Portal Berita Ekonomi Senin, 30 Maret 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 18:08 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup negatif 4,45% pada level 2.416.
  • 18:08 WIB. Bursa - Indeks Shanghai ditutup negatif 0,90% pada level 2.747.
  • 17:55 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup negatif 0,04% pada level 1.717.
  • 17:53 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup negatif 1,57% pada level 19.084.
  • 17:25 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng ditutup negatif 1,32% pada level 23.175.
  • 14:48 WIB. Valas - Dollar AS menguat 1,10% terhadap Poundsterling pada level 1,2323 USD/GBP.
  • 14:43 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,68% terhadap Euro pada level 1,1065 USD/EUR.
  • 14:39 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,53% terhadap Yen pada level 107,37 JPY/USD.
  • 14:37 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.620 USD/troy ounce.
  • 14:35 WIB. OIL - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 23,33 USD/barel.
  • 14:34 WIB. OIL - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 20,43 USD/barel.

Peneliti China Bilang Jangan Berharap Perubahan Cuaca Bisa Musnahkan Virus Corona

Peneliti China Bilang Jangan Berharap Perubahan Cuaca Bisa Musnahkan Virus Corona - Warta Ekonomi
WE Online, Beijing -

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Sun Yat-sen di Guangzhou, China mengungkapkan bahwa virus Corona baru, Covid-19 sangat sensitif terhadap suhu tinggi. Namun, penelitian itu juga mengungkap bahwa perubahan iklim, dari dingin, ke semi lalu ke panas, mungkin tidak akan menghilangkan virus.

Dalam kasus penyebaran virus sebelumnya, seperti Sars atau Mers, perubahan iklim perlahan-lahan akan mulai melemahkan dan lalu menghilangkann virus tersebut. Namun, para peniliti menyebut, patogen Covid-19 sedikit unik, jadi perubahan suhu mungkin tidak memiliki dampak terlalu besar terhadap virus tersebut.

Baca Juga: Narasikan Negaranya Sukses Tangani Corona, China Siap Promosikan Jurusnya

Diterbitkan bulan lalu, meskipun belum ditinjau oleh peneliti lainnya, laporan tersebut menyarankan bahwa panas memiliki peran yang signifikan untuk dimainkan dalam bagaimana virus berperilaku.

"Suhu dapat secara signifikan mengubah transmisi Covid-19 dan mungkin ada suhu terbaik untuk penularan virus. Virus ini sangat sensitif terhadap suhu tinggi, yang dapat mencegahnya menyebar di negara-negara yang lebih hangat, tetapi sebaliknya dapat menyebar dengan mudah di iklim yang lebih dingin," bunyi hasil penelitian tersebut, seperti dilansir South China Morning Post.

Sebagai hasilnya, para peneliti menyarankan agar negara dan wilayah dengan suhu yang lebih rendah mengadopsi langkah-langkah kontrol yang paling ketat.

Tim Guangzhou mendasarkan penelitian mereka pada setiap kasus baru coronavirus yang dikonfirmasi di seluruh dunia antara 20 Januari dan 4 Februari, termasuk di lebih dari 400 kota dan wilayah China.

Ini kemudian dimodelkan terhadap data meteorologi resmi untuk Januari dari seluruh China dan ibu kota masing-masing negara yang terkena dampak. Analisis menunjukkan bahwa jumlah kasus naik sejalan dengan suhu rata-rata hingga puncak kenaikan suhu yang mencapai delapan derajat. Tapi, setelah itu tren infeksi perlahan-lahan menurun.

"Suhu memiliki dampak pada lingkungan kehidupan orang dan dapat memainkan peran penting dalam kesehatan masyarakat dalam hal pengembangan dan pengendalian epidemi," kata penelitian itu. Dikatakan juga bahwa iklim mungkin berperan dalam mengapa virus itu menyebar di Wuhan, kota pertama kali virus itu terdeteksi.

Sebuah studi terpisah oleh sekelompok peneliti, termasuk ahli epidemiologi Marc Lipsitch dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, menemukan bahwa penularan berkelanjutan dari virus Corona dan pertumbuhan infeksi yang cepat dimungkinkan dalam berbagai kondisi kelembaban, dari provinsi dingin dan kering di China ke lokasi tropis, seperti daerah otonom Guangxi Zhuang di selatan China dan Singapura.

"Cuaca saja, (seperti) peningkatan suhu dan kelembaban saat bulan-bulan musim semi dan musim panas tiba di belahan bumi utara, tidak akan serta merta menyebabkan penurunan dalam jumlah kasus tanpa penerapan intervensi kesehatan masyarakat yang luas," kata studi tersebut, yang diterbitkan pada bulan Februari dan juga sedang menunggu tinjauan ilmiah.

Pakar lain, seperti Hassan Zaraket, asisten direktur di Center for Infectious Diseases Research di American University of Beirut, mengatakan ada kemungkinan bahwa cuaca yang lebih hangat dan lebih lembab akan membuat virus Corona lebih stabil dan dengan demikian kurang menular, seperti halnya dengan patogen virus lainnya.

"Kami masih belajar tentang virus ini, tetapi berdasarkan apa yang kami ketahui tentang virus corona lain, kami bisa berharap. Ketika suhu memanas, stabilitas virus dapat menurun, jika cuaca membantu kita mengurangi transmisi dan stabilitas lingkungan dari virus, maka mungkin kita dapat memutus rantai penularan," ungkapnya.

Mike Ryan, Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), juga mendesak orang-orang untuk tidak menganggap epidemi akan mereda secara otomatis di musim panas.

"Kami harus mengasumsikan virus akan terus memiliki kapasitas untuk menyebar. Ini harapan palsu untuk mengatakan, ya, itu akan hilang seperti flu, kita tidak bisa membuat asumsi itu dan tidak ada bukti untuk memperkuat asusmsi itu," ujarnya.

Partner Sindikasi Konten: SINDOnews

Baca Juga

Tag: China (Tiongkok), COVID-19, Virus Corona, Virus 2019-nCoV

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Muhammad Syahrianto

Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 4,371.05 4,326.41
British Pound GBP 1.00 20,364.49 20,155.36
China Yuan CNY 1.00 2,315.45 2,292.02
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 16,417.68 16,254.32
Dolar Australia AUD 1.00 10,088.66 9,986.65
Dolar Hong Kong HKD 1.00 2,117.70 2,096.57
Dolar Singapura SGD 1.00 11,503.42 11,384.97
EURO Spot Rate EUR 1.00 18,217.06 18,029.29
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,774.18 3,723.78
Yen Jepang JPY 100.00 15,303.58 15,144.25
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 4414.500 -131.071 686
2 Agriculture 900.830 -34.518 22
3 Mining 1158.862 -32.969 49
4 Basic Industry and Chemicals 557.766 -28.046 77
5 Miscellanous Industry 715.479 -41.388 51
6 Consumer Goods 1561.395 -62.619 57
7 Cons., Property & Real Estate 337.556 -5.272 89
8 Infrastruc., Utility & Trans. 789.105 -4.574 79
9 Finance 979.429 -30.165 92
10 Trade & Service 573.701 -6.984 170
No Code Prev Close Change %
1 AMAN 192 258 66 34.38
2 ACST 128 172 44 34.38
3 NASA 199 250 51 25.63
4 ARTO 472 590 118 25.00
5 IBFN 240 300 60 25.00
6 PDES 490 610 120 24.49
7 CARE 244 294 50 20.49
8 IPCM 100 120 20 20.00
9 GOLD 160 192 32 20.00
10 RMBA 230 270 40 17.39
No Code Prev Close Change %
1 ZINC 200 186 -14 -7.00
2 GGRM 44,000 40,925 -3,075 -6.99
3 AMOR 2,580 2,400 -180 -6.98
4 BFIN 258 240 -18 -6.98
5 SMRA 430 400 -30 -6.98
6 TKIM 4,300 4,000 -300 -6.98
7 JSKY 86 80 -6 -6.98
8 MBAP 1,650 1,535 -115 -6.97
9 ITMG 7,900 7,350 -550 -6.96
10 LPPF 1,365 1,270 -95 -6.96
No Code Prev Close Change %
1 BBCA 27,550 27,475 -75 -0.27
2 BBRI 3,230 3,010 -220 -6.81
3 TLKM 3,090 3,140 50 1.62
4 REAL 56 54 -2 -3.57
5 KLBF 1,010 1,045 35 3.47
6 TOWR 680 635 -45 -6.62
7 UNVR 6,800 6,425 -375 -5.51
8 IPTV 390 382 -8 -2.05
9 PGAS 760 730 -30 -3.95
10 TCPI 5,000 4,840 -160 -3.20