Peneliti China Bilang Jangan Berharap Perubahan Cuaca Bisa Musnahkan Virus Corona

Peneliti China Bilang Jangan Berharap Perubahan Cuaca Bisa Musnahkan Virus Corona Kredit Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Sun Yat-sen di Guangzhou, China mengungkapkan bahwa virus Corona baru, Covid-19 sangat sensitif terhadap suhu tinggi. Namun, penelitian itu juga mengungkap bahwa perubahan iklim, dari dingin, ke semi lalu ke panas, mungkin tidak akan menghilangkan virus.

Dalam kasus penyebaran virus sebelumnya, seperti Sars atau Mers, perubahan iklim perlahan-lahan akan mulai melemahkan dan lalu menghilangkann virus tersebut. Namun, para peniliti menyebut, patogen Covid-19 sedikit unik, jadi perubahan suhu mungkin tidak memiliki dampak terlalu besar terhadap virus tersebut.

Baca Juga: Narasikan Negaranya Sukses Tangani Corona, China Siap Promosikan Jurusnya

Diterbitkan bulan lalu, meskipun belum ditinjau oleh peneliti lainnya, laporan tersebut menyarankan bahwa panas memiliki peran yang signifikan untuk dimainkan dalam bagaimana virus berperilaku.

"Suhu dapat secara signifikan mengubah transmisi Covid-19 dan mungkin ada suhu terbaik untuk penularan virus. Virus ini sangat sensitif terhadap suhu tinggi, yang dapat mencegahnya menyebar di negara-negara yang lebih hangat, tetapi sebaliknya dapat menyebar dengan mudah di iklim yang lebih dingin," bunyi hasil penelitian tersebut, seperti dilansir South China Morning Post.

Sebagai hasilnya, para peneliti menyarankan agar negara dan wilayah dengan suhu yang lebih rendah mengadopsi langkah-langkah kontrol yang paling ketat.

Tim Guangzhou mendasarkan penelitian mereka pada setiap kasus baru coronavirus yang dikonfirmasi di seluruh dunia antara 20 Januari dan 4 Februari, termasuk di lebih dari 400 kota dan wilayah China.

Ini kemudian dimodelkan terhadap data meteorologi resmi untuk Januari dari seluruh China dan ibu kota masing-masing negara yang terkena dampak. Analisis menunjukkan bahwa jumlah kasus naik sejalan dengan suhu rata-rata hingga puncak kenaikan suhu yang mencapai delapan derajat. Tapi, setelah itu tren infeksi perlahan-lahan menurun.

"Suhu memiliki dampak pada lingkungan kehidupan orang dan dapat memainkan peran penting dalam kesehatan masyarakat dalam hal pengembangan dan pengendalian epidemi," kata penelitian itu. Dikatakan juga bahwa iklim mungkin berperan dalam mengapa virus itu menyebar di Wuhan, kota pertama kali virus itu terdeteksi.

Sebuah studi terpisah oleh sekelompok peneliti, termasuk ahli epidemiologi Marc Lipsitch dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, menemukan bahwa penularan berkelanjutan dari virus Corona dan pertumbuhan infeksi yang cepat dimungkinkan dalam berbagai kondisi kelembaban, dari provinsi dingin dan kering di China ke lokasi tropis, seperti daerah otonom Guangxi Zhuang di selatan China dan Singapura.

"Cuaca saja, (seperti) peningkatan suhu dan kelembaban saat bulan-bulan musim semi dan musim panas tiba di belahan bumi utara, tidak akan serta merta menyebabkan penurunan dalam jumlah kasus tanpa penerapan intervensi kesehatan masyarakat yang luas," kata studi tersebut, yang diterbitkan pada bulan Februari dan juga sedang menunggu tinjauan ilmiah.

Pakar lain, seperti Hassan Zaraket, asisten direktur di Center for Infectious Diseases Research di American University of Beirut, mengatakan ada kemungkinan bahwa cuaca yang lebih hangat dan lebih lembab akan membuat virus Corona lebih stabil dan dengan demikian kurang menular, seperti halnya dengan patogen virus lainnya.

"Kami masih belajar tentang virus ini, tetapi berdasarkan apa yang kami ketahui tentang virus corona lain, kami bisa berharap. Ketika suhu memanas, stabilitas virus dapat menurun, jika cuaca membantu kita mengurangi transmisi dan stabilitas lingkungan dari virus, maka mungkin kita dapat memutus rantai penularan," ungkapnya.

Mike Ryan, Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), juga mendesak orang-orang untuk tidak menganggap epidemi akan mereda secara otomatis di musim panas.

"Kami harus mengasumsikan virus akan terus memiliki kapasitas untuk menyebar. Ini harapan palsu untuk mengatakan, ya, itu akan hilang seperti flu, kita tidak bisa membuat asumsi itu dan tidak ada bukti untuk memperkuat asusmsi itu," ujarnya.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini