Sadisnya Covid-19, Manufaktur Asean Terus Memburuk

Sadisnya Covid-19, Manufaktur Asean Terus Memburuk Kredit Foto: Reuters/Rebecca Cook

Kondisi operasional di seluruh sektor manufaktur Asean terus memburuk. Hal ini tercermin dalam laporan IHS Markit yang menyebutkan purchasing managers' index (PMI) atau indeks manajer pembelian pada Juni 2020 sebesar 43,7 atau naik 8,2 poin dari 35,3 pada Mei 2020.

Ekonomi IHS Markit, Lewis Cooper mengatakan meski terjadi kenaikan indeks, namun masih bertahan di wilayah kontraksi, bahkan mengisyaratkan deteriorasi (kemunduran). Seperti diketahui PMI di atas 50 menunjukkan manufaktur tengah ekspansif, sedangkan di bawah 50 menunjukkan manufaktur mengalami resesi.

"Penurunan di sektor manufaktur Asean berlanjut selama empat bulan berturut-turut pada Juni. Namun, penurunan kondisi operasional adalah yang paling lambat pada periode Juni dengan output dan volume pesanan turun jauh lebih lambat karena sebagian besar sektor dibuka kembali dan jalur produksi dimulai kembali," kata Ekonom IHS Markit, Lewis Cooper pada Kamis (2/7/2020).

Baca Juga: Udah Dikerek-kerek, Industri Manufaktur RI Belum Juga Bangkit

Lewis mengungkapkan kenaikan PMI Manufaktur pada Juni 2020 didorong oleh pengurangan yang lebih lambat pada output dan pesanan baru. Namun demikian, penurunannya tetap lebih tajam daripada masing-masing catatan pra-virus corona. Dengan permintaan yang tidak berubah, perusahaan terus mengurangi jumlah staf pada kisaran tajam.

"Kondisi permintaan masih sangat lemah, dan memaksa perusahaan kembali mengurangi jumlah tenaga kerja mereka. Tingkat pelepasan pekerjaan berkurang sedikit, tetapi masih tergolong tajam," tambahnya.

Untuk prospek ke depan, IHS Markit memproyeksi produsen barang-barang Asean masih menghadapi kondisi permintaan yang lemah di dalam dan luar negeri. Sampai ada pemulihan yang berarti pada permintaan pelanggan, sepertinya sektor ini tidak akan melihat peningkatan berarti pada kondisi pada bulan-bulan mendatang.

"Meskipun tingkat kontraksi output dan pesanan baru telah berkurang dari penurunan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada April dan Mei karena pembatasan terkait dengan virus secara umum telah dilonggarkan," pungkasnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini