Portal Berita Ekonomi Jum'at, 02 Oktober 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:04 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup tertahan pada level 23.185.
  • 16:04 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup positif 1,10% pada level 2.493.
  • 16:03 WIB. Bursa - Indeks FTSE 100 dibuka menguat 0,50% pada level 5.895.
  • 16:02 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,37% terhadap Yuan pada level 6,7910 CNY/USD.
  • 16:02 WIB. Valas - Rupiah ditutup menguat 0,30% terhadap Dollar AS pada level 14.835 IDR/USD.

Analis Militer Temukan Kelemahan Pasukan Raksasa China

Analis Militer Temukan Kelemahan Pasukan Raksasa China
WE Online, Washington -

Saat ini China mungkin memiliki kekuatan militer terbesar kedua di dunia. Negeri Tirai Bambu diperkuat berbagai senjata, perlengkapan dan peralatan paling canggih. Tapi negara dengan populasi terbesar itu memiliki satu kelemahan yang mungkin tidak dimiliki negara-negara miskin di Timur Tengah dan Afrika.

Kelemahan yang sulit ditutupi dengan jumlah pasukan yang luar biasa banyak. Pakar dan peneliti pertahanan di lembaga non-profit RAND Corporation, Timothy Heath menilai pasukan China saat ini tidak memiliki pengalaman bertempur.

Baca Juga: AL AS Guncang Lautan, Militer China Siap Kerahkan Kapal Induk

"Persenjataan teknologi tinggi militer China saat ini semakin mengesankan, tapi kemampuan menggunakan senjata dan peralatan itu masih belum jelas, ada alasan untuk bersikap skeptis," tulis Heath di situs RAND dan diunggah ulang National Interest pada Senin (7/9/2020).

Sementara pasukan Irak, Iran, Afghanistan, Arab Saudi, Turki, Nigeria dan sejumlah negara di Timur Tengah dan Afrika lainnya sudah lama bertempur melawan pemberontak dan teroris. Selama beberapa dekade terakhir, China tidak memiliki perlawanan yang berarti.

Heath mengatakan terakhir kali militer China atau yang dikenal Pasukan Pembebasan Rakyat (PLA) terlibat dalam pertempuran besar terjadi pada tahun 1979. Ketika militer Vietnam yang berpengalaman menghancurkan invansi China yang ceroboh.  

Saat itu militer Vietnam baru saja mengalahkan pasukan Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutunya. Sementara Partai Komunis China baru saja membubarkan angkatan bersenjata mereka sendiri melalui pembersihan besar-besaran bermotif politik.

Pembentukan PLA menunjukkan keputusan tersebut merusak. Hal itu terbukti banyak operasi yang gagal. Keterampilan pasukan dalam menjalankan taktik rendah.

Pasukan infrantri tidak bisa membaca peta dan melakukan navigasi. Karena tidak terbiasa dengan prosedur mengukur dan menghitung jarak tembak, tembakan pasukan artileri tidak akurat.

"Kekalahan itu masih menghantui PLA, sebagian besar pihak berwenang China mengabaikan konflik memalukan itu dengan cara yang canggung agar cocok dengan narasi Beijing yang mendorong perdamaian, tapi kebungkaman pemerintah membuat veteran PLA kecewa dengan partisipasi mereka dalam perang," tambah Heath.

Heath menambahkan sejumlah veteran yang berperang dalam pertempuran itu akan pensiun dalam beberapa tahun mendatang. Maka artinya militer China tidak memiliki personel yang mempunyai pengalaman bertempur.

Menurut Heath tidak berarti 'kelemahan' ini membuat China tidak bisa 'memenangkan' konflik besar. Tentu para pakar masih memperdebatkan apakah akan ada pihak yang 'menang' dalam perang besar. Tapi hasil perang dapat dihitung dari kerugian hilangnya nyawa, ekonomi, kehancuran lingkungan dan kekacauan politik.

'Kemenangan' dalam perang besar artinya, salah satu pihak berhasil mencapai tujuan strategisnya sambil menahan pihak lawan meraih hal yang sama.  Heath menengok ke sejarah untuk menjelaskan peran pengalaman dalam perang.

Partner Sindikasi Konten: Republika

Baca Juga

Tag: China (Tiongkok), Militer China, Militer

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Muhammad Syahrianto

Foto: Reuters/Damir Sagolj

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,985.92 3,946.15
British Pound GBP 1.00 19,342.80 19,147.38
China Yuan CNY 1.00 2,201.89 2,179.34
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,950.38 14,801.62
Dolar Australia AUD 1.00 10,729.89 10,621.64
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,929.13 1,909.74
Dolar Singapura SGD 1.00 10,963.10 10,853.22
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,550.25 17,369.70
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,608.59 3,568.38
Yen Jepang JPY 100.00 14,170.98 14,028.64
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 4970.094 100.055 707
2 Agriculture 1167.701 30.233 24
3 Mining 1351.537 19.514 47
4 Basic Industry and Chemicals 725.653 16.142 80
5 Miscellanous Industry 843.234 22.937 53
6 Consumer Goods 1841.415 12.461 60
7 Cons., Property & Real Estate 343.048 2.431 95
8 Infrastruc., Utility & Trans. 825.016 39.071 79
9 Finance 1067.435 27.672 94
10 Trade & Service 631.891 0.682 175
No Code Prev Close Change %
1 RONY 163 220 57 34.97
2 OKAS 109 147 38 34.86
3 DPUM 56 75 19 33.93
4 KPAS 57 76 19 33.33
5 TRUK 137 175 38 27.74
6 ESIP 143 178 35 24.48
7 ARGO 1,650 2,000 350 21.21
8 HOMI 790 955 165 20.89
9 SKBM 264 318 54 20.45
10 MTPS 308 370 62 20.13
No Code Prev Close Change %
1 PAMG 100 93 -7 -7.00
2 BALI 1,000 930 -70 -7.00
3 PCAR 372 346 -26 -6.99
4 TIRA 264 246 -18 -6.82
5 SOHO 8,875 8,275 -600 -6.76
6 WOWS 89 83 -6 -6.74
7 WAPO 89 83 -6 -6.74
8 DART 238 222 -16 -6.72
9 INTA 238 222 -16 -6.72
10 AIMS 149 139 -10 -6.71
No Code Prev Close Change %
1 TLKM 2,560 2,750 190 7.42
2 TOWR 1,035 1,060 25 2.42
3 BBRI 3,040 3,160 120 3.95
4 KBAG 94 88 -6 -6.38
5 FIRE 282 312 30 10.64
6 DEAL 226 234 8 3.54
7 KAEF 2,890 3,180 290 10.03
8 BRPT 790 830 40 5.06
9 KLBF 1,550 1,610 60 3.87
10 BRIS 750 795 45 6.00