Adik Kim Jong-un Mulai Diselidiki Jaksa Korsel, Kasusnya Klasik

Adik Kim Jong-un Mulai Diselidiki Jaksa Korsel, Kasusnya Klasik Kredit Foto: MSN.com

Jaksa-jaksa Korea Selatan (Korsel) mulai melakukan penyelidikan terhadap adik Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un dan Kepala Staf Tentara Korut Jendral Pak Jong-chon.  Adik Kim Jong-un, yakni Kim Yo-jong  yang juga menjabat sebagai Deputi Direktur Departemen Komite Partai Pekerja Korut.

Pada Kamis (16/7/2020) kantor berita Korsel, Yonhap melaporkan penyelidikan simbolik dan tak pernah dilakukan sebelumnya ini dilakukan setelah pengacara Korsel mengajukan gugatan hukum atas peledakan kantor penghubung.

Baca Juga: Isu Dialog Trump-Kim Jong-un, AS Kalem: Mereka Memilih untuk...

Pengacara Korsel, Lee Kyung-jae mengajukan gugatan pada tokoh-tokoh Korut ke Kantor Kejaksaan Distrik Seoul pada 8 Juli lalu. Yonhap melaporkan berdasarkan dokumen kasus tersebut diserahkan ke divisi penyelidikan publik pada Senin (13/7/2020) lalu.

Pada 16 Juni lalu Korut meledakan kantor penghubung antar-Korea yang terletak di kota Kaesong. Tampaknya mereka marah dengan propaganda pamflet yang mengkritik Kim Jong-un. Tiga hari sebelumnya Kim Yo-jung sudah memperingatkan bila propaganda itu tidak berhenti ia akan meledakan kantor penghubung tersebut.

Jaksa-jaksa di Seoul berencana meninjau gugatan Lee sebelum memutuskan apakah Kim Yo-jung dan Pak  Jong-chon dapat digugat. Pakar hukum mengatakan hampir tidak mungkin jaksa-jaksa Korsel dapat menghukum pejabat-pejabat Korut.

Para pengamat berspekulasi bila jaksa akan mencabut gugatan tersebut karena sulitnya mengumpulkan bukti yang cukup. Mereka menambahkan bahkan bila pengadilan Korut menyatakan mereka bersalah tidak ada cara untuk mengeksekusi dakwaan.

Lee mengakui ada batasan realistis dalam kasus ini tapi ia mengatakan ingin menarik perhatian publik atas tindakan destruktif Korut. Ia juga ingin memberitahu rakyat Korut tentang kemunafikan pemimpin-pemimpinnya.

"Memang sulit menangkap Kim dan Pak dan membawa mereka ke pengadilan, tapi penyelidikan dapat dilakukan, kami harus membiarkan 25 juta warga Korea Utara tahu tentang betapa munafiknya dan palsunya citra keluarga penguasa," kata Lee.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini