Pakar Desak Pemerintah Atasi Dampak dari Produk Tinggi Kandungan Gula dalam Bansos

Pakar Desak Pemerintah Atasi Dampak dari Produk Tinggi Kandungan Gula dalam Bansos Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar

Di tengah pandemi virus corona atau Covid-19, jumlah pengangguran dan angka kemiskinan Indonesia diprediksi bisa naik. Bahkan, dalam skenario terberat jumlah warga miskin diperkirakan bisa bertambah 3,78 juta orang dan pengangguran bertambah 5,23 juta orang.

Dengan jumlah penduduk miskin tersebut, dipastikan berdampak terhadap prevalensi stunting, yang merupakan prioritas program kerja pemerintah. Target pemerintah menurunkan stunting hingga 14% dinilai sulit dicapai apabila perhatian terhadap gizi anak di tengah masa pandemi Covid-19 ini berkurang.

Dalam diskusi media yang berlangsung melalui virtual, Selasa (19/5), pakar kebijakan publik Agus Pambagio menyayangkan, perhatian pemerintah terhadap stunting dan gizi buruk yang teralihkan akibat Covid-19.

Baca Juga: Tenaga Ahli Stunting Dipecat, Kuasa Hukum: PHK Juga Punya Etika

“Yang harus disadari, stunting ini dampaknya 30 tahun mendatang. Saat dunia makin kompetitif, anak-anak yang hari ini tidak cukup gizinya akan semakin terbelakang,” ujar Agus.

Menurutnya, penanganan stunting dan gizi buruk seharusnya tidak lantas terhenti akibat pandemi. Sebab dapat tetap dilakukan melalui pemberian makanan tambahan (PMT) dan program bantuan pangan yang lebih tepat sasaran. Tepat sasaran yang dimaksud Agus bukan hanya penerima, namun juga komposisi isinya harus memenuhi kebutuhan gizi anak dan keluarga.

“Sekarang di dalam bantuan pangan atau sembako, ada produk tinggi kandungan gula seperti susu kental manis. Ini kan tidak tepat diberikan kepada masyarakat apalagi nanti jadi konsumsi anak-anak. Jadi saya harap hindari memasukan makanan yang tidak baik untuk pertumbuhan,” tegas Agus Pambagio.

Selanjutnya
Halaman

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini