Mengamuk, ISIS Ledakkan Penjara di Afghanistan

Mengamuk, ISIS Ledakkan Penjara di Afghanistan Kredit Foto: Foto/Reuters/Thomas Peter

Kelompok Islamic State atau kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS/IS) dikabarkan melakukan serangan gila-gilaan ke sebuah penjara yang terletak di Jalalabad, Afganistan. Serangan kelompok ISIS itu dilakukan pada Minggu (2/8/2020) malam. Mereka meledakan pintu masuk penjara dengan bom mobil yang memang disengaja ditabrakkan ke arah pintu penjara Jalalabad. 

Pihak otoritas Afganistan mengatakan, serangan bom mobil di penjara Jalalabad itu langsung disambut dengan serangan senjata oleh kelompok IS ke arah penjaga keamanan penjara.

Baca Juga: Kisah 2.000 Anak Mantan Tahanan ISIS Ini Bikin Merinding karena..

Menurutnya, kelompok IS itu menyerang penjara yang terletak di timur kota Jalalabad karena penjara massal itu merupakan tempat tahanan para kelompok Taliban dan IS yang ditahan pemerintah Afganistan. 

"Baku tembak antara pejuang Negara Islam dan pasukan keamanan Afganistan berkecamuk di sebuah penjara di kota timur Jalalabad, sampai hari Senin sedikitnya 24 orang terbunuh setelah serangan semalam gerilyawan ke penjara massal Afganistan," kata otoritas Afganistan dikutip dari Reuters, Selasa (4/8/2020)

Seorang Anggota parlemen di Ibu kota Provinsi Nangarhar, Sohrab Qaderi juga membenarkan serangan yang dilakukan oleh kelompok gerilyawan IS ke penjara massal Afganistan tersebut. 

Menurut Qaderi, setidaknya 30 gerilyawan bersenjata IS ikut terlibat dalam serangan yang ditujukan ke penjara massal yang berisikan lebih dari 2000 tahanan tersebut.

Qaderi menjelaskan, serangan tersebut telah menyebabkan ribuan tahanan melarikan diri keluar dari penjara. Pasukan khusus Afganistan pun dikerahkan untuk membantu petugas kepolisian Afganistan dalam menghadapi serangan kelompok islam ekstrimis itu dan mengejar para tahanan yang melarikan diri ke luar penjara Jalalabad.

"Sampai siang hari Senin, sekitar 1000 tahanan telah ditangkap kembali oleh polisi," kata Qaderi. 

Namun, Qaderi tidak menjelaskan berapa jumlah tahanan yang hingga saat ini masih belum berhasil ditahan.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Viva Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Viva. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Viva.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini