Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Top! Peneliti Belanda Gunakan Artificial Intelligence buat Amati Luar Angkasa dan Asteroid

Top! Peneliti Belanda Gunakan Artificial Intelligence buat Amati Luar Angkasa dan Asteroid Kredit Foto: NASA
Warta Ekonomi, Amsterdam -

Sebuah asteroid yang menghantam Bumi menjadi salah satu ancaman terbesar umat manusia. Maka dari itu, mendeteksi asteroid adalah tugas vital bagi badan antariksa pemerintah di seluruh dunia.

Para peneliti di Belanda telah menemukan beberapa objek yang berpotensi berbahaya, yang tidak ditemukan oleh manusia. Mereka menggunakan kecerdasan buatan (AI) canggih untuk penelitian tersebut.

Baca Juga: Ilmuwan Temukan Bukti-bukti Mars Pernah Diisi Oleh Air, Seperti Apa Bentuknya?

Penelitian, yang diterbitkan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics, mengamati benda-benda luar angkasa berdiameter lebih dari 100 meter yang kemungkinan datang dalam 4,7 juta mil dari Bumi.

AI menjalankan simulasi 10 ribu tahun ke depan dan menemukan 11 asteroid yang tidak ada dalam daftar NASA tentang objek yang berpotensi berbahaya di dekat Bumi.

Para peneliti menuliskan dalam abstrak penelitian bahwa instrumen yang dihasilkan bernama Hazardous Object Indetifier (HOI). HOI mampu mengidentifikasi 95,25 persen dari penabrak yang diketahui dan disimulasikan hadir dalam set uji sebagai penabrak potensial.

Selain itu, HOI mampu mengidentifikasi 90,99 persen dari benda-benda berbahaya yang berpotensi diidentifikasi oleh NASA, tanpa dilatih pada mereka secara langsung.

Selain itu, menurut NASA, objek dekat Bumi (NEO) yang berpotensi berbahaya ini didefinisikan sebagai objek luar angkasa ini berukuran 0,05 unit astronomi. Objek tersebut berdiameter lebih dari 460 kaki. Menurut laporan 2018 yang disatukan oleh Planetary.org, ada lebih dari 18 ribu NEO.

Salah satu rekan penulis studi, astronom dan ahli simulasi Simon Portegies Zwart mengatakan metode ini diperlukan penelitian lebih lanjut

“Kami sekarang tahu metode kami berfungsi, tetapi kami tentu ingin mempelajari lebih dalam penelitian dengan jaringan saraf lebih baik dan lebih banyak input,” kata Zwart dalam sebuah pernyataan, seperti yang dilansir dari Fox News, Jumat (21/2/2020).

“Bagian yang sulit adalah gangguan kecil dalam perhitungan orbit dapat menyebabkan perubahan besar pada kesimpulan,” ujarnya lagi.

NASA telah mempersiapkan pertahanan planet ini dari serangan asteroid selama bertahun-tahun. Sebuah survei baru-baru ini menunjukkan orang Amerika lebih memilih program luar angkasa yang berfokus pada dampak asteroid potensial daripada mengirim manusia kembali ke Bulan atau Mars.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Muhammad Syahrianto

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan