Portal Berita Ekonomi Jum'at, 10 Juli 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:36 WIB. Oil - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 38,59 USD/barel.
  • 16:35 WIB. Oil - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 41,36 USD/barel.
  • 16:35 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,06% terhadap Euro pada level 1,1292 USD/EUR.
  • 16:34 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,09% terhadap Poundsterling pada level 1,2595 USD/GBP.
  • 16:33 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng ditutup melemah 1,84% pada level 25.727.
  • 16:33 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup negatif 0,81% pada level 2.150.
  • 16:32 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup melemah 1,06% pada level 22.290.
  • 16:31 WIB. Bursa - Indeks Shanghai ditutup negatif 1,95% pada level 3.383.
  • 16:31 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup negatif 0,63% pada level 2.652.
  • 16:30 WIB. Bursa - Indeks FTSE 100 dibuka positif 0,11% pada level 6.056.
  • 16:29 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,15% terhadap Yuan pada level 7,00 CNY/USD.
  • 16:28 WIB. Valas - Rupiah ditutup melemah 0,28% terhadap Dollar AS pada level 14.435 IDR/USD.
  • 16:28 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,45% terhadap Yen pada level 106,72 JPY/USD.
  • 16:27 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.806 USD/troy ounce.
  • 15:01 WIB. IHSG - IHSG melemah 0,43% di akhir sesi II.

Harapan untuk IA CEPA: Mampu Tingkatkan Perekonomian dan Ketahanan Pangan Indonesia

Harapan untuk IA CEPA: Mampu Tingkatkan Perekonomian dan Ketahanan Pangan Indonesia
WE Online, Jakarta -

Kemitraan Indonesia dengan Australia dalam kerangka Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) diharapkan mampu mendatangkan manfaat untuk kedua belah pihak, terutama dalam bidang ekonomi. Australia merupakan salah satu mitra dagang strategis Indonesia.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan, ratifikasi IA CEPA diharapkan mampu meningkatkan kinerja perekonomian Indonesia lewat penguatan keberadaan Indonesia di dalam Global Value Chain (GVC) atau rantai pasok global. Penguatan posisi Indonesia dalam GVC pada akhirnya dapat menjadikan negeri ini sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia. GVC sendiri berkontribusi hampir 50% pada perdagangan global.

Baca Juga: CIPS: New Normal Harus Pulihkan Konsumsi Masyarakat, Kalau Tidak Sia-sia

Selain itu, diharapkan Australia dapat berinvestasi pada sektor-sektor yang strategis di Indonesia. Harapan ini sangat beralasan mengingat Indonesia selama ini lebih banyak mengekspor produk mentah karena belum mampu memberikan nilai tambah atau value added kepada produk yang dihasilkan.

"IA-CEPA juga ditargetkan mampu memperlebar akses promosi dan penanaman modal, economic powerhouse, pengembangan sumber daya manusia Indonesia dan program-program kerja sama ekonomi bagi Indonesia. Namun, hal ini perlu diikuti adanya perbaikan-perbaikan di dalam negeri, seperti reformasi regulasi yang memungkinkan masuknya lebih banyak investor Australia ke berbagai sektor di Indonesia," jelasnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (23/6/2020).

BKPM mencatat Australia sebagai kontributor Foreign Direct Investment (FDI) terbesar ke-10 di Indonesia pada 2019 dengan investasi lebih dari AU$500 juta di semua sektor kecuali minyak dan gas serta jasa keuangan. Jumlah ini masih terbilang kecil kalau dibandingkan dengan nilai investasi Amerika Serikat di Indonesia yang tiga kali lebih besar sebagaimana juga China. Total perdagangan barang dan jasa antara kedua negara adalah senilai AU$17,8 miliar pada 2018-2019. Menurut Pingkan, jumlah ini masih dapat ditingkatkan mengingat hubungan diplomatik kedua negara yang sudah berlangsung selama 70 tahun.

Pingkan mengatakan, salah satu yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan investasi Australia di sektor-sektor potensial adalah dengan reformasi regulasi. Rumitnya regulasi di Tanah Air sudah sering disebut sebagai salah satu hambatan masuknya FDI. Regulasi yang ada hendaknya dibuat lebih sederhana, terintegrasi antara pusat dan daerah dan lebih efisien secara waktu. Hal ini, lanjutnya, tidak cukup hanya lewat revisi satu regulasi tertentu, tapi perlu melihat ke regulasi di Indonesia secara keseluruhan. Selain itu, berbagai hambatan nontarif yang diterapkan oleh pemerintah juga perlu dievaluasi.

Menjelang implementasinya per 5 Juli 2020 mendatang, IA CEPA juga diharapkan mampu turut berkontribusi pada ketahanan pangan Indonesia. Peternak sapi di dalam negeri masih belum menggunakan cara beternak yang efisien. Selain itu, ketersediaan modal yang memadai untuk memelihara sapi juga mendorong sebagian besar peternak fokus pada pembiakan sapi potong. Hal inilah yang menjadikan ketersediaan sapi bakalan lokal menjadi minim.

Kebutuhan gula domestik yang tinggi juga masih belum mampu dipenuhi petani tebu lokal. Adanya kemitraan yang memungkinkan terjadinya transfer knowledge dan juga berbagai kemudahan untuk impor beberapa komoditas pangan ini tentu diharapkan bisa tercapai lewat kesepakatan ini. Adanya demand yang dapat terus dipenuhi oleh supply tentu akan memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Berdasarkan data dari The Atlas of Economic Complexity, total nilai ekspor Indonesia ke Australia mencapai US$2,8 miliar di 2018. Beberapa komoditas ekspor Indonesia ke Australia di antaranya adalah minyak mentah, minyak bumi olahan, dan kayu berbentuk. Sementara itu, di tahun yang sama, nilai impor Indonesia dari Australia mencapai US$5,82 miliar dengan beberapa komoditas di antaranya adalah briket batu bara, minyak bumi, dan gandum.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa Australia merupakan pemasok impor daging sapi terbesar bagi Indonesia dengan nilai impor mencapai 85 ribu ton atau sekitar 53% dari total impor seberat 160.197 ton. Adapun nilai impor daging sapi dari Australia mencapai US$296,3 juta setara Rp4 triliun dari total nilai impor Rp7,7 triliun. Tidak hanya impor daging sapi, Indonesia juga mengimpor gandum, hewan hidup jenis lembu serta gula mentah atau tebu.

Baca Juga

Tag: Ekonomi Indonesia, Hubungan Bilateral, Australia, Indonesia-Australia, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS)

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Foto: Istimewa

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,885.96 3,846.27
British Pound GBP 1.00 18,342.22 18,158.27
China Yuan CNY 1.00 2,081.13 2,059.98
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,573.51 14,428.50
Dolar Australia AUD 1.00 10,114.02 10,011.94
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,880.43 1,861.69
Dolar Singapura SGD 1.00 10,457.46 10,349.69
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,425.80 16,260.92
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,412.20 3,375.88
Yen Jepang JPY 100.00 13,609.93 13,473.25
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5052.794 -23.380 696
2 Agriculture 1063.698 10.416 23
3 Mining 1291.609 6.124 48
4 Basic Industry and Chemicals 763.281 -4.110 80
5 Miscellanous Industry 882.417 -2.074 52
6 Consumer Goods 1817.296 -7.719 57
7 Cons., Property & Real Estate 319.855 -0.236 92
8 Infrastruc., Utility & Trans. 898.838 -7.724 78
9 Finance 1110.603 -7.756 93
10 Trade & Service 606.553 -0.637 173
No Code Prev Close Change %
1 PGUN 208 260 52 25.00
2 UANG 282 352 70 24.82
3 SAPX 1,875 2,340 465 24.80
4 KRAS 278 346 68 24.46
5 MFIN 900 1,050 150 16.67
6 BMAS 266 306 40 15.04
7 POLU 805 910 105 13.04
8 HDFA 139 157 18 12.95
9 SMDM 88 99 11 12.50
10 ENVY 112 126 14 12.50
No Code Prev Close Change %
1 ITIC 1,150 1,070 -80 -6.96
2 CMNP 1,300 1,210 -90 -6.92
3 BBHI 159 148 -11 -6.92
4 TECH 159 148 -11 -6.92
5 BBMD 1,605 1,495 -110 -6.85
6 KBLI 438 408 -30 -6.85
7 ALTO 380 354 -26 -6.84
8 GSMF 117 109 -8 -6.84
9 KBLV 382 356 -26 -6.81
10 TMAS 118 110 -8 -6.78
No Code Prev Close Change %
1 KRAS 278 346 68 24.46
2 BBRI 3,190 3,140 -50 -1.57
3 TOWR 1,075 1,070 -5 -0.47
4 IPTV 360 358 -2 -0.56
5 PTBA 2,080 2,100 20 0.96
6 MDKA 1,450 1,535 85 5.86
7 TLKM 3,150 3,110 -40 -1.27
8 TKIM 7,100 7,125 25 0.35
9 BBNI 4,800 4,730 -70 -1.46
10 MARI 54 60 6 11.11