Pasien Meninggal Lebih dari 2.000 Orang, Iran Ketar-Ketir dengan Pandemi Corona Kedua

Pasien Meninggal Lebih dari 2.000 Orang, Iran Ketar-Ketir dengan Pandemi Corona Kedua Kredit Foto: Sindonews

Iran mulai takut akan terjadinya pandemi kedua virus corona baru, COVID-19. Ketakutan itu muncul ketika jumlah korban meninggal bertambah menjadi 2.077 orang.

Reaksi itu disampaikan juru bicara pemerintah, Ali Rabiei, pada hari Rabu, ketika Republik Islam Iran melarang perjalanan internal dan pertemuan di taman selama periode liburan Tahun Baru Persia atau Nowruz.

Baca Juga: Iran Laporkan Bocah 6 Tahun Meninggal karena Corona, Pertama Kalinya di Bawah Lansia

Dia kecewa dengan membandelnya para warga Iran terhadap imbauan penting terkait pencegahan penyebaran COVID-19.

"Sayangnya beberapa orang Iran telah mengabaikan saran dari pejabat Kementerian Kesehatan dan melakukan perjalanan selama liburan Tahun Baru ... Ini dapat menyebabkan gelombang kedua virus corona," kata Rabiei, seperti dikutip Reuters, Kamis (26/3/2020).

Presiden Hassan Rouhani telah mengeluarkan larangan baru terkait perjalanan antarkota."Pelanggar akan dikonfrontasi secara hukum," kata Rabiei.

Pejabat Kementerian Kesehatan Kianush Jahanpur mengatakan pandemi COVID-19 di Iran telah menewaskan 2.077 orang sejauh ini. Sebanyak 143 kematian terjadi dalam 24 jam pada Rabu kemarin.

Para pejabat telah mengeluh bahwa banyak warga Iran mengabaikan saran untuk tinggal di rumah dan membatalkan rencana perjalanan untuk liburan Tahun Baru Persia yang dimulai pada 20 Maret.

"Rencana (baru) ini ketat dan akan menciptakan kesulitan dan pembatasan untuk perjalanan, dan mendorong orang-orang yang telah melakukan perjalanan untuk pulang lebih cepat," kata Rouhani dalam sambutan yang disiarkan oleh televisi pemerintah.

Pada siaran langsung pertemuan, Rouhani mengatakan lebih banyak pembatasan akan diterapkan untuk menghambat penyebaran COVID-19 yang telah menginfeksi 27.017 orang di seluruh negeri. Pemerintah sejauh ini berhenti memaksakan lockdown di kota-kota Iran.

Presiden Rouhani mengatakan pertemuan juga akan dibatasi selama Sizdah Bedar pada 1 April, sebuah festival alam di mana warga Iran secara rutin berpiknik di luar ruangan.

"Ini adalah keputusan sulit yang diperlukan untuk melindungi kehidupan," katanya.

"Semua taman mungkin ditutup, dan Sizdah Bedar tidak akan seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi kami tidak punya pilihan selain melakukannya," ujarnya.

Pihak berwenang telah meminta warga Iran untuk menghindari tempat-tempat umum dan tinggal di rumah. Sedangkan sekolah, universitas, pusat budaya dan olahraga di seluruh negeri ditutup sementara.

Rouhani mengatakan langkah-langkah baru akan dilaksanakan selama 15 hari hingga 4 April. Setelah keadaan normal, sekolah-sekolah akan dibuka lagi.

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini