Portal Berita Ekonomi Sabtu, 04 Juli 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:07 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng ditutup menguat 0,99% pada level 25.373.
  • 16:07 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup menguat 0,80% pada level 2.152.
  • 16:06 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup positif 0,72% pada level 22.306.
  • 16:06 WIB. Bursa - Indeks Shanghai ditutup menguat 2,01% pada level 3.152.
  • 16:05 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup positif 0,59% pada level 2.652.
  • 16:04 WIB. Bursa - Indeks FTSE 100 dibuka negatif 0,40% pada level 6.215.
  • 16:04 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,01% terhadap Yuan pada level 7,06 CNY/USD.
  • 16:03 WIB. Valas - Rupiah ditutup melemah 1,01% terhadap Dollar AS pada level 14.522 IDR/USD.

Mengenal Rare Earth, Dibahas Luhut-Prabowo dan Jadi Senjata China Lawan AS

Mengenal Rare Earth, Dibahas Luhut-Prabowo dan Jadi Senjata China Lawan AS
WE Online, Jakarta -

Rare earth atau logam tanah jarang, nama ini masih aneh di telinga publik. Namun, tidak lama lagi akan tenar sebab menjadi pembahasan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Kedua tokoh militer itu membahas potensi rare earth di Indonesia.

Asal tahu saja, saat ini China memegang kendali produksi terbesar rare earth. Totalnya mencapai 95 persen dari total produksi di dunia. Sementara, cadangan rare earth di negeri Tirai Bambu itu diperkirakan mencapai 36 juta ton atau setara 30 persen dari total cadangan di dunia yang mencapai 99 juta ton.

Baca Juga: Jangan Kaget, Ini Jawaban Tegas Luhut Soal China...

Rare earth menjadi salah satu kartu truf China untuk menekan Amerika Serikat (AS) di tengah perang dagang keduanya yang belum mereda. Karena, Paman Sam juga sedang memburu logam tanah jarang tersebut sebagai salah satu komponen penting dalam membuat alutsista.

Selain itu, rare earth juga erat kaitannya dengan produk industri berteknologi tinggi, seperti industri komputer, telekomunikasi, nuklir, hingga ruang angkasa. Tidak hanya AS dan China, beberapa negara sudah mengembangkan pengolahan rare earth sebagai kebutuhan industri.

Negara-negara ini di antaranya Jepang, India, Brasil, Australia, Afrika Selatan, hingga Malaysia memiliki cadangan rare earth. Berdasarkan data yang diolah VIVA Tekno, Selasa (23/6/2020), rare earth adalah kumpulan 17 unsur kimia pada tabel periodik, terutama 15 lantanida ditambah skandium dan yttrium.

Skandium dan yttrium dianggap sebagai logam tanah jarang karena sering ditemukan pada deposit-deposit bijih lantanida dan memiliki karakteristik kimia yang mirip dengan lantanida.

Meskipun namanya logam tanah jarang, tetapi logam-logam ini cukup melimpah jumlahnya di kerak bumi dengan serium sebagai unsur paling melimpah ke-25 dengan 68 bagian per juta (mirip tembaga).

Meski begitu, karena karakteristik geokimianya, logam tanah jarang ditemukan pada kondisi sangat tersebar dan sedikit ditemukan dalam jumlah yang banyak sehingga nilai ekonominya kecil. Sumber-sumber deposit rare earth atau logam tanah jarang yang banyak dan bernilai ekonomis biasanya menyatu menjadi mineral tanah jarang.

Partner Sindikasi Konten: Viva

Baca Juga

Tag: Prabowo Subianto Djojohadikusumo, Luhut Binsar Pandjaitan, Amerika Serikat (AS), China (Tiongkok)

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Foto: Reuters

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,903.38 3,863.51
British Pound GBP 1.00 18,244.37 18,061.39
China Yuan CNY 1.00 2,071.79 2,050.85
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,638.83 14,493.17
Dolar Australia AUD 1.00 10,143.25 10,033.62
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,888.83 1,870.01
Dolar Singapura SGD 1.00 10,496.79 10,388.62
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,462.83 16,294.67
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,416.30 3,379.15
Yen Jepang JPY 100.00 13,614.98 13,478.26
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 4973.794 7.014 694
2 Agriculture 1035.202 -3.361 22
3 Mining 1268.499 25.710 48
4 Basic Industry and Chemicals 750.463 13.240 80
5 Miscellanous Industry 874.938 -3.179 52
6 Consumer Goods 1815.479 0.475 57
7 Cons., Property & Real Estate 321.161 -5.097 92
8 Infrastruc., Utility & Trans. 897.578 2.421 78
9 Finance 1073.299 -2.447 93
10 Trade & Service 605.597 0.226 172
No Code Prev Close Change %
1 BBHI 103 139 36 34.95
2 EPAC 199 268 69 34.67
3 INDS 1,940 2,420 480 24.74
4 AMAR 308 384 76 24.68
5 PDES 390 470 80 20.51
6 MARK 540 650 110 20.37
7 DNAR 226 270 44 19.47
8 DAYA 600 700 100 16.67
9 DSSA 19,500 22,400 2,900 14.87
10 GLOB 168 190 22 13.10
No Code Prev Close Change %
1 ARKA 372 346 -26 -6.99
2 MSIN 316 294 -22 -6.96
3 SMMA 17,700 16,475 -1,225 -6.92
4 BIKA 188 175 -13 -6.91
5 FOOD 145 135 -10 -6.90
6 INPS 1,960 1,825 -135 -6.89
7 HDFA 160 149 -11 -6.88
8 PRAS 146 136 -10 -6.85
9 AMFG 3,070 2,860 -210 -6.84
10 PLIN 2,640 2,460 -180 -6.82
No Code Prev Close Change %
1 PURA 97 92 -5 -5.15
2 TOWR 1,040 1,090 50 4.81
3 PTPP 980 955 -25 -2.55
4 BCAP 158 158 0 0.00
5 TKIM 6,500 6,250 -250 -3.85
6 TCPI 4,340 4,150 -190 -4.38
7 TLKM 3,140 3,120 -20 -0.64
8 MNCN 890 915 25 2.81
9 JPFA 1,150 1,175 25 2.17
10 MAIN 570 615 45 7.89