Portal Berita Ekonomi Jum'at, 05 Juni 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 22:29 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,48% terhadap Yen pada level 109,67 JPY/USD.
  • 22:28 WIB. Valas - Dollar AS melemah 1,00% terhadap Poundsterling pada level 1,2723 USD/GBP.
  • 22:27 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,18% terhadap Euro pada level 1,1318 USD/EUR.
  • 22:26 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.676 USD/troy ounce.
  • 22:25 WIB. Oil - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 42,08 USD/barel.
  • 22:25 WIB. Oil - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 39,16 USD/barel.
  • 22:24 WIB. Bursa - Indeks Dow Jones dibuka positif 3,50% pada level 27.202.
  • 22:23 WIB. Bursa - Indeks S&P 500 dibuka positif 2,68% pada level 3.195.
  • 22:22 WIB. Bursa - Indeks Nasdaq dibuka positif 1,89% pada level 9.797.
  • 16:11 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,30% terhadap Yuan pada level 7,08 CNY/USD.
  • 16:09 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup positif 0,74% pada level 22.863.
  • 16:09 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng ditutup positif 1,66% pada level 24.770.
  • 16:08 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup menguat 1,67% pada level 2.752.
  • 16:07 WIB. Bursa - Indeks Shanghai ditutup menguat 0,40% pada level 2.930.
  • 16:07 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup positif 1,43% pada level 2.181.

Lockdown Bikin Angka Perceraian di China Meningkat, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Lockdown Bikin Angka Perceraian di China Meningkat, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
WE Online, Beijing -

Angka perceraian di China meningkat setelah masa lockdown mulai ditanggalkan. Banyak pasangan selama masa karantina menghabiskan waktu bersama dan justru menimbulkan ketidakcocokan yang berbuah pada pertengkaran hebat.

Meskipun China menerbitkan statistik nasional tentang perceraian hanya setiap tahun, laporan media dari berbagai kota menunjukkan perpisahan melonjak pada Maret.

Baca Juga: Australia Ikut Ragu Soal Penyembunyian Fakta-fakta Wabah Corona oleh China

Insiden kekerasan dalam rumah tangga juga berlipat ganda. Tren ini bisa menjadi peringatan yang tidak menyenangkan dari banyak waktu yang dihabiskan bersama dalam jarak dekat.

Kota Xian, di China tengah, dan Dazhou, di provinsi Sichuan, melaporkan jumlah pengajuan perceraian yang tinggi pada awal Maret. Kondisi ini menyebabkan tumpukan panjang di kantor-kantor pemerintah.

Sedangkan kota Miluo provinsi Hunan melaporkan, anggota staf bahkan tidak punya waktu untuk minum karena begitu banyak pasangan yang mengantre.

"Masalah sepele dalam hidup menyebabkan eskalasi konflik, dan komunikasi yang buruk telah menyebabkan semua orang kecewa dalam pernikahan dan membuat keputusan untuk bercerai," kata direktur pusat pendaftaran kota, Yi Xiaoyan, dikutip dari Bloomberg.

Pengacara perceraian Shanghai Steve Li di Gentle & Trust Law Firm mengatakan, beban kasusnya telah meningkat 25 persen sejak penutupan kota mereda pada pertengahan Maret. Perselingkuhan dulu menjadi alasan nomor satu klien muncul di pintu kantornya, tetapi tren kali ini berbeda.

"Semakin banyak waktu yang mereka habiskan bersama, semakin mereka saling membenci. Orang-orang membutuhkan ruang. Bukan hanya untuk pasangan, ini berlaku untuk semua orang," kata Li tentang kasus-kasus barunya.

Tingkat perceraian China terus meningkat sejak 2003. Lebih dari 1,3 juta pasangan bercerai setahun. Menurut statistik dari Kementerian Urusan Sipil, jumlahnya meningkat secara bertahap selama 15 tahun, memuncak pada 4,5 juta pada 2018. Tahun lalu, 4,15 juta pasangan China melepaskan ikatan.

Sementara itu, media China telah dipenuhi dengan laporan perselisihan suami istri. Publikasi daring yang berbasis di Shanghai, Sixth Tone melaporkan, polisi di satu daerah sepanjang Sungai Yangtze di provinsi Hubei tengah, menerima 162 laporan kekerasan dalam rumah tangga pada Februari.

Jumlah itu tiga kali lebih banyak daripada laporkan pada bulan yang sama pada 2019 dengan jumlah 47.

Salah satu pendiri Equality, sebuah organisasi non-pemerintah di Beijing yang berfokus pada kekerasan berbasis gender, Feng Yuan mengatakan, ada peningkatan dalam permintaan bantuan kepada organisasinya.

