Portal Berita Ekonomi Sabtu, 06 Juni 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 10:58 WIB. Bursa - Indeks Nasdaq ditutup positif 2,06% pada level 9.814.
  • 10:57 WIB. Bursa - Indeks Dow Jones ditutup positif 3,15% pada level 27.110.
  • 10:56 WIB. Bursa - Indeks S&P 500 ditutup positif 2,64% pada level 3.193.
  • 10:55 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.685 USD/troy ounce.
  • 10:54 WIB. Oil - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 42,30 USD/barel.
  • 10:53 WIB. Oil - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 39,55 USD/barel.

Organisasi Asal Inggris Sarankan Internasional Tuntut China Rp64.744 Triliun, Kenapa?

Organisasi Asal Inggris Sarankan Internasional Tuntut China Rp64.744 Triliun, Kenapa?
WE Online, London -

Organisasi think tank di Inggris dalam laporannya mengatakan China harus dituntut untuk membayar kompensasi sebesar £3,2 triliun atas pandemi global coronavirus disease-19 (COVID-19). Angka kompensasi jika dikurskan Rupiah saat ini mencapai Rp64.744.466.436.905.600.

Organisasi think tank konservatif Inggris, The Henry Jackson Society, dalam laporan berjudul "Coronavirus Compensation?" mengatakan besaran tuntutan kompensasi itu baru dari gabungan negara-negara Kelompok Tujuh (G-7) saja.

Baca Juga: Data Baru WHO Bilang 75% Pasien Tanpa Gejala di China Rupanya Tunjukkan Tanda Terjangkit Virus

Kelompok itu menyalahkan Beijing atas pandemi COVID-19 yang telah menyebabkan puluhan ribu kematian dan menghancurkan ekonomi global. Fakta bahwa virus itu terdeteksi atau pertama kali muncul dan mewabah di Wuhan, Provinsi Hubei, China, pada Desember 2019.

Penulis laporan Matius Henderson, Dr Alan Mendoza, Dr Andrew Foxall, James Rogers dan Sam Armstrong mengkritisi penanganan awal pemerintah China terhadap penyakit tersebut.

"China gagal untuk melaporkan informasi secara memadai kepada WHO tentang wabah itu," bunyi laporan mereka, seperti dikutip news.com.au, Senin (6/4/2020).

Tindakan itu, kata mereka, melanggar beberapa pasal atau artikel dari Peraturan Kesehatan Internasional, di mana China menjadi negara yang ikut menandatanganinya.

Organisasi itu mengklaim pelanggaran Beijing tersebut memungkinkan virus menyebar dengan cepat di luar Wuhan dan bahwa penelitiannya menemukan empat bidang utama yang menjadi perhatian.

Lebih lanjut, organisasi tersebut menuduh pemerintah China gagal mengungkapkan data yang akan menunjukkan bukti penularan dari manusia ke manusia untuk jangka waktu hingga tiga minggu dari menyadarinya. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) salah memberikan informasi tentang tingkat infeksi dari 2 Januari 2020 hingga 11 Januari 2020.

Laporan organisasi tersebut mengklaim pihak berwenang China mengizinkan lima juta orang untuk meninggalkan Wuhan sebelum melakukan lockdown pada 23 Januari, dan gagal melarang "vektor yang dapat dihindari" dari infeksi virus yang berasal dari hewan yang mematikan.

Organisasi The Henry Jackson Society berpendapat kurangnya informasi dari China menunda respons terhadap virus, seperti travel screening.

Argumen itu mengutip sebuah studi University of Southampton yang sebelumnya menemukan penyebaran COVID-19 akan berkurang sebesar 95 persen seandainya langkah-langkah karantina yang ketat diperkenalkan hanya tiga minggu sebelumnya.

Sebagai akibat dari dugaan pelanggaran tersebut, organisadi di Inggris itu mengatakan China dapat menghadapi potensi tuntutan kompensasi yang besar, termasuk £351 miliar dari Inggris dan £29,9 miliar dari Australia.

Bahkan, pengacara internasional untuk publik kemungkinan akan memanfaatkan klausa yang relevan untuk menegakkan norma internasional dan memaksa China untuk membayar kompensasi.

“Partai Komunis China (CCP) tidak mendapat pelajaran dari kegagalannya dalam epidemi SARS tahun 2002-2003. Kesalahan berulang-ulang, kebohongan dan disinformasi mereka, sejak awal epidemi COVID-19, telah memiliki konsekuensi yang jauh lebih mematikan," kata Matthew Henderson, salah satu penulis laporan organisasi tersebut.

“Laporan ini tidak menyalahkan orang-orang China atas apa yang telah terjadi. Mereka adalah korban yang tidak bersalah, seperti kita semua. Ini adalah kesalahan CCP."

“Bagaimana ini akan diterjemahkan ke dalam praktik, waktu akan tahu. Dengan menghitung biaya kerusakan ekonomi dan merakit serangkaian proses hukum yang memungkinkan di mana aturan berdasarkan aturan dapat meminta bantuan, kami menawarkan perasaan bagaimana dunia yang bebas dapat mencari balasan atas kerugian yang mengerikan yang telah dilakukan CCP," paparnya.

Sementara itu, agen-agen intelijen Amerika Serikat telah mengajukan laporan rahasia ke Gedung Putih minggu lalu di mana mereka menyimpulkan kematian dan infeksi akibat wabah di China itu sengaja dilaporkan kurang dari yang sebenarnya.

Penghitungan yang dilaporkan secara resmi oleh Beijing adalah sekitar 82.000 kasus dan 3.300 kematian sejak wabah itu ditemukan pada bulan Desember 2019. Namun, laporan intelijen AS menyimpulkan bahwa jumlah kasus infeksi dan angka kematian itu adalah "kebohongan".

Penasihat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson juga mengklaim angka-angka China mungkin diragukan secara signifikan.

Pemerintah belum berkomentar atas laporan organisasi think tank Inggris tersebut. Namun, Beijing pada pekan lalu marah atas laporan intelijen Amerika yang menyimpulkan China berbohong soal jumlah kasus infeksi dan jumlah kematian akibat pandemi COVID-19 di negeri Tirai Bambu.

Partner Sindikasi Konten: SINDOnews

Baca Juga

Tag: Inggris, China (Tiongkok), COVID-19, COVID-19, Virus Corona, Virus 2019-nCoV

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Muhammad Syahrianto

Foto: Reuters/China Daily

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,774.27 3,735.72
British Pound GBP 1.00 17,840.66 17,661.74
China Yuan CNY 1.00 1,992.25 1,972.18
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,170.50 14,029.50
Dolar Australia AUD 1.00 9,848.50 9,749.10
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,828.43 1,810.21
Dolar Singapura SGD 1.00 10,141.34 10,035.41
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,050.93 15,889.81
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,317.06 3,277.92
Yen Jepang JPY 100.00 12,990.92 12,860.48
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 4947.782 31.078 693
2 Agriculture 1005.979 2.246 22
3 Mining 1279.030 9.869 49
4 Basic Industry and Chemicals 756.813 -4.797 78
5 Miscellanous Industry 899.382 35.666 52
6 Consumer Goods 1816.718 -5.780 58
7 Cons., Property & Real Estate 342.717 5.540 90
8 Infrastruc., Utility & Trans. 906.783 3.973 78
9 Finance 1031.378 8.454 93
10 Trade & Service 615.344 6.666 173
No Code Prev Close Change %
1 JAST 102 137 35 34.31
2 FOOD 85 114 29 34.12
3 MTSM 138 185 47 34.06
4 CMNP 1,500 1,875 375 25.00
5 SAPX 1,460 1,825 365 25.00
6 TECH 216 270 54 25.00
7 IMAS 520 645 125 24.04
8 TPMA 226 276 50 22.12
9 OASA 318 386 68 21.38
10 INPP 705 855 150 21.28
No Code Prev Close Change %
1 DPUM 100 93 -7 -7.00
2 NATO 432 402 -30 -6.94
3 JAWA 73 68 -5 -6.85
4 INPS 2,920 2,720 -200 -6.85
5 KBLV 470 438 -32 -6.81
6 MPRO 890 830 -60 -6.74
7 TMPO 149 139 -10 -6.71
8 NIRO 150 140 -10 -6.67
9 MARI 135 126 -9 -6.67
10 INCI 394 368 -26 -6.60
No Code Prev Close Change %
1 PURA 77 74 -3 -3.90
2 BBRI 3,060 3,110 50 1.63
3 TLKM 3,300 3,230 -70 -2.12
4 PWON 414 462 48 11.59
5 BBCA 28,950 28,625 -325 -1.12
6 BBTN 975 1,055 80 8.21
7 BMRI 4,730 4,850 120 2.54
8 TOWR 1,015 1,065 50 4.93
9 PGAS 955 1,030 75 7.85
10 BBNI 4,140 4,250 110 2.66