Jadi Ujung Tombak Pertanian, Milenial Perlu Terjun Langsung!

Jadi Ujung Tombak Pertanian, Milenial Perlu Terjun Langsung! Kredit Foto: Ist

Milenial sebagai ujung tombak pembangunan pertanian. Statement apik disampaikan oleh Endang Setyawati Thohari, Anggota Komisi IV DPR RI dalam acara Webinar Optimalisasi Kinerja Pendidikan Vokasi Pertanian di Tengah Pandemi Covid 19, Sabtu, 25 Juli 2020.

Anggota Komisi IV tersebut berujar bahwa saat ini, permasalahan utama SDM Pertanian adalah rendahnya kelompok milenial yang berkecimpung di dunia pertanian. Banyak lulusan pertanian yang bekerja di sektor lainnya karena lebih menjanjikan. Sehingga perlu adanya kebijakan pemerintah berupa program dan kebijakan yang membuat animo kaum milenial tertarik ikut membangun pertanian.

Pemerintah pun perlu melakukan terobosan, selain kecukupan pembiayaan dan banyaknya subsidi yang disalurkan kepada petani sehingga tercapai ketahanan dan kedaulatan pangan melalui produtivitas pangan yang makin meningkat secara signifikan.

Endang menambahkan pula bahwa dahulu di tahun 1986, WHO pernah memberikan penghargaan kepada Indonesia berupa medali ketahanan pangan, karena Indonesia mampu menyumbangkan 1 juta ton pangan kepada masyarakat Afrika kala itu. Afrika tayangkan keberhasilan Indonesia mencapai kedaulatan dan ketahanan pangan.

Baca Juga: Kementan: Wirausaha Muda Pertanian Jadi Solusi Ketahanan Pangan

Selain itu, Program-program keberhasilan pembangunan pertanian pun harus gencar dilakukan. Jangan sampai masyarakat tidak mengetahui adanya program kebijakan pembangunan pertanian termasuk salah satunya adalah mesin cetak generasi milenial pertanian yaitu Politeknik Pembangunan Pertanian.

Pentingnya pembangunan pertanian menuju pertanian maju, mandiri dan modern diungkapkan pula oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), dalam berbagai kesempatan. Pertanian berproduktif, memenuhi ketersediaan pangan bagi 267 juta masyarakat Indonesia.

Seperti kita ketahui, berdasarkan umur, petani muda yang umurnya dibawah 40 tahun ternyata jumlahnya kurang dari 30% jumlah petani yang ada di Indonesia.Sisanya adalah petani yang umurnya di atas 40 tahun, oleh karena itu 5-10 tahun mendatang kita akan mengalami krisis petani. Karena umur petani telah memasuki fase yang kurang produktif (diatas 54 tahun)” Berdasarkan kekhawatiran akan adanya krisis petani di masa yang akan datang, Kementerian Pertanian menggenjot Lembaga Pendidikan Vokasi Pertanian untuk lebih banyak mencetak SDM pertanian unggulan, mumpuni, andal, professional, selalu berinovasi dalam mengembangkan teknologi pertanian, bibit dan benih unggulan dan berkualifikasi sebagai job seeker dan job kreator. 

Baca Juga: Membumikan Inovasi Teknologi Pertanian, Kementan Gelar MAF VI

Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa dalam program aksi Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, salah satu kebijakan untuk mewujudkan pertanian maju, mandiri dan modern adalah penumbuhan petani milenial yang berjiwa entrepreneur sebanyak 500.000 pemuda tani melalui Politeknik Pembangunan Pertanian, Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia Serpong, SMK PP serta program YESS. Juga ditergetkan penyerapan 50 juta tenaga kerja pertanian serta penumbuhan 2,5 juta Pengusaha Pertanian milenial.

Dedi menekankan, bahwa Petani milenial akan digenjiot terus. Oleh karena itu, dukungan dari berbagai unsur dan eleman dibutuhkan, utamanya dukungan support dari Komisi IV DPR. Cetak SDM pertanian berkualitas dan inovasi teknologi mendukung 4.0 akan terus digenjot. Kerjasama dudi akan lebih ditingkatkan. Peningkatan kompetensi dan skill job seeker wajib hukumnya. Jangan sampai menciptakan lulusan yang tidak berkualitas.

Manajemen pembelajaran, penerapan kurikulum, jejaring kerjasama harus diperkuat. Jangan lupa link dan match dengan dunia usaha dunia industri. Ditambahkan pula bahwa seluruh sivitas akademika vokasi, semua harus bahu membahu, kerja keras, silih asah silih asuh untuk hasilkan job sekker dan job creator berkualitas sehingga pembangunan pertanian akan semakin berhasil.

Pesan kepada Calon petani milenial, belajarrajin, sungguh-sungguh utama pada pembelajaran TEFA dan tempat magang. Kuasai teknologi 4.0, tingkatkan ilmu teknologi budidaya yang dapat meningkatkan produktivitas komoditas pangan secara signifikan, sehingga bisa genjot produksi pertanian. Juga belajar kewirausahaan. Adrenalin wirausaha dibangun, ditingkatkan.Sensitifitas pertanian harus tinggi, juga kemampuan inovasi, pemanfaatan teknologi 4.0 dari hulu sd hilir yang nantinya akan menjadi modal utama petani mienial membangun bangsa.

Dalam webinar tersebut, Sidi Asmono pun urun rembug mengemukakan pemikirnanya bahwa kedaulatan dan ketahanan pangan penekanan terbesar terletak pada komoditas padi dan hortikultura.

Berdasarkan data, jumlah RT petani komoditas padi mencapai 13 juta usaha pertanian sedangkan jumlah RT komoditas hortikultura mencapai 12 juta usaha pertanian. Dari jumlah RT petani yang ada saat ini, rentang komposisi petani milenial dengan petani senior cukup besar, dan ini sangat mengkhawatirkan. Diprediksi, 5 sd 10 tahun ke depan Indonesia akan mendapat bonus demografi, dan ini merupakan kesempatan sector pertanian untuk mengarahkan generasi milenial tertarik dengan sector pertanian.

Perlu ada desain tersendiri yang dapat membuat generasi milenial melirik sector pertanian, dengan salah satunya menjadikan para mahasiswa/siswa dan lulusan Lembaga Pendidikan Kementerian Pertanian menjadi Duta Pertanian, mewartakan betapa menariknya pertanian melaui sinergitas kecanggihan media sosial salah satunya melalui IG, Facebook, vlog dan media lainnya.

Baca Juga: BPPSDMP dan Polbangtan Malang Kembangkan Sistem Pertanian Terpadu

BPPSDMP tepat disebutkan Kementan melalui Pusdiktan menyiapkan pabrik petani milenial. yaitu sekolah pertanian vokasi. Pabrik petani milenial yang menentukan eksistensi negara Indonesia. Ke depan, terletak di BPPSDMP tercetak petani milenial 50 kali lipat dari sekarang. Pabrik petani milenial yang menentukan eksistensi kedaulatan pangan Indonesia. Kalau perlu Polbangtan diperbanyak lagi, karena Polbangtan yang ada saat ini baru bersifat start up.

Dalam pembelajaran, diharap, sebagai mesin cetak petani milenial, penerapan inovasi teknologi wajib hukumnya. Pembelajaran sudah menggunakan daring, utamanya saat ini dalam kondisi Pandemik Covid 19. Cukup mengesankan, beberapa gebrakan sudah dilakukan oleh Polbangtan dan SMK PP. Salah satunya adalah gerakan pendampingan mahasiswa mendampingi petani berproduksi pangan menyedian stok pangan di tengah Covid 19. Para mahasiswa menularkan ilmu yang mereka dapatkan di Lembaga Pendidikan, merekam permasalahan yang ada di lapangan dan kemudian mendisksusikannya dengan Dosen mereka untuk mendapatkan solusi dan tindaklanjut.

Ada pula gebrakan dari SMK PP Kupang, di tengah tengah sulitnya mendapatkan jaringan koneksi internet, SMK PP Kupang bekerja sama dengan Kantor Pos untuk mengantarkan tugas, soal ujian dan jawaban-jawaban dari para Siswa.Jangan pula dilupaka, pentingnya memperkuat jaringan kerjasama dengan dunia usaha dunia industri, untuk mencetak lulusan yang link dan match dengan dunia usaha dan dunia industri.

Dalam Webinar ini, hadir pula perkumpulan penggerak pemberdayaan wanita, urun rembugdengan mengatakan bahwa saat ini, peran wanita sudah sangat banyak dalam pembangunan pertanian. Di setiap lini sector pertanian, perempuan punya andil besar.

Diinformasikan pula, mengenai peran wanita di wilayah Papua. Juga disampaikan perlunya mengangkat produk pangan local, seperti salah satunya umbi-umbian khas Papua. Ada pula permasalahan mengenai masalah jaringan internet sehingga menghambat kelancaran kuliah daring, utama di wilayah perkampungan/pelosok. Industri pertanian pun sangat kurang, sehingga mahasiswa di Papua apabila akan magang, harus keluar dari Papua.

Ada pula pendapat dari Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Kemal Mahfud, yang menyatakan bahwa saat ini pertanian sudah terbantu dengan adanya KUR, CSR, kerjasama dengan BUMN, serta program desa Mitra yang diselenggarakan di Polbangtan.

Baca Juga: Kuatkan Peran Kostratani, BPPSDMP Sosialisasikan Program

Juga pernyataan dari Kepala SMK PP Dharma Lestrai Salatiga, Jawa Tengah, Pitoyo serta Kepala SMK PP Muhammadiyah, Deli Serang, Sumatera Utara, Nasriadi, yang mengungkapkan bahwa sinergitas dan dukungan penuh berbagai pihak sangat dibutuhkan SMK PP sebagai salah satu mesin pencetak SDM pertanian. Terletak di pundak para lulusan, estafet pembangunan pertanian disandarkan.

Di penutup acara Webinar, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Idha Widi Arsanti, menyatakan bahwa Apapun Programnya, SDM unggulan adalah kuncinya.Oleh karena itu, pencetakan generasi milenial unggulan sudah merupakan keharusan. Peningkatan kualitas, kompetensi dan skill insani pertanian pun penting dengan tidak melupakan kearifan local, potensi sumber daya local.

Tantangan bagi generasi milenial Indonesia untuk mampu menggenjot produktivitas komoditas pertanian dengan berbai inovasi teknologi agar tercapai ketahanan dan kedaulatan pangan, tercapai peningkatan ekspor komoditas pertanian, dan tercapai cita-cita bangsa menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Metodologi bagaimana komoditas pertanian bisa diekspor, BPPSDMP akan bekerjasama dengan Balitbang, Balai Biogen dan Bioteknologi. Pelatihan pertanian khusus untuk generasi milenial akan ditingkatkan. Sinergitas antar kementerian wajib hukumnya. Salah satunya dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai mitra.

(VTR-Pusdiktan)

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini