Save Our Sea: Potensi Kapal Karam, Musibah yang Jadi Berkah

Save Our Sea: Potensi Kapal Karam, Musibah yang Jadi Berkah Kredit Foto: Unsplash/NOAA

Asal-Muasal Kapal Karam

Berabad-abad yang lalu, sebelum terjadi kolonialisasi bangsa-bangsa Eropa, perairan Nusantara sudah merupakan jalur penting pelayaran niaga dari berbagai belahan dunia. Beberapa pelabuhan penting di Nusantara sudah ada, antara lain Pasai Aceh, Kota Cina Palembang, Banten, Batavia (Jakarta sekarang), Semarang, Demak, Jepara, Makassar, Gowa, Tallo, Sangihe, Talaud, Seram, serta Ternate.

Sementara, perdagangan luar negeri Nusantara mulanya ditengarai dengan adanya perdagangan rempah-rempah asal Maluku oleh pedagang Arab dan India. Sejak abad ke-9, bangsa China juga memberi kontribusi pertumbuhan perdagangan laut melalui ekspor keramik.

Oleh karena itu, dari berbagai catatan dan dokumen sejarah sejak abad ke-7 sampai ke-19 Masehi, ratusan bahkan ribuan kapal diduga telah mengalami karam atau tenggelam di Nusantara. Kapal-kapal tersebut berasal dari kapal dagang China (dari berbagai dinasti), kapal kerajaan-kerajaan di Nusantara, kapal-kapal Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris, serta Jepang. Penyebab karamnya kapal disebabkan oleh badai dan cuaca buruk, pengetahuan navigasi geografis pelayaran yang kurang sehingga kapal menabrak karang, atau sebab lain seperti menjadi sasaran perompak dan peperangan. Jumlah kapal hilang dan karam selama berabad-abad di perairan Nusantara memang tidak terhitung.

Kecelakaan kapal laut yang terjadi di masa lalu itu ternyata menyimpan potensi yang besar untuk menjadi atraksi wisata sejarah di bawah air. Kapal-kapal laut tersebut, sebagian besar mengalami kecelakaan di jalur utama pelayaran wilayah Nusantara. Termasuk, jalur perairan Belitung yang dikenal sebagai jalur utama untuk perniagaan. Besarnya potensi benda muatan kapal tenggelam (BMKT) dari kapal yang mengalami kecelakaan menjadikan situs bersejarah tersebut sebagai warisan bawah air tak ternilai. Dengan demikian, perairan laut Indonesia tak hanya menyimpan potensi sumber daya ikan yang sangat besar. Sejak lama, Laut Nusantara juga menjadi rumah bagi BMKT.

Dengan potensi yang besar, pemanfaatan kapal tenggelam dan BMKT bisa menjadi atraksi wisata baru, khususnya untuk wisata sejarah bawah air dengan skala internasional. Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan (kini Kementerian Kelautan dan Perikanan) telah menginventarisasi kapal karam atau kapal tenggelam sebelum Perang Dunia II. Setidaknya terdapat di 463 lokasi untuk periode antara tahun 1508 sampai 1878. Umumnya kapal karam tersebut adalah kapal dagang VOC, kapal Portugis, kapal Amerika, kapal Prancis, Inggris, Jerman, Belgia, dan Asia (China, Jepang, Nusantara).

Dari 463 lokasi itu baru 43 lokasi yang telah berhasil disurvei. Namun, hanya 10 lokasi yang benda muatannya telah diangkat. Ada sekitar 300.000 benda yang terangkat dari dasar laut dan kini tersimpan di gudang khusus Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) di Cileungsi, Bogor. Kesepuluh titik yang telah diangkat benda berharganya umumnya dari perairan Jawa dan Sumatera. Untuk melindungi keberadaan BMKT, Pemerintah Indonesia pada 1989 sudah membentuk Panitia Nasional BMKT yang berfungsi untuk mengelola BMKT dengan lebih maksimal. Kemudian pada 2010 lahir Undang-Undang Nomor 11/2010 tentang Cagar Budaya.

Beberapa Objek Wisata Kapal Karam di Dunia

Kapal karam yang menjadi objek wisata bukan hanya di Indonesia, beberapa kapal karam di belahan dunia lainnya kini juga menjadi obyek wisata yang menarik dan dikunjungi oleh wisatawan antara lain (1) Sweepstakes, Kanada, yang tenggalam pada 1885. Merupakan salah satu kapal karam popular di dunia karena bentuk kapal yang tenggelam masih bisa terlihat dari atas danau dan menarik wisatawan untuk berfoto. Wisatawan bisa mendatanginya dengan perahu atau melakukan diving dan snorkeling.

(2) Navagio Shipwreck, Yunani, ditemukan terdampar pada 1980 di sebuah pulau yang berada di area negara Yunani. Karena diletakkan begitu saja di area pulau, kini kapal menjadi objek wisata di Yunani. Lokasi dan kapal ini semakin booming ketika menjadi latar dalam drama Korea popular Descendants of The Sun.

(3) La Famille Express, Pulau Turks dan Caicos. Kapal kargo umum ini sering menjadi lokasi pemotretan pre-weeding. Pada 2004, kapal ini karam karena terkena badai. Karena susah untuk diderek, kapal ini dibiarkan sehingga menjadi objek wisata baru penduduk dan wisatawan.

(4) Dimitrios Shipwreck, Yunani. Kapal ini merupakan kapal kargo kecil dengan besar 67 meter. Karena lokasinya mudah diakses dan indah, kapal karam Yunani ini menjadi salah satu destinasi wisatawan.

(5) Tangalooma, Australia. Di sebuah pulau yang bernama Pulau Moreton ini terdapat beberapa kapal yang karam. Akibat tenggelam di daerah rendah, beberapa bangkai kapal dijadikan objek wisata menyelam wisatawan. Untuk membantu wisatawan, di pinggir pantai disediakan penyelam berpengalaman yang siap membantu.

(6) Gallant Lady Shipwreck, Bahama. Kapal barang ini menabrak batu yang berada di pinggir pantai karena terkena masalah badai. Karena selama 16 tahun kapal selalu dihantam ombak pantai membuatnya sedikit demi sedikit tenggelam dan hancur. Akibatnya, kerangka kapal ini menjadi salah satu landmark favorit di kota Bimini.

(7) Loullia, Mesir. Kapal sebesar 2.479 ton ini karam pada September 1981 di Selat Tiran. Kapal yang dibangun 1852 ini akan berangkat dari Yordania ke Suez. Karena terjadi masalah teknik dan setengah tenggalam, kru meninggalkan kapal. Hingga saat ini, kapal cantik ini dibiarkan dan menjadi objek fotografi warga yang berkunjung ke Gordon Reef.

Bagaimana di Indonesia? Situs reruntuhan kapal di Kelurahan Leato Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, dianggap memenuhi kriteria sebagai cagar budaya bawah air. Kapal kargo Jepang yang diperkirakan berusia sekitar 73 tahun itu selama ini kerap dikunjungi oleh penyelam. Salah seorang arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gorontalo, Faiz, mengatakan bahwa sebuah benda, struktur, atau bangunan yang memiliki arti khusus bagi ilmu pengetahuan dapat diusulkan menjadi cagar budaya setelah berusia lebih dari 50 tahun. Oleh karena itu, upaya untuk mengungkap identitas dan peristiwa di balik tenggelamnya kapal tersebut harus dikaji lebih mendalam.

Selanjutnya
Halaman

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini