDB dan defisit transaksi berjalan Indonesia sepanjang tahun 2019 yang sudah dirilis, yang perlu diperhatikan di bulan ini adalah seberapa besar dampak penyebaran wabah virus corona terhadap ekonomi Tiongkok, dunia maupun Indonesia, dan bagaimana pemerintah dari masing-masing negara mengantisipasi hal tersebut. 

 

“Selain itu perkembangan pembahasan RUU Omnibus Law oleh Pemerintah dapat segera diberikan ke DPR untuk segera dapat dibahas,” pungkasnya. 

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini