Pengamat Nyentil Terawan: Seremoni Jamu-jamuan Itu Nyebelin, Gak Banget

Pengamat Nyentil Terawan: Seremoni Jamu-jamuan Itu Nyebelin, Gak Banget Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A

Pengamat politik sekaligus pegiat sosial, Yunarto Wijaya merespons cara Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dalam menyikapi masalah terkait virus corona. Kali ini, lebih khusus adalah saat Terawan memberikan pernyataan pers soal sembuhnya sejumlah pasien positif corona.

Dalam video yang diunggah tvOne, Terawan menyatakan rasa syukur atas kesembuhan pasien nomor satu, dua, dan tiga. Dia lantas memberikan jamu pada ketiga pasien tersebut.

"Saya ke sini sekalian membawakan oleh-oleh, buah tangan dari bapak presiden untuk bekal buat pasien nomor 1, 2, dan 3 yang sudah sehat. Bukan pasien lagi, sudah sehat. Saudara-saudara kita yang betul-betul sehat fisik maupun juga laboratorium semua sehat berupa jamu. Jadi, akan diberikan jamu, ramuan dari bapak presiden sendiri supaya bisa menjaga daya tahan tubuh dan imunitasnya supaya bisa tetap sehat terus," kata Terawan.

Baca Juga: Tanya Dokter soal Corona Gratis Lewat Aplikasi Grab

Terawan lantas menyerahkan dua buah botol jamu untuk ketiga pasien tersebut. Para pasien pun terlihat senang menerimanya. Senyum menghiasi wajah mereka.

Yunarto juga ikut bersyukur atas kesembuhan mereka. Tapi, dia kurang senang dengan seremonial pemberian jamu oleh Terawan kepada para pasien itu.

Baca Juga: Komisi VI: Segera Lockdown, Saya Gak Rela Presiden, Wapres hingga Menteri Kena Corona

"Kami bersyukur karena pasien sembuh, tapi maaf pak, seremoni jamu2an itu terasa nyebelin... Paling gak menurut saya...," tulis Yunarto melalui akun Twitter @yunartowijaya, dikutip, Selasa (17/3/2020).

Cuitan Yunarto itu kemudian ditanggapi oleh mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu. Dia setuju dengan Yunarto bahwa Menkes Terawan harus sadar Indonesia jadi sorotan dunia tentang penanganan corona dan meminta berhenti bercanda dalam hadapi persoalan serius bangsa.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Viva Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Viva. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Viva.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini