Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Saat WFH, Wartawan Perlukan Konferensi Pers Daring

Saat WFH, Wartawan Perlukan Konferensi Pers Daring Kredit Foto: (Foto: Shutterstock)
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah pandemi Covid-19, sebagian besar wartawan juga melakukan work from home (WFH). Untuk mendapatkan informasi sebagai bahan berita, wartawan mengikuti konferensi pers dalam jaringan (daring) menjadi preferensi utama dan siaran pers.

Selain itu, apa yang dibutuhkan wartawan? Imogen Communication Institute (ICI) melakukan studi riset bertajuk "Apa yang Media Butuhkan selama WFH" yang dirilis April 2020. Riset tersebut melibatkan 115 jurnalis media massa di 10 kota Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Palembang, Medan, Pekanbaru, Makassar, Banjarmasin, dan Samarinda dengan metode kuantitatif maupun kualitatif.

Baca Juga: PWI Larang Wartawan Meliput Tanpa Protokol Kesehatan

Dari total responden, 61,4% memilih konferensi pers daring saat work from home (WFH) karena masih memungkinkan mereka bertanya langsung kepada narasumber melalui kolom komentar atau live chat. Sementara, 28,7% lebih memilih metode menerima siaran pers dan 9,9% memilih siaran pers berupa video streaming.

Direktur Imogen Communication Institute, Widi Wahyu Widodo, mengatakan bahwa para wartawan sangat membutuhkan informasi langsung dari narasumber, khususnya ketika narasumber dalam konferensi pers daring adalah ahli atau tokoh yang relevan dan kredibel dengan situasi sekarang, apalagi, jika mereka cukup sulit untuk dihubungi secara pribadi. Konferensi pers daring bisa menjadi sarana bagi wartawan untuk bertanya langsung selama sesi tanya jawab.

Dalam riset tersebut ditemukan pula bahwa medium yang digunakan untuk konferensi pers daring cukup beragam, seperti Youtube streaming, Live Instagram, Zoom Meeting, dan Google Meet. Namun, sebagian besar lebih memilih Youtube dan Zoom yang memiliki fitur live chat.

"Konferensi pers daring yang sudah berlangsung juga bisa ditonton kembali dengan adanya fitur recording," jelas Widi.

Namun demikian, beberapa kendala seperti sinyal internet yang tidak stabil dan kuota internet yang cukup besar membuat 28,7% wartawan yang memilih lebih senang menerima siaran pers. Bayangkan jika sehari ada 5 konferensi daring, wartawan membutuhkan kuota internet yang memerlukan biaya yang lebih besar di tengah situasi seperti ini.

Widi melanjutkan, idealnya dalam konferensi pres daring siaran pers dapat dibagikan melalui pesan Whatsapp atau email segera setelah jurnalis masuk ke room meeting. Hal ini agar mereka bisa mengeksplorasi pertanyaan dan angle lainnya yang dibutuhkan. Press release juga membantu jurnalis jika koneksi tidak stabil, suara narasumber tidak jelas, ketinggalan materi, atau kendala teknis lain sehingga mereka tetap mendapatkan informasi yang tepat.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI), Jojo S. Nugroho, menyayangkan beberapa pihak yang masih menyelenggarakan konferensi pers offline dan sebagian besar penyelenggaranya dari kalangan pemerintahan. Profesi wartawan yang harus meliput pemberitaan setiap hari sangat rentan terhadap paparan virus Covid-19 jika banyak konferensi pers masih digelar secara offline.

"Konferensi pers tentang Covid-19, tapi wartawan yang meliput berdesakan tidak bisa menjaga jarak. Ini kan bertentangan dengan kebijakan pemerintah sendiri yang mengampanyekan #dirumahsaja dan menjaga jarak atau physical distancing," tegas Jojo.

APPRI sudah mengimbau seluruh agency public relations agar tidak lagi menyelenggarakan konferensi pers offline dan memanfaatkan teknologi daring untuk membuat kegiatan media. APPRI merekomendasikan kepada semua pihak bila membutuhkan konferensi pers, lakukanlah secara daring, mengingat jurnalis memiliki kendala dalam mencari berita di lapangan dalam kondisi WFH. Hal ini sejalan dengan instruksi pemerintah dalam memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

"Untuk meminimalisasi gangguan teknis dan kendala yang mungkin terjadi, perlu adanya SOP yang menjadi pedoman pelaksanaan konferensi pers daring sehingga narasumber tetap bisa menyampaikan pesan dengan jelas kepada media," jelasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Agus Aryanto
Editor: Puri Mei Setyaningrum

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: