Portal Berita Ekonomi Kamis, 28 Mei 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:07 WIB. Bursa - Indeks Shanghai ditutup positif 0,33% pada level 2.846.
  • 16:05 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup negatif 0,12% pada level 2.516.
  • 16:04 WIB. Bursa - Indeks FTSE 100 dibuka positif 0,66% pada level 6.184.
  • 16:03 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup positif 2,32% pada level 21.916.
  • 16:02 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup negatif 0,13% pada level 2.028.

SBY: Gak Perlu Turunkan Jokowi, Sekelas Presiden Mungkin Gak Tahu Ada Penyimpangan Besar di....

SBY: Gak Perlu Turunkan Jokowi, Sekelas Presiden Mungkin Gak Tahu Ada Penyimpangan Besar di....
WE Online, Jakarta -

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengikuti dengan seksama dan serius perkembangan kasus Jiwasraya. Sampai-sampai, dia bikin artikel panjang soal ini. Dalam artikelnya, presiden keenam ini berpesan agar tidak ada upaya-upaya untuk menurunkan Presiden Jokowi.

Artikel SBY ini diberi judul "Penyelesaian Kasus Jiwasraya Akan Selamatkan Negara Dari Krisis Yang Lebih Besar”. SBY mengunggah artikel ini ke akun Facebooknya, kemarin.

Lewat artikel ini, SBY ingin menyampaikan bahwa Jiwasrayagate kudu dibongkar dengan terang benderang. Namun, dia meminta, jangan ada politisasi yang menyertai pembongkaran kasus gagal bayar perusahaan asuransi plat merah ini. Apalagi sampai ada gerakan ingin menurunkan Jokowi.

Baca Juga: Reaksi Bamsoet saat Tahu Pemenang Lelang Motor Jokowi Ternyata Diamankan Polisi

Di awal paragraf SBY mengaku tak menaruh perhatian saat kali pertama mendengar kasus ini mencuat. Namun, setelah tahu angka kerugian yang fantastis, Ketua Umum Partai Demokrat ini menilai, kasus Jiwasraya cukup serius.

SBY memastikan tak terusik saat Presiden Jokowi mengeluarkan pernyataan bahwa permasalahan Jiwasraya sudah terjadi sejak 10 tahun. Bahkan, saat Kementerian BUMN secara eksplisit mengatakan bahwa masalah Jiwasraya bermula di 2006, dirinya juga tak merasa terganggu. Apalagi, di 2006, saat ia menjadi presiden, tak pernah dilapori telah terjadi krisis keuangan yang serius di Jiwasraya.

Namun, saat ada opini bahwa seolah tidak ada kesalahan pada masa pemerintahan sekarang, dan yang salah adalah pemerintahannya, SBY mulai gundah. “Apa yang terjadi? Kenapa isunya dibelokkan? Kenapa dengan cepat dan mudah menyalahkan pemerintahan saya lagi? Padahal, saya tahu bahwa krisis besar, atau jebolnya keuangan Jiwasraya ini terjadi 3 tahun terakhir,” ucapnya.

Baca Juga: Wah, Kejagung Tak Bisa Sita Aset Tersangka Jiwasraya Bentjok, Gara-garanya...

Saat ini, sambung SBY, krisis keuangan Jiwasraya telah menjadi pembicaraan dan perhatian rakyat Indonesia. Kegaduhan politik pun terjadi. Termasuk di kalangan parlemen. Rumor dan desas desus mulai berkembang. Menyasar ke sana ke mari. Fakta dan opini bercampur aduk.

SBY menyebut, awal Januari 2020, isu Jiwasraya makin ramai dibicarakan. Ditambah dengan isu Asabri. Bisik-bisik, sejumlah lembaga asuransi dan BUMN lain, konon juga memiliki permasalahan keuangan yang serius.

Di kalangan DPR mulai dibicarakan desakan untuk membentuk Pansus. Tujuannya agar kasus besar Jiwasraya bisa diselidiki dan diselesaikan secara tuntas. Bagi SBY, perkembangan ini menarik. Meskipun kemudian koalisi pendukung pemerintah lebih memilih Panja.

“Ketika saya gali lebih lanjut mengapa ada pihak yang semula ingin ada Pansus, Saya lebih terperanjat lagi. Alasannya sungguh membuat saya 'geleng kepala'," jelasnya.

Baca Juga: Dunia Sibuk Covid-19, Gerindra Lantang: Awas Mafia Peradilan Beraksi Bebaskan Perampok Jiwasraya!

Katanya, untuk menjatuhkan sejumlah tokoh. Ada yang “dibidik dan harus jatuh” dalam kasus Jiwasraya ini. Menteri BUMN yang lama, Rini Soemarno harus kena. Menteri yang seka rang Erick Thohir harus diganti. Menteri Keuangan Sri Mulyani harus bertanggung jawab. Presiden Jokowi juga harus dikaitkan,” tulis SBY.

Mendengar berita seperti ini, meskipun belum tentu benar dan akurat, SBY pun merasa harus punya sikap. SBY menegaskan, tak baik main “target-targetan”.

Kepada para kader Demokrat yang menjadi anggota DPR, SBY juga tegas melarang ikut-ikutan berpikir yang tidak benar itu. Termasuk gerakan jatuhkan Jokowi. 

“Punya niat dan motif seperti itu, itu salah besar. Nama-nama yang sering disebut di arena publik, dan seolah pasti terlibat dan bersalah, belum tentu bersalah, termasuk tiga nama tadi. Secara pribadi saya mengenal Ibu Sri Mulyani, Ibu Rini dan Pak Erick sebagai sosok yang kompeten dan mau bekerja keras. Kalau tingkat presiden, sangat mungkin Pak Jokowi juga tidak mengetahui jika ada penyimpangan besar di tubuh Jiwasraya itu. Prinsipnya, jangan memvonis siapapun sebagai bersalah, sebelum secara hukum memang terbukti bersalah,” imbau SBY.

Dia pun teringat peristiwa politik sepuluh tahun yang lalu. Pascapemilu 2009, dunia politik digaduhkan oleh isu “bail-out” Bank Century. Berbulan-bulan politik kita tidak stabil. Sama seperti sekarang ini, nampaknya ada yang dibidik dan hendak dijatuhkan. Ia mengaku sangat tahu bahwa yang harus jatuh adalah Sri Mulyani dan juga Boediono. Jika bisa, SBY juga diseret dan dilengserkan. Memang cukup seram.

Namun, ia tetap tenang. Ia juga tak takut dengan dibentuknya Pansus. Dia tak pernah menghalanginya. Padahal koalisi pendukung pemerintah cukup kuat waktu itu.

“Mengapa saya tak takut dengan Pansus Bank Century? Saya memegang fakta dan kebenaran mengapa dilakukan “bail-out” pada Bank Century,” ujarnya.

Partner Sindikasi Konten: Rakyat Merdeka

Baca Juga

Tag: Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Joko Widodo (Jokowi), Erick Thohir, PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Sri Mulyani Indrawati, Rini Soemarno

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Lestari Ningsih

Foto: Sufri Yuliardi

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,951.77 3,911.41
British Pound GBP 1.00 18,207.72 18,022.14
China Yuan CNY 1.00 2,071.84 2,051.05
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,842.85 14,695.16
Dolar Australia AUD 1.00 9,831.90 9,732.60
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,914.56 1,895.49
Dolar Singapura SGD 1.00 10,465.24 10,357.46
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,359.79 16,191.13
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,411.37 3,372.77
Yen Jepang JPY 100.00 13,763.77 13,625.55
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 4716.185 74.630 692
2 Agriculture 971.797 8.596 22
3 Mining 1243.286 -3.438 49
4 Basic Industry and Chemicals 724.798 14.451 78
5 Miscellanous Industry 829.469 25.291 52
6 Consumer Goods 1817.766 -5.862 58
7 Cons., Property & Real Estate 327.509 7.548 90
8 Infrastruc., Utility & Trans. 861.001 -11.328 78
9 Finance 949.013 35.801 93
10 Trade & Service 603.876 4.899 172
No Code Prev Close Change %
1 MCAS 760 950 190 25.00
2 DIVA 655 815 160 24.43
3 VICO 100 124 24 24.00
4 WIIM 115 139 24 20.87
5 NELY 124 146 22 17.74
6 PALM 171 199 28 16.37
7 HDIT 450 520 70 15.56
8 KBLM 284 320 36 12.68
9 DMMX 71 80 9 12.68
10 LPKR 150 169 19 12.67
No Code Prev Close Change %
1 NIRO 143 133 -10 -6.99
2 GLVA 258 240 -18 -6.98
3 HRME 173 161 -12 -6.94
4 TRIS 260 242 -18 -6.92
5 NFCX 1,300 1,210 -90 -6.92
6 IFSH 290 270 -20 -6.90
7 MAPB 1,680 1,565 -115 -6.85
8 ALKA 440 410 -30 -6.82
9 EMTK 4,990 4,650 -340 -6.81
10 KRAH 446 416 -30 -6.73
No Code Prev Close Change %
1 ICBP 8,325 8,325 0 0.00
2 BBRI 2,630 2,730 100 3.80
3 INDF 5,600 5,675 75 1.34
4 PURA 74 75 1 1.35
5 BBCA 24,825 26,475 1,650 6.65
6 TLKM 3,170 3,130 -40 -1.26
7 BMRI 4,110 4,290 180 4.38
8 BBNI 3,630 3,660 30 0.83
9 ASII 4,350 4,540 190 4.37
10 UNVR 8,200 8,025 -175 -2.13