Portal Berita Ekonomi Senin, 06 April 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 18:32 WIB. Valas - Rupiah ditutup menguat 0,11% terhadap Dollar AS pada level 16.412 IDR/USD.
  • 18:30 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,08% terhadap Yuan pada level 7,09 CNY/USD.
  • 18:29 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,35% terhadap Yen pada level 108,93 JPY/USD.
  • 18:28 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.643 USD/troy ounce.
  • 18:27 WIB. OIL - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 33,19 USD/barel.
  • 18:26 WIB. OIL - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 27,48 USD/barel.
  • 12:52 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.619 USD/troy ounce.

5 Tren Teknologi Wujudkan Nilai Bisnis Baru, Wajib Dipertimbangkan Perusahaan

5 Tren Teknologi Wujudkan Nilai Bisnis Baru, Wajib Dipertimbangkan Perusahaan - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Untuk bersaing dan mencapai kesuksesan dalam dunia yang serba digital, perusahaan-perusahaan perlu menetapkan fokus baru untuk mengimbangi nilai yang selalu dikejar dalam persaingan dan pencapaian kesuksesan dengan "nilai-nilai" sesuai harapan pelanggan dan karyawan mereka, menurut Accenture Technology Vision 2020.

Laporan tahunan Accenture edisi ke-20 memprediksi bahwa tren teknologi utama yang akan menata ulang bisnis-bisnis selama tiga tahun ke depan. Accenture Technology Vision 2020 mengidentifikasi lima tren utama yang harus dipertimbangkan oleh perusahaan-perusahaan untuk mewujudkan nilai bisnis baru.

Baca Juga: Ingin Traffic Tinggi Jangan Bergantung pada Google, Tapi?

Lima tren utama itu adalah, pertama, pentingnya personalisasi pengalaman. Maksudnya organisasi-organisasi perlu merancang personalisasi pengalaman yang memperkuat kegiatan dan pilihan seseorang. Hal ini dapat mengubah para pengguna yang pasif menjadi aktif dengan transformasi pengalaman-pengalaman satu arah, yang dapat membuat orang merasa tidak memiliki kendali atas pilihan yang ada dan tidak terlibat menjadi sebuah kolaborasi yang sebenarnya. Lima dari enam eksekutif bisnis dan Tl yang disurvei (85%), di Indonesia (92%), percaya bahwa kesuksesan persaingan dalam dekade baru ini menuntut organisasi-organisasi untuk meningkatkan hubungannya dengan para pelanggan, menjadikan mereka sebagai mitra.

Kedua, Al dan Saya. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/Al) harus memberikan kontribusi pada cara manusia melakukan pekerjaan mereka, bukan hanya menjadi pendukung otomatisasi. Sejalan dengan tumbuhnya kemampuan Al, perusahaan-perusahaan harus memikirkan kembali pekerjaan yang mereka lakukan untuk menjadikan Al sebagai bagian generatif dari proses kerja tersebut dengan kepercayaan dan transparansi sebagai intinya. Saat ini, hanya 37% organisasi, 47% di Indonesia, yang melaporkan penggunaan desain inklusif atau prinsip desain yang berpusat pada manusia untuk mendukung kolaborasi antara manusia dan mesin.

Ketiga, dilema kecerdasan. Asumsi-asumsi tentang siapa yang merupakan pemilik dari suatu produk sedang ditantang di dunia yang memasuki situasi "stagnan dalam tahap beta". Sewaktu perusahaan-perusahaan berusaha memperkenalkan generasi produk baru yang digerakkan oleh pengalaman digital, penanganan untuk hal baru ini menjadi sangat penting dalam mendukung kesuksesan. Hampir tiga perempat (74%) eksekutif, sedang di Indonesia 82%, melaporkan bahwa produk dan layanan yang terhubung dengan organisasi mereka akan memiliki pembaharuan dalam jumlah yang lebih banyak atau jauh lebih banyak selama tiga tahun ke depan.

Keempat, robot di alam terbuka. Robotika tidak lagi terkurung di dalam gudang atau pabrik. Dengan 5G yang siap untuk secara signifikan mempercepat pertumbuhan tren, setiap perusahaan harus memikirkan kembali masa depannya melalui lensa robotika. Pandangan eksekutif tentang bagaimana karyawan mereka akan merangkul robotika terpecah: 45% mengatakan bahwa karyawan mereka akan merasa tertantang dalam mencari cara untuk bekerja sama dengan robot, sementara 55% meyakini bahwa karyawan mereka akan dengan mudah menemukan cara untuk bekerja sama dengan robot. Di Indonesia berbeda, karena (82%) yakin bahwa industri mereka membutuhkan robot di alam terbuka.

Kelima, DNA inovasi. Perusahaan-perusahaan memiliki akses ke sejumlah besar teknologi disruptif yang belum pernah ada sebelumnya, seperti buku besar terdistribusi (distributed ledger), Al, extended reality, dan komputasi kuantum. Untuk mengelola semuanya, organisasi-organisasi perlu membuat DNA inovasi unik mereka sendiri sambil berkembang dengan kecepatan yang dituntut oleh pasar saat ini. Tiga perempat (76%), di Indonesia 83%, eksekutif percaya bahwa kebutuhan untuk inovasi belum pernah setinggi ini. Oleh karena itu, untuk melakukannya dengan "benar", dibutuhkan cara-cara baru untuk berinovasi dengan mitra ekosistem dan organisasi dari pihak ketiga.

Indra Permana, Managing Director Accenture Technology Indonesia mengatakan, mengacu laporan yang berjudul "Kita, Manusia di Era Pasca Digital: Dapatkah perusahaan Anda bertahan melewati bentrokan teknologi (tech-clash )", meskipun teknologi makin melekat ke dalam kehidupan manusia, upaya organisasi-organisasi untuk memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat masih bisa menemui kegagalan. Perlu adanya pola pikir dan pendekatan yang baru pada saat teknologi digital ada di manamana dan perusahaan-perusahaan memasuki dekade pada saat mereka harus memenuhi janji-janji digitalnya.

Walaupun beberapa orang menyebut lingkungan saat ini sebagai "tech-lash," atau serangan balik terhadap teknologi, istilah itu gagal untuk mengakui bagaimana masyarakat menggunakan dan mengambil manfaat dari teknologi. Seharusnya penyebutannya menjadi tech-clash yang merupakan bentrokan antara model bisnis dan teknologi yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat.

Dari survei yang dilakukan Accenture untuk laporan Technology Vision terhadap lebih dari 6-000 eksekutif bisnis dan Tl di seluruh dunia, 83% mengakui bahwa teknologi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman manusia. Bahkan di Indonesia, 97% eksekutif setuju akan pentingnya hubungan tersebut.

"Karena terpesona oleh janji teknologi, banyak organisasi menciptakan produk dan layanan digital semata-mata karena mereka bisa melakukannya, tanpa sepenuhnya mempertimbangkan konsekuensi manusia, organisasi, dan sosial," kata Indra, Kamis (27/2/2020).

Sekarang ini, lanjut Indra, kita melihat bentrokan teknologi yang disebabkan oleh harapan konsumen, potensi teknologi, dan ambisi bisnis dan sekarang kita berada pada titik di mana perubahan kepemimpinan menjadi penting. Banyak perusahaan harus mengubah pola pikirnya dari 'hanya karena' menjadi 'kita percaya karena' dengan meninjau kembali model bisnis dan teknologi fundamental dan menciptakan basis persaingan dan pertumbuhan baru.

Jadi, menurut laporan Technology Vision, penggunaan model yang ada saat ini tanpa memikirkan perlunya inovasi tidak hanya berisiko mengganggu pelanggan atau memutus keterlibatan karyawan, tetapi juga bisa secara permanen membatasi potensi pembaharuan dan pertumbuhan di masa depan.

"Bentrokan teknologi adalah tantangan yang bisa diatasi," tutup Indra.  

Ada jutaan anak yang terkendala belajar online karena keterbatasan akses internet. Ada banyak tenaga medis yang tidak dibekali APD lengkap. Mari kita sama-sama sukseskan kampanye #AmanDiRumah untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Donasi Anda akan disalurkan untuk membantu pengadaan APD dan fasilitas pendidikan online anak-anak Indonesia. Informasi soal donasi klik di sini.

Baca Juga

Tag: Digital Economy, Accenture Technology Vision

Penulis: Agus Aryanto

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Foto: Agus Aryanto

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 4,424.03 4,379.43
British Pound GBP 1.00 20,364.20 20,151.69
China Yuan CNY 1.00 2,346.53 2,321.91
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 16,638.78 16,473.22
Dolar Australia AUD 1.00 10,014.88 9,910.29
Dolar Hong Kong HKD 1.00 2,145.86 2,124.45
Dolar Singapura SGD 1.00 11,548.29 11,432.59
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,996.50 17,810.85
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,811.86 3,765.31
Yen Jepang JPY 100.00 15,277.55 15,121.37
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 4811.827 188.398 686
2 Agriculture 983.609 47.606 22
3 Mining 1256.575 31.049 49
4 Basic Industry and Chemicals 680.711 28.193 78
5 Miscellanous Industry 757.260 20.569 51
6 Consumer Goods 1789.993 77.272 57
7 Cons., Property & Real Estate 349.330 23.246 89
8 Infrastruc., Utility & Trans. 871.077 45.961 78
9 Finance 1027.843 37.379 92
10 Trade & Service 608.315 11.702 170
No Code Prev Close Change %
1 MTPS 200 270 70 35.00
2 HKMU 91 118 27 29.67
3 KMTR 200 258 58 29.00
4 FREN 76 95 19 25.00
5 CTRA 456 570 114 25.00
6 LRNA 125 156 31 24.80
7 WIKA 910 1,135 225 24.73
8 PTPP 570 710 140 24.56
9 WSKT 510 635 125 24.51
10 LPCK 482 600 118 24.48
No Code Prev Close Change %
1 INAI 430 400 -30 -6.98
2 AKSI 258 240 -18 -6.98
3 LMSH 350 326 -24 -6.86
4 EPMT 2,190 2,040 -150 -6.85
5 HRME 498 464 -34 -6.83
6 NZIA 264 246 -18 -6.82
7 JAST 470 438 -32 -6.81
8 AMAG 294 274 -20 -6.80
9 KBLI 500 466 -34 -6.80
10 DUCK 515 480 -35 -6.80
No Code Prev Close Change %
1 BBRI 2,890 3,020 130 4.50
2 REAL 82 77 -5 -6.10
3 BBCA 27,475 28,675 1,200 4.37
4 BTPS 1,805 2,230 425 23.55
5 ANTM 464 540 76 16.38
6 BBNI 4,010 4,290 280 6.98
7 FREN 76 95 19 25.00
8 PGAS 800 895 95 11.88
9 WSKT 510 635 125 24.51
10 BRPT 1,000 1,000 0 0.00