Save Our Sea: Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Lewat Tol Laut

Save Our Sea: Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Lewat Tol Laut Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A

Faktor Keuntungan

1. Tol laut memacu daya saing. Sebuah studi yang dilakukan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan bahwa biaya logistik di Indonesia mencapai 24 persen dari produk domestik bruto. Tingginya biaya logistik tadi tidak hanya berdampak pada mahalnya barang-barang, namun juga menjadi salah satu faktor penghambat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Di lingkup regional kondisi ini akan berdampak pada rendahnya daya saing sislognas Indonesia di mana berdasarkan survei World Bank, skor Indeks Kinerja Logistik (Logistic Performance Index/LPI) Indonesia pada 2014 adalah 3,1 dengan peringkat 53.

Berdasarkan catatan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), biaya logistik Indonesia pada 2014 sebesar 25,7% dari produksi atau nilai barang, sementara bila dibandingkan dengan negara Asean lainnya, Indonesia masih jauh tertinggal. Pada tahun 2014 biaya logistik Thailand 13,2%; Myanmar 13%; Singapura 8,1%; dan Vietnam 25%;

Baca Juga: Save Our Sea: Menunggu Peran Seniman Kembangkan Desa Wisata Budaya

2. Tol laut dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM. Khusus di Indonesia timur, kapal yang mengirim bahan pangan bisa kembali dengan membawa produk UMKM. Hal ini merupakan upaya bagaimana Indonesia timur diberikan stimulus trade follow the ship buat membuka ruang usaha dan produksi ikan, tepung tapioka, rumput laut untuk dikirimkan ke (Indonesia) barat;

3. Tol laut menjadi lokomotif ekonomi. Program tol laut dirancang pula menjadi lokomotif bagi pembangunan di Indonesia, utamanya pembangunan di kawasan Indonesia timur. Melalui program tol laut diharapkan dapat mempercepat integrasi kawasan pelabuhan, kawasan industri, dan kawasan ekonomi, kawasan pertumbuhan ekonomi serta kluster-kluster ekonomi untuk menopang kebutuhan arus barang dan logistik di pelabuhan;

4. Tol laut mengatasi kesenjangan. Tol laut menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kesenjangan antara wilayah Indonesia barat dengan Indonesia timur. Melalui pengembangan program ini akan terjadi keseimbangan pengangkutan barang yang akan mendorong berkembangnya kawasan-kawasan pertumbuhan ekonomi yang baru sekaligus akan melapangkan jalan suatu kawasan yang akan dikembangkan sesuai dengan potensi yang ada di kawasan itu, serta mendorong ketersediaan infrastruktur yang memadai;

5. Tol laut memberikan nilai tambah bagi ekonomi daerah. Transportasi laut hanya menyumbang 0,3% dari keseluruhan PDB Indonesia. Angka ini, jauh lebih rendah dibanding kontribusi transportasi udara maupun transportasi darat. Angka transportasi darat pada PDB per September 2019, sebesar 2,4, meningkat 2,14% pada tahun 2014.

Transportasi udara menyumbang kontribusi 1,6 terhadap PDB atau meningkat 1,03% tahun 2014 menjadi 1,62% di tahun 2019. Sebaliknya, peranan transportasi laut selama ini sangat rendah dan justru menurun dari 0,34% pada 2014 menjadi 0,32% pada 2019. Untuk itu, presiden meminta agar hal ini segera diperbaiki. Tol laut terkoneksi dengan kawasan industri maupun sentra-sentra ekonomi lokal. Selanjutnya pemerintah daerah melalui BUMD harus terlibat dalam pengembangan dan pemanfaatan tol laut ini sehingga memiliki dampak positif terhadap ekonomi lokal;

6. Mempercepat terwujudnya pembangunan inklusif. Program tol laut merupakan bentuk terobosan dalam mengatasi disparitas harga dan kesenjangan pembangunan yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Tol laut secara bertahap berhasil menekan disparitas harga dengan terjadinya penurunan harga kebutuhan pokok di wilayah timur Indonesia sekitar 20%-40%. Juga terbukti mampu mendorong pemanfaatan potensi ekonomi yang ada di kawasan timur serta membuka pasar baru untuk produk yang dihasilkan di kawasan Indonesia timur;

7. Meningkatkan aktivitas ekonomi lokal. Pada tahun 2018 ini pemerintah terus memacu pengembangan program tol laut dengan mengambil kebijakan strategis melalui penambahan trayek tol laut dari 13 menjadi 15 trayek, menambah lima kapal ternak guna memastikan stabilisasi harga daging sapi, serta mendistribusikan 100 kapal untuk mendukung program tol laut di mana 50 di antaranya merupakan kapal perintis yang juga disiapkan untuk kapal angkutan lebaran.

Pengembangan lima pelabuhan utama dan 19 pelabuhan pengumpan (feeder), 162 pelabuhan perintis, untuk memastikan efisiensi jalur logistik barang-barang kebutuhan pokok, melalui transportasi laut secara reguler menjangkau daerah-daerah terluar Indonesia guna menggeliatkan aktivitas ekonomi regional. Dengan masifnya pengembangan pelabuhan perintis nonkomersil dan pelabuhan peti kemas komersial secara perlahan tapi pasti juga telah membawa manfaat nyata bagi peningkatan aktivitas ekonomi lokal pada daerah-daerah yang dilalui.

Beberapa Tantangan

Selain faktor positif dari keberadaan tol laut, terdapat pula beberapa tantanganmya, yaitu

1. Setelah tiga tahun berjalannya program tol laut, pembangunan pelabuhan dan galangan kapal dirasa belum mencapai target dan sasaran pemerintah dalam memenuhi kuantitas. Hal ini disebabkan beberapa faktor di antaranya adalah tidak adanya dokumen tata ruang laut yang menjadi acuan pasti peletakan pelabuhan dan galangan kapal di Indonesia.

Saat ini hanya ada beberapa dokumen tata ruang laut yang di-perda-kan. Inilah yang sering menjadi hambatan izin pembangunan di beberapa sektor, terutama infrastruktur laut;

2. Dilihat dari segi politik, pembangunan tol laut dapat memberikan pemahaman berbeda bagi rakyat Indonesia sendiri karena tahun 2019 merupakan tahun politik. Dengan adanya pembangunan tol laut telah memicu anggapan bahwa pembangunannya semata-mata untuk menambah nama baik Presiden Joko Widodo agar bisa terpilih kembali menjadi presiden untuk kedua kalinya. Meskipun mungkin, rencana pembangunan tol laut ini sebenarnya memang murni untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia;

3. Dengan adanya program tol laut, sudah sewajarnya pemerintah akan membangun pelabuhan dan galangan kapal sebagai ujung tombak penggerak perekonomian antar-pulau di Indonesia. Namun demikian, Indonesia masih mengalami permasalahan dari segi penyebaran dan kuantitasnya, tercatat sekitar 60% galangan kapal di Indonesia berada di Pulau Batam, sedangkan total galangan kapal di Indonesia saat ini berkisar kurang lebih 250 galangan kapal. Hal ini diperparah dengan hanya terdapat enam galangan kapal yang berada di daerah Indonesia Timur. Sedangkan dominasi galangan kapal di Indonesia juga masih berada di Pulau Jawa dan Batam;

4. Pandangan lintasan laut mengabaikan adanya peluang perbaikan di luar tol laut pada rangkaian besar dari simpul asal barang sampai pada barang tersebut diterima oleh pelanggan dan muatan balik. Tol laut adalah satu segmen yang dianggap kendala untuk mengurangi biaya tol laut padahal masih ada segmen moda angkutan lainnya dari dan ke pelabuhan. Anggapan yang keliru adalah reduksi ongkos angkutan laut serta-merta mengurangi harga barang yang sampai di tangan konsumen.

Selanjutnya
Halaman

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini