Portal Berita Ekonomi Rabu, 15 Juli 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:08 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng ditutup melemah 1,14% pada level 25.477.
  • 16:07 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup negatif 0,11% pada level 2.183.
  • 16:07 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup melemah 0,87% pada level 22.587.
  • 16:06 WIB. Bursa - Indeks Shanghai ditutup negatif 0,83% pada level 3.414.
  • 16:05 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup melemah 0,16% pada level 2.626.
  • 16:05 WIB. Bursa - Indeks FTSE 100 dibuka negatif 0,46% pada level 6.147.
  • 16:04 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,29% terhadap Yuan pada level 7,01 CNY/USD.
  • 16:04 WIB. Valas - Rupiah ditutup melemah 0,17% terhadap Dollar AS pada level 14.450 IDR/USD.

Iran Manfaatkan Situasi Pandemi Corona untuk Kembangkan Program Nuklir, Benarkah?

Iran Manfaatkan Situasi Pandemi Corona untuk Kembangkan Program Nuklir, Benarkah?
WE Online, Jakarta -

Iran saat ini menghadapi dua krisis. Sanksi yang memutus akses Iran dari pasar global, telah membuat ekonomi negara itu bertekuk lutut. Iran juga menghadapi bencana kesehatan masyarakat akut imbas epidemi virus corona yang terus menyebar.

Beberapa ahli bahkan memperkirakan COVID-19 berpotensi membunuh sebanyak 3,5 juta orang di Iran.

Baca Juga: Pabrik Masker Baru Milik Iran Didirikan di Bekas Kedubes AS

Namun, terlepas dari adanya belenggu keadaan ekstrem ini, Iran tampaknya tetap melanjutkan program nuklirnya.

Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka sedang mengembangkan alat pemisah (centrifuge) yang lebih canggih untuk pengayaan uranium, jauh melampaui level yang diizinkan oleh kesepakatan nuklir 2015 atau Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

Pada Mei 2018 lalu, Amerika Serikat (AS) mundur dari perjanjian itu dan memutuskan penerapan kembali sanksi ekonomi terhadap Iran dan mitra dagangnya. Sebagai tanggapan, Iran mengatakan bahwa negaranya tidak akan lagi mematuhi batasan-batasan pengembangan nuklir yang tertuang dalam kesepakatan itu.

Sanksi AS menyulitkan Iran dalam mengimpor barang-barang yang dibutuhkan, termasuk peralatan medis. Bank tidak bersedia membiayai transaksi perdagangan yang berhubungan dengan Iran karena khawatir terkena denda dari AS.

Untuk mengatasi hal ini, trio Eropa yaitu Prancis, Jerman dan Inggris akhirnya mendirikan INSTEX, atau Instrumen untuk Mendukung Pertukaran Perdagangan. Ini menjadi semacam mekanisme pembiayaan “jalur belakang” yang memungkinkan perusahaan-perusahaan Eropa melakukan bisnis dengan Iran, dan menghindari sanksi AS.

Pada Selasa (1/4/2020), INSTEX untuk pertama kalinya telah digunakan untuk memfasilitasi ekspor perangkat medis ke Iran.

Manfaatkan pandemi untuk tingkatkan program nuklir?

Ketika bantuan asing datang untuk membantu Iran yang menderita akibat COVID-19, ada indikasi bahwa negara tersebut mulai menggunakan krisis virus corona sebagai pembenaran untuk mengembangkan bahan bakar nuklirnya.

Kepala AEOI, Ali Akbar Salehi mengatakan bahwa agensi tersebut menggunakan sinar gamma untuk disinfeksi masker, sarung tangan dan peralatan medis lainnya. Ia menyebut sinar gamma tersebut hanya dapat diproduksi di reaktor nuklir saja.

Namun, mantan penasihat Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dan fisikawan Iran Behrooz Bayat, mengatakan disinfeksi perangkat medis tidak dapat dijadikan alasan sah bagi Iran untuk melanjutkan program nuklirnya.

“Meskipun benar bahwa radiasi gamma dapat digunakan untuk mensterilkan masker dan sarung tangan medis, sejauh mana penggunaanya bisa efektif dalam melawan COVID-19 secara langsung masih dipertanyakan,” kata Bayat.

“Strategi Salehi adalah untuk memperlihatkan bahwa program nuklir rezim ini digunakan untuk tujuan yang baik,” tambahnya.

Di saat yang sama, Salehi tahu bahwa minat publik Iran dalam program nuklir semakin berkurang. Iran terus bersikeras bahwa teknolog nuklir ini hanya difokuskan pada penggunaan sipil.

"Pada prinsipnya, alat pemisah yang bekerja lebih cepat tidak bertentangan dengan penggunaan sipil, tetap mereka melanggar perjanjian nuklir internasional,” kata Bayat.

Ancaman ‘rahasia’ nuklir Iran

JCPOA berjanji memberikan keringanan sanksi sebagai imbalan jika Iran membatasi pengayaan uraniumnya ke tingkat yang lebih rendah.

Keringanan sanksi juga akan diberikan jika Iran mengizinkan inspeksi internasional untuk memverifikasi bahwa Iran benar-benar tidak mengembangkan senjata nuklir.

Ditandatangani pada tahun 2015 oleh Jerman dan lima kekuatan permanen di Dewan Keamanan PBB, JCPOA ini dimaksudkan untuk memastikan Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir di masa mendatang. Sebagai gantinya, kelonggaran sanksi akan diberikan untuk membuka jalan bagi Iran kembali ke ekonomi global.

Namun, satu tahun setelah AS secara sepihak mengakhiri perjanjian di tahun 2018, dan mengembalikan sanksi ekonomi terhadap Iran dan mitra dagangnya, Iran mengumumkan bahwa mereka akan menarik diri sebagian dari perjanjian tersebut.

Dengan absennya manfaat ekonomi yang dijanjikan di tahun 2015, Iran pun memberikan tekanan bagi negara-negara penandatangan lainnya.

“Program nuklir Iran dirancang sebagai pencegah. Rezim sekarang tidak memiliki cara untuk melawan pelanggaran AS terhadap kewajiban dalam kesepakatan,” kata Bayat.

Menurut fisikawan itu, percepatan program melalui modernisasi fasilitas sentrifugasi dapat dilihat sebagai “ancaman terselubung untuk mengejar pengembangan bom atom”.

Centrifuge atau alat pemisah yang lebih cepat akan membuat proses pengayaan uranium Iran lebih efektif, dan waktu yang dibutuhkan ntuk menghasilkan senjata uranium pun menjadi lebih singkat.

Sedikit kerja sama

Menurut laporan terbaru Komisi Energi Atom (IAEA), Iran telah memperbanyak hampir tiga kali lipat total jumlah uranium hasil pengayaan level rendahnya, yang awalnya 372,3 kilogram pada November tahun lalu, menjadi 1020,9 kilogram pada 19 Februari.

Jumlah ini melebihi batas 300 kilogram yang ditetapkan dalam JCPOA. Para ahli mengatakan kondisi ini memampukan Iran untuk memproduksi uranium yang cukup dalam pengembangan senjata nuklir.

Kepala IAEA Rafael Grossi meminta Iran untuk melanjutkan kerja sama penuh setelah Iran menolak akses pengawas ke dua instalasi nuklirnya pada Januari, demikian menurut laporan terbaru IAEA.

Sementara, otoritas Iran menyatakan bahwa pihaknya tidak memiliki kewajiban apapun untuk memberikan informasi.

“Kami telah menjawab pertanyaan IAEA,” kata duta besar IAEA Iran pada 20 Maret.

Ia menambahkan bahwa Iran akan terus bekerja sama secara intensif dengan IAEA. Meski begitu, duta besar tersebut mengatakan bahwa Iran tidak akan menerima tuduhan ketidakpatuhan yang dilakukan bersama-sama dengan AS dan Israel.

Partner Sindikasi Konten: Viva

Baca Juga

Tag: Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Hassan Rouhani, COVID-19, Virus Corona, Virus 2019-nCoV

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Muhammad Syahrianto

Foto: Reuters/Heinz-Peter Bader

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,888.90 3,849.18
British Pound GBP 1.00 18,294.87 18,111.39
China Yuan CNY 1.00 2,081.25 2,059.36
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,584.56 14,439.44
Dolar Australia AUD 1.00 10,115.85 10,013.75
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,881.68 1,862.94
Dolar Singapura SGD 1.00 10,472.15 10,367.20
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,538.89 16,369.99
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,417.59 3,379.23
Yen Jepang JPY 100.00 13,605.00 13,465.86
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5079.122 14.675 696
2 Agriculture 1082.119 3.406 23
3 Mining 1314.351 -11.407 48
4 Basic Industry and Chemicals 779.246 11.753 80
5 Miscellanous Industry 890.379 7.993 52
6 Consumer Goods 1834.167 20.790 57
7 Cons., Property & Real Estate 311.880 -3.266 92
8 Infrastruc., Utility & Trans. 889.143 -3.438 78
9 Finance 1118.444 0.879 93
10 Trade & Service 605.111 -0.592 173
No Code Prev Close Change %
1 INDO 118 159 41 34.75
2 WOWS 50 67 17 34.00
3 AGRO 154 206 52 33.77
4 NIKL 500 625 125 25.00
5 SMBR 328 410 82 25.00
6 UANG 550 685 135 24.55
7 PNSE 675 840 165 24.44
8 MBTO 64 79 15 23.44
9 DADA 88 104 16 18.18
10 KMTR 238 274 36 15.13
No Code Prev Close Change %
1 TALF 230 214 -16 -6.96
2 INCI 505 470 -35 -6.93
3 TCPI 3,480 3,240 -240 -6.90
4 HDFA 160 149 -11 -6.88
5 TNCA 160 149 -11 -6.88
6 CENT 102 95 -7 -6.86
7 POLL 5,100 4,750 -350 -6.86
8 DNAR 268 250 -18 -6.72
9 CANI 150 140 -10 -6.67
10 SOFA 90 84 -6 -6.67
No Code Prev Close Change %
1 BRIS 482 490 8 1.66
2 PURA 117 121 4 3.42
3 DOID 210 216 6 2.86
4 KAEF 1,195 1,340 145 12.13
5 BBRI 3,160 3,170 10 0.32
6 TOWR 1,065 1,065 0 0.00
7 INDY 930 920 -10 -1.08
8 TLKM 3,090 3,080 -10 -0.32
9 INAF 1,025 1,180 155 15.12
10 PTBA 2,170 2,140 -30 -1.38