Portal Berita Ekonomi Minggu, 27 September 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief

Bisnis di Ujung Tanduk, Operator Bus Minta Perpanjang Bantuan

Bisnis di Ujung Tanduk, Operator Bus Minta Perpanjang Bantuan
WE Online, Jakarta -

Para operator bus mulai kesulitan bertahan di tengah COVID-19. Karena itu, mereka meminta pemerintah menyalurkan relaksasi tambahan hingga 6 bulan.

Terutama keringanan kredit pembayaran. Ketua Perkumpulan Transportasi Wisata Indonesia (PTWI) Yuli Sayuti mengatakan, relaksasi cicilan ini diharapkan bisa dilanjutkan sampai Maret 2021.

"Relaksasi cicilan enam bulan dimulai Maret hingga-September atau Oktober namun kami berharap tambahan enam bulan lagi," ujarnya dalam diskusi virtual Forum Wartawan Perhubungan (Forwahub) bertajuk Naik Bus Aman dan Nyaman, Jumat (14/8/2020) malam.

Baca Juga: Cara Cek Dapat Bantuan Rp600 Ribu untuk Karyawan, Mudah!

Baca Juga: Cara Umum Dapat Bantuan Rp2,4 Juta dari Pemerintah

Yuli mengaku khawatir kalau relaksasi ini disetop akan berdampak pada gulung tikarnya operator bus. Yuli memprediksi 50-75 persen usaha angkutan pariwisata akan kolaps.

Karena, walaupun ada keringanan dari Gugus Tugas Covid-19 yang memperbolehkan membawa 85 persen kapasitas angkut didalam bus tapi wisata masih sepi peminat.

Menurutnya, kondisi pandemi Covid-19 kedepan malah semakin tinggi korbannya dan ini berdampak pada semakin turunnya operasional bus wisata.

"Masalah utama kami adalah dari usaha angkutan wisata 1.200 pengusaha dengan belasan ribu kendaraan, 90 persen saat ini mati suri nggak bergerak," ungkapnya.

Bahkan, kata Yuli, pemutusan hubungan kerja (PHK) di bidang pariwisata akan segera menjadi ancaman besar. Hal itu karena akan terjadi penarikan bus akibat terkendala pembiayaan.

"Kami mohon pada pemerintah, perhatikan kami agar bisa hidup dan bukalah tempat pariwisata agar kami bisa bergerak lagi," ucapnya.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan mengatakan, bus Antarkota Antarprovinsi (AKAP) pariwisata butuh dikampanyekan untuk kembali bergairah.

Kurnia merasa angkutan bus seperti dianaktirikan jika dibandingkan dengan angkutan lainnya seperti pesawat. "Kami juga butuh dikampanyekan bus aman dan nyaman di masa new normal. Justru urat nadi itu ada di jalan raya dimana angkutan bus menjadi darahnya," tegasnya.

Menurutnya, angkutan bus juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat dalam operasinya. Tidak kalah dengan angkutan lain. Sayangnya dilapangan bus seringkali menerima tindakan diskriminatif.

Kurnia mencontohkan, penumpang bus AKAP jurusan Jakarta-Yogakarta sudah tiba di daerah Wates malah dilarang masuk dan diperiksa macam-macam. Padahal sebelumnya tidak ada periksa apapun.

Justru sebaliknya, banyak kendaraan pribadi bisa masuk kemana-mana tanpa ada pemeriksaan apapun. Ia juga menegaskan buat para penumpang yang ingin naik bus, berdasarkan peraturan tidak lagi dibutuhkan hasil rapid tes dan surat apapun untuk kembali naik bus.

"Pemerintah harus tegas. Jangan main petak umpet. Kalau ada kasus dibilang kewenangan daerahlah, Kemendagri bilang tidak, polisi sebagai penegak hukum harus bertindak tegas dan adil," ucapnya. 

Partner Sindikasi Konten: Rakyat Merdeka

Baca Juga

Tag: Bisnis Jasa, transportasi darat, Virus Corona

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Tanayastri Dini Isna

Foto: WE

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 4,006.12 3,966.15
British Pound GBP 1.00 19,168.36 18,971.68
China Yuan CNY 1.00 2,205.71 2,183.67
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 15,025.76 14,876.25
Dolar Australia AUD 1.00 10,606.68 10,498.17
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,938.76 1,919.44
Dolar Singapura SGD 1.00 10,934.19 10,821.45
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,536.56 17,356.12
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,607.63 3,568.30
Yen Jepang JPY 100.00 14,243.78 14,100.71
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 4945.791 103.035 707
2 Agriculture 1137.608 23.110 24
3 Mining 1330.114 20.962 47
4 Basic Industry and Chemicals 706.280 14.201 80
5 Miscellanous Industry 871.512 36.945 53
6 Consumer Goods 1841.021 34.944 60
7 Cons., Property & Real Estate 342.335 3.912 95
8 Infrastruc., Utility & Trans. 803.559 4.621 79
9 Finance 1072.260 31.539 94
10 Trade & Service 623.467 4.558 175
No Code Prev Close Change %
1 FIRE 200 270 70 35.00
2 BOSS 92 123 31 33.70
3 INAF 2,330 2,910 580 24.89
4 PYFA 765 955 190 24.84
5 PEHA 1,170 1,460 290 24.79
6 KBAG 77 96 19 24.68
7 KAEF 2,310 2,880 570 24.68
8 NIKL 590 735 145 24.58
9 INTD 153 187 34 22.22
10 GMFI 68 83 15 22.06
No Code Prev Close Change %
1 ALKA 230 214 -16 -6.96
2 SBAT 288 268 -20 -6.94
3 PLIN 2,740 2,550 -190 -6.93
4 ROCK 1,515 1,410 -105 -6.93
5 WICO 505 470 -35 -6.93
6 TUGU 1,595 1,485 -110 -6.90
7 AIMS 145 135 -10 -6.90
8 MTPS 408 380 -28 -6.86
9 DPUM 73 68 -5 -6.85
10 EMTK 7,325 6,825 -500 -6.83
No Code Prev Close Change %
1 BRIS 725 770 45 6.21
2 BBRI 3,030 3,160 130 4.29
3 TLKM 2,730 2,690 -40 -1.47
4 DEAL 160 187 27 16.88
5 BBCA 27,225 28,050 825 3.03
6 TOWR 1,005 1,020 15 1.49
7 FIRE 200 270 70 35.00
8 SMBR 410 500 90 21.95
9 PURA 138 131 -7 -5.07
10 KAEF 2,310 2,880 570 24.68