Portal Berita Ekonomi Minggu, 09 Agustus 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief

Yakin Ekonomi RI Cepat Pulih Kayak China? Jangan Mimpi

Yakin Ekonomi RI Cepat Pulih Kayak China? Jangan Mimpi

Sejumlah pengamat meragukan kondisi ekonomi kita bisa pulih cepat. Soalnya, angka kasus positif corona masih terus menanjak. Beda dengan China yang sudah melandai. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listyanto menjelaskan, prediksi sejumlah lembaga keuangan internasional bahwa ekonomi kita akan pulih setelah China agak membingungkan.

Karena, kata Eko, kasus positif Covid-19 terus mencetak rekor baru. Sementara, China sudah berhasil mengendalikan wabah tersebut.

"China itu bisa mengendalikan pandemi corona di negaranya. Jadi, aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat bisa segera mengeliat. Bahkan, China jadi satu-satunya negara yang paling prospektif di dunia," katanya.

Baca Juga: Ampun Gusti! Bu Menkeu Kondisi Ekonomi 2021, Bikin Ngeri Ya Allah

Berbanding terbalik di Indonesia. Penemuan kasus baru terus meningkat. Artinya, susah untuk bisa optimis tanpa ada kemampuan menangani pandemi corona.

Menurutnya, selama pandemi corona belum terkendali, aktivitas ekonomi masyarakat tetap tersendat. Masyarakat banyak yang masih khawatir untuk melakukan konsumsi di luar rumah. Termasuk pergi ke mal sampai pelesiran ke destinasi wisata. 

Apalagi dipengaruhi banyak masyarakat yang berhemat karena ada ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan seretnya penghasilan. Permintaan yang masih minim tentu akan mempengaruhi produksi dunia usaha dan industri. 

Begitu juga para pengusaha masih cukup khawatir untuk mempekerjakan kembali pegawainya ke kantor dan pabrik. Ketika penawaran dan permintaan masih rendah maka geliat ekonomi dipastikan belum bisa pulih. 

Hal ini yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bisa pulih cepat. Ditambah konsumsi masyarakat menopang lebih dari 50 persen ekonomi nasional.

"Cepat atau lambatnya pemulihan ekonomi sangat bergantung pada daya beli masyarakat, apakah bisa mendorong konsumsi lagi atau tidak?" ujarnya.

Eko menegaskan, sangat mutlak bagi pemerintah untuk mampu mengendalikan pandemi Covid-19 agar daya beli dan geliat ekonomi masyarakat tumbuh lagi.

Eko meyarankan, jika pemerintah ingin memberi suntikan suplemen gunakanlah belanja pemerintah, khususnya bantuan sosial (bansos).

"Saya percaya ada peluang kita bisa cepat pulih, tapi syaratnya pandemi terkendali, daya beli terangkat, konsumsi rumah tangga naik, dan juga belanja pemerintah cepat. Tapi, realisasi 19 persen serapan anggaran ini masih jauh dari harapan," jelasnya. 

Eko melihat kemampuan pulih tetap bergantung pada struktur dan kemampuan masing-masing negara untuk mengendalikan pandemi dan memanfaatkan momentum sesuai struktur ekonominya.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah menjelaskan, banyak hal yang menjadi faktor agar pemulihan ekonomi Indonesia bisa cepat. Salah satunya menjaga dunia usaha dan sektor keuangan agar tetap stabil selama masa pandemi.

"Kalau wabah bisa ditanggulangi dengan cepat, misalnya bisa berakhir sepenuhnya pada tahun 2021, dunia usaha kita saat itu masih bertahan tidak bangkrut maka bisa segera proses recovery," ujarnya.

Piter memprediksi baru pada di 2022 ekonomi Indonesia akan kembali pulih seutuhnya. Asal dunia usaha bisa bertahan selama masa berat pandemi.

Selain itu, Piter melihat faktor wabah ini harus segera selesai. Karena, selama corona masih ada ketidakpastian masih terus menyelimuti.

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Tag: Ekonomi Indonesia, Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Fajar Sulaiman

Foto: Sufri Yuliardi

Baca Juga

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,925.40 3,885.82
British Pound GBP 1.00 19,310.01 19,112.04
China Yuan CNY 1.00 2,113.12 2,091.20
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,720.24 14,573.77
Dolar Australia AUD 1.00 10,619.18 10,510.60
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,899.36 1,880.44
Dolar Singapura SGD 1.00 10,735.30 10,626.93
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,442.01 17,267.00
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,510.67 3,471.60
Yen Jepang JPY 100.00 13,942.26 13,802.23
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5143.893 -34.379 697
2 Agriculture 1182.126 4.501 23
3 Mining 1420.039 -17.397 48
4 Basic Industry and Chemicals 750.026 -7.720 80
5 Miscellanous Industry 936.518 5.337 52
6 Consumer Goods 1901.378 -17.731 58
7 Cons., Property & Real Estate 287.698 -4.036 92
8 Infrastruc., Utility & Trans. 891.398 -15.669 78
9 Finance 1123.701 -6.899 93
10 Trade & Service 635.015 7.240 173
No Code Prev Close Change %
1 IPOL 70 92 22 31.43
2 TOYS 436 545 109 25.00
3 WOWS 72 89 17 23.61
4 OPMS 128 151 23 17.97
5 YULE 172 197 25 14.53
6 BBHI 146 167 21 14.38
7 EMTK 4,290 4,900 610 14.22
8 DART 220 248 28 12.73
9 CSRA 310 346 36 11.61
10 PTSN 208 232 24 11.54
No Code Prev Close Change %
1 PGJO 55 50 -5 -9.09
2 VRNA 115 107 -8 -6.96
3 INDO 130 121 -9 -6.92
4 IBFN 290 270 -20 -6.90
5 LUCK 232 216 -16 -6.90
6 PGLI 204 190 -14 -6.86
7 BAYU 1,100 1,025 -75 -6.82
8 APII 191 178 -13 -6.81
9 TARA 59 55 -4 -6.78
10 CSMI 208 194 -14 -6.73
No Code Prev Close Change %
1 TOWR 1,150 1,080 -70 -6.09
2 ANTM 835 840 5 0.60
3 BBKP 182 193 11 6.04
4 UNTR 23,775 24,700 925 3.89
5 GIAA 258 260 2 0.78
6 TLKM 3,020 2,980 -40 -1.32
7 PURA 124 126 2 1.61
8 MDKA 2,020 2,050 30 1.49
9 PWON 388 376 -12 -3.09
10 ERAA 1,525 1,620 95 6.23