5 Sektor dengan Risiko PHK Tinggi Akibat Corona, Pekerja Mesti Waspada!

5 Sektor dengan Risiko PHK Tinggi Akibat Corona, Pekerja Mesti Waspada! Kredit Foto: Istimewa

Wabah corona telah berdampak signifikan terhadap ekonomi global dan nasional. Tak ayal, kecemasan terhadap lahirnya krisis yang berujung pemecatan masif pun muncul di kalangan pekerja berbagai sektor.

Pertanyaannya, sektor apa saja yang berpotensi tinggi melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) di tengah pandemi dengan dampak luas seperti COVID-19?

Untuk menjawabnya, Warta Ekonomi mencoba mengumpulkan data dan informasi dari berbagai sumber. Berikut ini sektor-sektor yang berpotensi menggelar PHK akibat krisis yang timbul karena corona:

Baca Juga: Dampak Corona, 9 Perusahaan Ini PHK Ribuan Karyawan, No. 8 Anak Usaha Garuda Indonesia!

1. Tekstil

Industri tekstil dilaporkan kesulitan mencari bahan baku tekstil dalam negeri, karena telah mengandalkan China sebagai pemasok utama, menurut Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API).

"Sudah terdapat kendala (akibat corona), khususnya untuk bahan baku seperti: benang, zat warna, dan kain," kata Sekjen API, Rizal Tanzil pada pekan ketiga Maret.

Sementara itu, produksi di pabrik terus dilaksanakan dengan bahan baku yang tersedia. Jika stok bahan baku habis, maka produksi pada Maret, bahkan ekspor pada April ini akan terdampak.

Bila hal itu terjadi, produsen menyebut akan mengurangi jam kerja hingga potensi merumahkan para karyawan secara bergantian. Jika para buruh digaji per jam, otomatis bayaran yang mereka terima akan berkurang.

2. Manufaktur

Sama seperti sektor tekstil, industri manufaktur juga menerapkan skenario yang sama untuk mengatasi krisis di tengah pandemi: mengurangi jam kerja para karyawan dengan menerapkan sistem pembagian jadwal kerja. Karena itu, arus kas terganggu dan produksi tidak maksimal.

Melansir Katadata.co.id, salah satu buruh pabrik di Jombang, Nurmayanti harus rela dibayar setengah dari gajinya dalam sebulan karena pengurangan jam kerja itu. "Belum di-PHK saja (sudah) syukur," ceritanya pada Senin (30/3/2020).

Masalah di industri manufaktur juga terletak pada penyusutan bahan baku karena pasokan China terdampak corona. Jumlah impor seluruh golongan barang menurun pada Februari, dibandingkan sebulan sebelumnya, berdasarkan data BPS.

Data itu menyebut, impor produk konsumsi anjlok 39,91% menjadi US$881,7 juta. Begitu pula dengan impor bahan baku yang berkurang 15,89% jadi US$8,89 miliar, dan barang modal menurun 18,03% menjadi US$1,83 miliar.

3. Pariwisata dan Hospitality

Menurut Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), ada sekitar 698 hotel yang ditutup akibat corona. Tak cuma hotel, restoran pun mendapat pukulan yang cukup besar hingga tutup satu per satu.

PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) mencatat, rata-rata okupansi hotel mulai awal Maret hanya berada di angka 30% karena turunnya wisman, mencakup wilayah Bali, batam, dan Manado.

Seolah makin parah, tingkat sewa ruang hotel--utamanya di Bali--telah masuk ke angka 0% dalam waktu kurang dari sebulan.

Para agen travel pun turut merasakan dampak serupa. Sejak ada corona, terjadi penurunan penjualan yang akhirnya berdampak terhadap jalannya perusahaan. Pada akhirnya, hal-hal itu bisa berujung pada efisiensi sumber daya, bila pengurangan jam kerja sudah dinilai tak efektif lagi.

4. Penerbangan

Tahukah Anda, berbagai maskapai penerbangan di Amerika Serikat memutuskan untuk melakukan PHK sementara ataupun cuti tanpa tunjangan, akibat wabah corona.

Mengapa? Sebab, dengan banyaknya negara yang menerapkan kebijakan lockdown, jumlah penerbangan masuk dan keluar pun dikurangi. Pada akhirnya, para maskapai mesti mengurangi jumlah penerbangan mereka.

Air Canada jadi salah satu maskapai yang sudah memberhentikan 5.100 awak kabin karena penerbangan pada April ini menurun hampir 80%.

Di Indonesia sendiri, jumlah penumpang lokal transportasi udara berkurang 8,08% pada Februari 2020 daripada sebulan sebelumnya. Angkanya menurun dari 6,29 juta penumpang menjadi 5,79 juta. Di penerbangan internasional, penurunannya lebih besar, yakni 33,04%.

5. Ritel

Bukan cuma terancam PHK, sebagian pemain di industri ritel internasional bahkan telah mengambil langkah untuk melakukan itu. Contohnya, H&M sedang mempertimbangkan untuk merumahkan ribuan karyawan karena telah menutup 3.441 dari 5.062 tokonya di dunia.

Di Negara Kangguru, Uniqlo sudah menutup 22 tokonya, begitu juga para peritel lokal. Penutupan toko seperti itu berisiko membuat para pekerja di toko tak bisa bekerja seperti biasa.

Jika keadaan memburuk, maka mereka terancam menjadi korban PHK.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini