Portal Berita Ekonomi Rabu, 08 April 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief

Menyikapi Anjloknya Pasar Finansial, Bagaimana Sikap Terbaik Investor?

Menyikapi Anjloknya Pasar Finansial, Bagaimana Sikap Terbaik Investor? - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Pekan lalu, kondisi pasar finansial berbagai negara merah padam, tak terkecuali Indonesia. Mulai dari instrumen obligasi hingga indeks saham di berbagai belahan dunia "rontok". Kejatuhan ini dipicu oleh lonjakan kasus terjangkit virus corona (COVID-19) di luar China.

Kecemasan investor terhadap meningkatnya kasus epidemi COVID-19 beralasan. Setelah perang dagang antar China dan AS selama tahun lalu mengganggu sisi produksi (supply), kini penanganan wabah COVID-19 dipastikan melemahkan sisi permintaan (demand). Berbagai tindakan karantina kota (lockdown) seperti di Wuhan dan kebijakan menahan pendatang untuk pertemuan komunal (seperti yang diumumkan oleh Pemerintah Saudi Arabia terkait kegiatan ziarah umrah) dapat memperlemah kegiatan transportasi, pariwisata, eceran, hingga perbankan.

Baca Juga: The Fed Ngaku Virus Corona Bikin Ekonomi Global Terancam, Suku Bunga Terpaksa Dipangkas Dalam-Dalam!

Melansir data Bloomberg, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 13,4% sejak awal tahun atau year to date (ytd), kurs tengah Rupiah terhadap Dollar AS (JISDOR)  melemah 3,6% pada level 14.234. Sementara, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) menunjukkan total dana asing telah keluar dari pasar obligasi mencapai Rp8,04 triliun (ytd) pada Jumat (28/2/2020) lalu.

Kepala Makro ekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat, memahami kecemasan investor yang mengurangi atau likuidasi investasi dalam saham. Pasalnya, dengan volatilitas indeks saham (VIX) dan obligasi US (T-bond) yang relatif tinggi, mengindikasikan sikap konservatif investor untuk mengurangi kedua jenis volatilitas aset tersebut guna mengurangi kerugian lebih lanjut.

Akan tetapi, jika mengamati penurunan IHSG, Budi menilai valuasi IHSG relatif paling murah jika dibandingkan bursa regional lainnya. Sebagai perbandingan, selama setahun terakhir, kenaikan annualized average pertumbuhan indeks saham dan earning per share antara indeks S&P (SPX) (16,8%) sekitar tiga kali lebih pesat ketimbang pertumbuhan earning yang hanya sekitar 5%. Proyeksi EPS yang pesat selama tiga tahun terakhir ditopang oleh stimulus fiskal berupa pemangkasan pajak Presiden Trump. Perusahaan banyak menggunakan tambahan dana dari pemangkasan pajak itu untuk membeli kembali (buyback) saham sehingga memicu kenaikan harga saham.

Sementara, kenaikan harga saham pada IHSG alias JCI cenderung lebih rendah ketimbang pertumbuhan laba, terutama setelah era supercycle commodity booming berakhir. Selain itu, meski pertumbuhan EPS IHSG 7,3% lebih rendah dari acuan normatif pertumbuhan GDP nominal, angka tersebut masih lebih tinggi dibanding sejumlah negara.

"Ketepatan membaca angka dan analisis ini penting untuk menentukan sikap terutama mengantisipasi peluang cuan ketika terjadi krisis. Kendati valuasi dianggap sudah murah, investor tetap perlu berhati-hati terhadap adanya potensi koreksi harga saham sehingga sikap menunggu menjadi lebih tepat," ujar Budi Hikmat, dalam siaran pers, Rabu (4/3/2020).

Untuk itu, lanjut Budi, ada dua hal yang harus dicermati. Pertama, respons perusahaan di AS untuk kembali buyback atau malah berbalik menjual. Kedua, kestabilan kurs rupiah relatif terhadap mata uang regional.

Pertimbangan pertama dilandasi dari pergerakan yang serupa antara IHSG dan indeks S&P. Pergerakan kedua indeks yang sama ini lebih besar ketimbang faktor internal pertumbuhan M1 (persediaan uang riil). Bila perusahaan atau emiten memanfaatkan sebagai kesempatan buyback, ada peluang harga saham akan terjaga. Namun, jika perusahaan menjual saham karena mereka mencemaskan kondisi bisnis, harga saham indeks S&P akan tertekan dan berpengaruh kepada IHSG.

Pertimbangan pertama didasarkan kenyataan adanya co-movement antara JCI dan SPX yang bahkan lebih besar ketimbang faktor internal real M1 growth. Bila perusahaan emiten memanfaatkan sebagai kesempatan buyback, ada peluang harga saham akan terjaga. Namun, bila ternyata perusahaan malah menjual saham karena mereka sendiri mencemaskan kondisi bisnis, harga saham SPX akan tertekan yang berpengaruh kepada JCI.

Stimulus Pemerintah dan Kebijakan BI, sementara itu, sangat penting mencermati respons kebijakan fiskal dan moneter yang berpengaruh pada penguatan ekonomi dan kurs rupiah, mengingat sikap investor asing yang melepas aset, baik saham maupun obligasi akibat adanya antisipasi pelambatan ekonomi dan risiko pelemahan rupiah (currency risk).

Secara fiskal, pemerintah menggelar insentif termasuk dengan mempercepat peluncuran Kartu Prakerja di tiga provinsi, yaitu Bali, Sulawesi Utara, dan Kepulauan Riau. Pemerintah juga menaikkan tambahan manfaat bagi keluarga penerima manfaat (KPM) sebesar Rp50.000 menjadi Rp200.000. Kebijakan ini berlaku selama enam bulan, mulai Maret 2020. Di bidang perumahan, pemerintah menambah kebutuhan anggaran Rp1,5 triliun, untuk subsidi bunga Rp800 miliar dan subsidi uang muka Rp700 miliar.

Di sektor wisata, pemerintah memberi insentif sebesar Rp741,89 miliar untuk menarik wisatawan mancanegara maupun domestik, dengan memberikan insentif berupa diskon khusus maupun kegiatan promosi. Insentif ini mulai berlaku pada Maret, April, dan Mei 2020. Sementara, bagi pemerintah daerah yang terdampak akibat penurunan tarif pajak hotel dan restoran mendapat hibah dari pemerintah pusat sebesar Rp3,3 triliun.

Dari sisi moneter, Bank Indonesia melakukan stabilisasi melalui kebijakan triple interventions melalui penjualan valas di pasar spot, intervensi melalui forward di pasar domestic non delivery forward (DNDF), dan intervensi pembelian SBN yang dilepas oleh investor asing.

Di era melimpahnya likuiditas uang dan kecilnya kredit, bila bank sentral China (PBoC) melakukan ekspansi serupa bank sentral G3 (AS, Jepang, dan Jerman), suku bunga bakal terjaga rendah. Hal ini akan memberi ruang lebih untuk instrumen pendapatan tetap seperti obligasi di negara berkembang yang pengelolaanya relatif hati-hati (prudent) seperti Indonesia.

Ikuti arus di mana obligasi akan tetap mendahului saham. Selanjutnya, kita perlu mencermati apakah berbagai stimulus pemerintah efektif menopang daya beli. Menyikapi gangguan pada pengiriman barang input dari China, pemerintah sendiri sudah mengajak perusahaan untuk memacu pengadaan bahan baku.

"Berdasarkan pengalaman melintasi berbagai krisis, kondisi saat ini nampak berbeda bila dibanding menjelang krisis 2008. Saat itu, sikap terbaik adalah menahan ketamakan (controlling the greed) karena valuasi saham sudah terlalu tinggi dan jauh melebihi acuan normatif pertumbuhan GDP nominal. Sementara saat ini, kita perlu mengelola rasa takut (managing fear). Masih ada aset investasi yang menarik, terutama SBN yang justru menjadi prasyarat peluang cuan saham," tandas Budi.

Ada jutaan anak yang terkendala belajar online karena keterbatasan akses internet. Ada banyak tenaga medis yang tidak dibekali APD lengkap. Mari kita sama-sama sukseskan kampanye #AmanDiRumah untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Donasi Anda akan disalurkan untuk membantu pengadaan APD dan fasilitas pendidikan online anak-anak Indonesia. Informasi soal donasi klik di sini.

Baca Juga

Tag: PT Bahana TCW Investment Management, Investasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa, Ekonomi Indonesia

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Foto: Antara/Reno Esnir

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 4,387.35 4,340.23
British Pound GBP 1.00 20,227.50 20,018.07
China Yuan CNY 1.00 2,329.48 2,304.68
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 16,492.05 16,327.95
Dolar Australia AUD 1.00 10,086.54 9,982.91
Dolar Hong Kong HKD 1.00 2,127.35 2,105.96
Dolar Singapura SGD 1.00 11,523.23 11,404.59
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,826.26 17,642.35
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,795.64 3,749.24
Yen Jepang JPY 100.00 15,160.92 15,005.93
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 4778.639 -33.188 686
2 Agriculture 1012.487 28.878 22
3 Mining 1262.596 6.021 49
4 Basic Industry and Chemicals 676.943 -3.768 78
5 Miscellanous Industry 759.171 1.911 51
6 Consumer Goods 1756.664 -33.329 57
7 Cons., Property & Real Estate 347.664 -1.666 89
8 Infrastruc., Utility & Trans. 853.285 -17.792 78
9 Finance 1024.623 -3.220 92
10 Trade & Service 608.266 -0.049 170
No Code Prev Close Change %
1 BTPS 2,230 2,780 550 24.66
2 MTPS 270 336 66 24.44
3 SQMI 200 248 48 24.00
4 ERAA 990 1,210 220 22.22
5 AMIN 284 342 58 20.42
6 MFIN 1,030 1,240 210 20.39
7 ESTA 105 125 20 19.05
8 GSMF 100 116 16 16.00
9 PPRO 50 58 8 16.00
10 BFIN 290 334 44 15.17
No Code Prev Close Change %
1 SSIA 400 372 -28 -7.00
2 ARTA 400 372 -28 -7.00
3 LTLS 488 454 -34 -6.97
4 MARI 158 147 -11 -6.96
5 TNCA 230 214 -16 -6.96
6 ATIC 720 670 -50 -6.94
7 DFAM 346 322 -24 -6.94
8 SKBM 346 322 -24 -6.94
9 HRME 464 432 -32 -6.90
10 INDS 1,740 1,620 -120 -6.90
No Code Prev Close Change %
1 BBRI 3,020 3,030 10 0.33
2 REAL 77 72 -5 -6.49
3 MNCN 1,050 1,040 -10 -0.95
4 TLKM 3,330 3,220 -110 -3.30
5 BBCA 28,675 28,275 -400 -1.39
6 BTPS 2,230 2,780 550 24.66
7 PPRO 50 58 8 16.00
8 WSKT 635 665 30 4.72
9 BBNI 4,290 4,310 20 0.47
10 ANTM 540 555 15 2.78