Portal Berita Ekonomi Senin, 13 Juli 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief

Soal Pemanfaatan Lahan Gambut RI, Tuduhan LSM Antisawit Tak Valid!

Soal Pemanfaatan Lahan Gambut RI, Tuduhan LSM Antisawit Tak Valid!

Pemanfaatan lahan gambut di Indonesia untuk budi daya kelapa sawit menjadi sorotan dan diprotes oleh LSM antisawit. Mereka beranggapan bahwa budi daya sawit akan merusak lahan gambut hingga dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca (GRK). S

orotan LSM antisawit yang begitu besar, seolah-olah Indonesia memiliki lahan gambut terluas di dunia sehingga high carbon stock (HCS) harus dijaga sebagai stok karbon global dan hanya Indonesia sebagai satu-satunya negara yang mengonversi dan memanfaatkan lahan gambut secara ekspansif untuk sektor pertanian (termasuk kebun sawit) hingga mengakibatkan kerusakan.

Oleh karena itu, tuduhan tersebut perlu dibuktikan dengan menyuguhkan data valid mengenai distribusi dan pemanfaatan lahan gambut yang dilakukan oleh negara lain versus Indonesia.

Baca Juga: No Tipu-tipu! Inovasi SMS BunKaltim Jembatani Petani dengan Harga Sawit

Berdasarkan data Wetland International tahun 2008, luas lahan gambut global sebesar 381,4 juta hektare, tersebar di sebagian besar kawasan Eropa dan Rusia (44,08 persen) dan Amerika (40,5 persen). Berdasarkan urutan, negara dengan lahan gambut terbesar di dunia adalah Rusia (137,5 juta hektare), Kanada (113,4 juta hektare), dan Indonesia (26,5 juta hektare).

Tidak hanya data dari Wetland International, data luas lahan gambut di Indonesia juga relatif bervariasi yaitu 14,9 juta hektare (Ritung et.al.,); 18,3 juta hektare (Kementerian Pertanian); 21 juta hektare (Agus dan Subiksa), dan 26,4 juta hektare (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan).

Meskipun data luas lahan gambut Indonesia cukup bervariasi, berdasarkan data-data tersebut dapat disimpulkan bahwa Indonesia bukan negara yang memiliki lahan gambut terbesar dunia.

Konversi lahan gambut untuk dimanfaatkan masyarakat juga berlangsung di seluruh dunia, salah satunya digunakan untuk sektor pertanian. Sebagian besar penggunaan lahan gambut dunia dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian dengan luas mencapai 296,3 juta hektare dan sebagian besar tersebar di kawasan Asia (44 persen), Amerika (39 persen), dan Eropa (11 persen).

Rusia adalah negara yang paling besar memanfaatkan lahan gambutnya untuk sektor pertanian dengan luas mencapai 130 juta hektare. Kemudian diikuti Amerika Serikat yang menggunakan sekitar 12,4 juta hektare lahan gambut untuk sektor pertanian.

Sementara itu, data Badan Litbang Pertanian mencatat luas lahan gambut Indonesia yang digunakan untuk pertanian tahun 2008 sebesar 6,05 juta hektare. Data-data di atas menunjukan bahwa pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian di negara lain lebih besar dibandingkan Indonesia.

Baca Juga: Sempat Redup, Ekspor CPO di Sumut Kembali Cerah!

Sebenarnya, pemanfaatan lahan gambut di Indonesia yang digunakan untuk sektor pertanian (termasuk kebun sawit) tidak menyalahi regulasi karena sudah ada regulasi terkait hal tersebut (PP 57/2016).

Pemanfaatan lahan gambut untuk budi daya kelapa sawit dilakukan di ekosistem gambut dengan fungsi budi daya yang juga dilakukan sesuai teknik budi daya yang berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kondisi ekosistem gambut agar tidak mengalami kerusakan.

Bukti empiris pembangunan kebun sawit yang berkelanjutan yakni di lahan gambut Negeri Lama yang telah berjalan selama empat generasi umur ekonomi tanaman sawit, serta mampu memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan generasi sebelumnya tanpa membahayakan generasi sekarang maupun yang akan datang.

Baca Juga

Tag: Sawit, Lahan gambut

Penulis: Ellisa Agri Elfadina

Editor: Rosmayanti

Foto: Antara/FB Anggoro

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,885.96 3,846.27
British Pound GBP 1.00 18,342.22 18,158.27
China Yuan CNY 1.00 2,081.13 2,059.98
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,573.51 14,428.50
Dolar Australia AUD 1.00 10,114.02 10,011.94
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,880.43 1,861.69
Dolar Singapura SGD 1.00 10,457.46 10,349.69
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,425.80 16,260.92
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,412.20 3,375.88
Yen Jepang JPY 100.00 13,609.93 13,473.25
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5031.256 -21.538 696
2 Agriculture 1053.805 -9.893 23
3 Mining 1284.564 -7.045 48
4 Basic Industry and Chemicals 760.577 -2.704 80
5 Miscellanous Industry 872.398 -10.019 52
6 Consumer Goods 1799.024 -18.272 57
7 Cons., Property & Real Estate 316.058 -3.797 92
8 Infrastruc., Utility & Trans. 893.846 -4.992 78
9 Finance 1112.206 1.603 93
10 Trade & Service 603.264 -3.289 173
No Code Prev Close Change %
1 FITT 53 71 18 33.96
2 UANG 352 440 88 25.00
3 ARGO 1,025 1,280 255 24.88
4 PGUN 260 324 64 24.62
5 LPIN 226 270 44 19.47
6 PRIM 278 320 42 15.11
7 KBLI 408 468 60 14.71
8 PEGE 109 124 15 13.76
9 APLI 110 124 14 12.73
10 MARK 720 805 85 11.81
No Code Prev Close Change %
1 SOFA 111 100 -11 -9.91
2 PANS 930 865 -65 -6.99
3 NASA 129 120 -9 -6.98
4 GHON 1,650 1,535 -115 -6.97
5 CANI 173 161 -12 -6.94
6 ARTA 348 324 -24 -6.90
7 MREI 5,450 5,075 -375 -6.88
8 BUKK 730 680 -50 -6.85
9 PURA 132 123 -9 -6.82
10 LCKM 352 328 -24 -6.82
No Code Prev Close Change %
1 BRIS 438 474 36 8.22
2 KRAS 346 350 4 1.16
3 BCAP 158 159 1 0.63
4 ENVY 126 133 7 5.56
5 BBRI 3,140 3,110 -30 -0.96
6 TOWR 1,070 1,065 -5 -0.47
7 BNGA 755 830 75 9.93
8 BULL 304 326 22 7.24
9 TLKM 3,110 3,110 0 0.00
10 PWON 416 406 -10 -2.40