"Lockdown memunculkan kecenderungan untuk kekerasan yang ada di sana tetapi tidak keluar," ujarnya.

Polisi sangat sibuk menegakkan karantina sehingga kadang-kadang tidak dapat menanggapi panggilan darurat dari korban kekerasan. Yuan menyatakan, perempuan yang mengalami kekerasan tidak dapat pergi dan pengadilan yang biasanya mengeluarkan perintah perlindungan ditutup.

Bahkan ketika epidemi mereda dan kehidupan dapat kembali ke keadaan normal di China, ketegangan psikologis dan ekonomi diperkirakan akan bertahan selama berbulan-bulan.

Sebuah penelitian terhadap orang-orang di Hong Kong setelah epidemi Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) 2002-2003 menunjukan hal tersebut.

"Satu tahun setelah wabah, para korban SARS masih mengalami peningkatan tingkat stres dan tingkat kecemasan psikologis yang mengkhawatirkan," ujar penelitian tersebut.

Masalah psikologi yang timbul termasuk depresi dan kecemasan. Hal ini mendorong perceraian pada populasi umum Hong Kong pada 2004 mencapai 21 persen lebih tinggi dari 2002.

Meski data menunjukkan banyak pengajuan cerai terjadi di China akibat pandemi, beberapa pasangan telah menemukan kembali kebahagiaan pernikahan.

"Karantina rumah dan jarak sosial telah mengingatkan saya betapa saya mencintai orang yang saya nikahi," kata Rachel Smith, seorang seniman Kanada di Hong Kong.

Seiring waktu setelah menikah, pasangan itu mulai sibuk mengejar karier dan kegiatan terpisah, menyisakan sedikit waktu luang untuk mereka berdua. Sekarang, ketika mereka bekerja di komputer rumah ketika karantina terjadi, mereka secara teratur beristirahat untuk mengobrol.

"Ternyata saya sangat suka menghabiskan waktu bersama. Itu adalah kejutan yang menyenangkan," ujar Smith.

Partner Sindikasi Konten: Republika

Baca Juga

Tag: China (Tiongkok), Xi Jinping, Perceraian, COVID-19, Virus Corona, Virus 2019-nCoV

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Muhammad Syahrianto

Foto: (Foto: Reuters)

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,774.27 3,735.72
British Pound GBP 1.00 17,840.66 17,661.74
China Yuan CNY 1.00 1,992.25 1,972.18
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,170.50 14,029.50
Dolar Australia AUD 1.00 9,848.50 9,749.10
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,828.43 1,810.21
Dolar Singapura SGD 1.00 10,141.34 10,035.41
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,050.93 15,889.81
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,317.06 3,277.92
Yen Jepang JPY 100.00 12,990.92 12,860.48
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 4947.782 31.078 693
2 Agriculture 1005.979 2.246 22
3 Mining 1279.030 9.869 49
4 Basic Industry and Chemicals 756.813 -4.797 78
5 Miscellanous Industry 899.382 35.666 52
6 Consumer Goods 1816.718 -5.780 58
7 Cons., Property & Real Estate 342.717 5.540 90
8 Infrastruc., Utility & Trans. 906.783 3.973 78
9 Finance 1031.378 8.454 93
10 Trade & Service 615.344 6.666 173
No Code Prev Close Change %
1 JAST 102 137 35 34.31
2 FOOD 85 114 29 34.12
3 MTSM 138 185 47 34.06
4 CMNP 1,500 1,875 375 25.00
5 SAPX 1,460 1,825 365 25.00
6 TECH 216 270 54 25.00
7 IMAS 520 645 125 24.04
8 TPMA 226 276 50 22.12
9 OASA 318 386 68 21.38
10 INPP 705 855 150 21.28
No Code Prev Close Change %
1 DPUM 100 93 -7 -7.00
2 NATO 432 402 -30 -6.94
3 JAWA 73 68 -5 -6.85
4 INPS 2,920 2,720 -200 -6.85
5 KBLV 470 438 -32 -6.81
6 MPRO 890 830 -60 -6.74
7 TMPO 149 139 -10 -6.71
8 NIRO 150 140 -10 -6.67
9 MARI 135 126 -9 -6.67
10 INCI 394 368 -26 -6.60
No Code Prev Close Change %
1 PURA 77 74 -3 -3.90
2 BBRI 3,060 3,110 50 1.63
3 TLKM 3,300 3,230 -70 -2.12
4 PWON 414 462 48 11.59
5 BBCA 28,950 28,625 -325 -1.12
6 BBTN 975 1,055 80 8.21
7 BMRI 4,730 4,850 120 2.54
8 TOWR 1,015 1,065 50 4.93
9 PGAS 955 1,030 75 7.85
10 BBNI 4,140 4,250 110 2.66