Kan Main, Survei IPI: Elektabilitas Gibran-Teguh Makin Melejit

Kan Main, Survei IPI: Elektabilitas Gibran-Teguh Makin Melejit Kredit Foto: Antara/Mohammad Ayudha

Dan jika ada tiga pasangan calon, Karyono juga mengatakan pasangan Gibran-Teguh tetap unggul. Elektabilitas pasangan Gibran-Teguh mencapai 47 sampai 51 persen. Sementara pasangan Bajo masih di bawah 2 persen dan Ahmad Purnomo - Abdul Ghofar hanya 7,3 persen. 

"Dalam skenario simulasi tanpa Achmad Purnomo, elektabilitas pasangan pasangan Gibran-Teguh cenderung naik di kisaran 51 persen. Tapi jumlah undecided voters juga cenderung naik, berbanding lurus dengan kenaikan elektabilitas Gibran-Teguh. Dan jumlah undecided voters berada di kisaran 47 persen," tukasnya.

Sementara itu, potensi kemenangan Gibran-Teguh juga cukup besar jika skenarionya melawan kotak kosong. Namun demikian, Karyono menegaskan, ada resiko yang menjadi tantangan yang dihadapi pasangan Gibran-Teguh dalam skenario tersebut.

"Karena untuk saat ini tingkat dukungan Gibran-Teguh baru 53,5 persen belum mencapai zona aman meskipun dukungan kotak kosong untuk saat ini sekitar 1,6 persen. Tapi undecided votersnya masih 40,3 persen," pungkasnya.

Lalu bagaimana peta dukungan dalam simulasi 3 dan 4 nama calon Wali Kota, tanpa Achmad Purnomo? Karyono mengatakan dalam simulasi 3 nama calon peta dukungan kandidat semakin tidak seimbang. Posisi Gibran semakin kokoh dipuncak jika berhadapan dengan Bagyo Wahyono dan Abdul Ghofar Ismail. Elektabilitas Gibran dalam simulasi ini ada di posisi 47,8 persen, naik 2,9 persen. Sementara Bagyo Wahyono baru 1,4 persen, naik 0,3 persen dari sebelumnya 1,1 persen menjadi 1,4 persen. 

Adapun Abdul Ghofar juga cenderung naik dari 0,9 persen menjadi 1,4 persen. Dengan demikian, Karyono mengatakan, dalam skenario simulasi calon tanpa Achmad Purnomo justru undecided voters naik signifikan sebesar 4,7 persen dari posisi 44,7 persen menjadi 49, 4 persen. Begitu juga dalam simulasi nama lainnya, posisi Gibran semakin meningkat tapi simetris dengan meningkatnya undecided voters.

"Peta dukungan kandidat dalam skenario 4 atau 3, tanpa Achmad Purnomo, menunjukkan ada pergeseran dukungan. Pemilih Achmad Purnomo mengalami penurunan tapi belum sepenuhnya mengalihkan dukungan ke Gibran. Sebagian besar "bersikap wait and see"," tandasnya. 

Lebih lanjut, Karyono menambahkan dari simulasi enam nama calon, elektabilitas Gibran paling tinggi, yaitu 44,9 persen. Posisi elektabilitas Gibran jauh melampuai kandidat lainnya. Sosok Achmad Purnomo merosot di posisi  kedua dengan  elektabilitas 8,4 persen. Untuk sementara tingkat elektabilitas Bagyo Wahyono 1,1 persen, Abdul Ghofar 0,9 persen. Adapun kandidat lainnya semakin tenggelam dan yang mengatakan rahasia 13 persen, belum memutuskan 22,1 persen. Sementara yang mengatakan tidak tahu atau tidak menjawab sebesar 9,6 persen.

"Tren elektabilitas Gibran terus menanjak selama kurang lebih 8 bulan. Kondisinya berbading terbalik dengan Achmad Purnomo yang terus merosot. Elektabilitas Gibran di bulan Desember 2019 masih sekitar 29,5 persen, posisinya masih di bawah Achmad Purnomo yang saat itu di posisi 41,8 persen. Namun elektabilitas Gibran di bulan Juni 2020 naik menjadi 37,8 persen, naik lagi di bulan Agustus 2020 pasca rekomendasi dari PDI-P menjadi 44,9 persen. Sedangkan Achmad Purnomo terus menurun dari 41,8 persen di bulan Desember 2019, menurun menjadi 28, 3 persen pada Juni 2020 dan merosot tajam di bulan Agustus 2020 tinggal 8,4 persen," tambah Karyono. 

Karyono mengatakan, pemilih militan Gibran tertinggi dibanding kandidat lainnya. Pemilih militan Gibran dalam survei ini mencapai 32,6 persen, Achmad Purnomo 4,8 pesen, Bagyo Wayono 0,9 persen, Abdul Ghofar Ismail 0,7 persen, BRM Syailendra Soeryo Soepomo 0,0 persen, dan BRA Putri Woelan Sari Dewi 0,0 persen. 

"Swing Voter, yaitu pemilih yang belum memutuskan dan pemilih yang masih dapat berubah pilihannya sebesar 61, 1 persen," katanya.

Selanjutnya
Halaman

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini