Menjawab Sengkarut Backlog Hunian Lewat Kacamata Milenial

Menjawab Sengkarut Backlog Hunian Lewat Kacamata Milenial Kredit Foto: Taufan Sukma

Ben masih bermalas-malasan di atas sofa buluk di sudut ruangan. Di dalam kontrakan mungil yang digunakannya sebagai showroom bersama dengan teman-temannya.

Sembari bersantai usai lemburan semalam, pandangan matanya serius tertuju pada layar ponsel di genggamannya. Jari-jemarinya cukup gesit bergerak dari sudut layar satu ke sudut yang lain.

Sesekali dua jarinya memencet tombol volume dan power secara bersamaan, lalu kembali telunjuknya menari di layar ponsel. Cukup lama juga.

Dengan baju kusut semalam yang belum diganti, dengan tampang kusut baru bangun tidur dan bahkan belum sempat mencuci muka.

Sampai kemudian dia menelepon seseorang, "Udah gua ajuin yak. Tinggal entar nunggu dipanggil buat next step. Iya. Luv u," jawab Ben mesra sebelum menutup pembicaraan.

Baca Juga: Emerald Land Resmi Pasarkan Perumahan Dekat Stasiun KRL Cilebut

Ben adalah pebisnis muda. Sejak kecil enggan untuk kelak kerja kantoran, pascalulus kuliah Ben bersama teman-temannya merintis bisnis event organizer (EO) sekaligus memproduksi sendiri berbagai hiasan cantik dari styrofoam, lembaran multipleks, dan bahan sejenis untuk keperluan exhibition.

Selain itu, mereka juga berbisnis persewaan sound, panggung, backdrop, dan kebutuhan lain yang masih berkaitan dengan event pameran. Meski bisnisnya terbilang tak menentu dan sangat bergantung pada sedikit-banyaknya order klien, Ben merasa senang karena pekerjaannya begitu dinamis, berbeda dengan bekerja kantoran yang menurutnya sangat membosankan.

Sedangkan sosok di seberang sambungan telepon tadi adalah Zia, kekasih yang ingin dinikahi Ben pada akhir tahun nanti. Sama seperti Ben, Zia juga bukan seorang karyawan kantoran.

Berusia sama karena merupakan teman sekelas di bangku SMA, Zia lebih memilih membuka kedai kopi di kawasan Jakarta Timur bersama dengan seorang teman yang jago meracik kopi. Ruangannya memang tak terlalu luas, namun kesan hangat dan personal justru menjadi 'bahan jualan' Zia, sehingga kedainya terus mampu bertahan sampai dua tahun hingga saat ini.

Dari ruang-ruang kecil itulah, sepetak kedai kopi dan showroom EO, anak-anak muda ini berani merawat mimpinya masing-masing, yang tak lama lagi bakal disatukan menjadi mimpi bersama: membangun bahtera rumah tangga.

Dan salah satu mimpi awal mereka sebelum menikah adalah memiliki hunian sendiri agar kelak usai menikah tak lagi merepotkan keluarga dengan tetap 'numpang hidup' di rumah orangtua.

Makanya, keseriusan Ben mengulik ponsel tadi adalah lantaran sedang sibuk berdiskusi dengan Zia via aplikasi Whatsapp (WA) tentang rumah yang ingin mereka beli. Dan beruntung, upaya Ben-Zia memiliki hunian sendiri kini menjadi semakin mudah dengan adanya aplikasi BTN Properti.

Selanjutnya
Halaman

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini