Portal Berita Ekonomi Sabtu, 26 September 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:12 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng ditutup melemah 0,32% pada level 23.235.
  • 16:11 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup menguat 0,27% pada level 2.278.
  • 16:10 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup positif 0,51% pada level 23.204.
  • 16:10 WIB. Bursa - Indeks Shanghai ditutup negatif 0,12% pada level 3.219.
  • 16:09 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup menguat 0,69% pada level 2.467.
  • 16:09 WIB. Bursa - Indeks FTSE 100 dibuka menguat 0,15% pada level 5.831.
  • 16:08 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,14% terhadap Yuan pada level 6,81 CNY/USD.
  • 16:08 WIB. Valas - Rupiah ditutup menguat 0,12% terhadap Dollar AS pada level 14.872 IDR/USD.

Intel Jumpai Tanda-tanda Rusia dan China Ganggu Pilpres AS

Intel Jumpai Tanda-tanda Rusia dan China Ganggu Pilpres AS
WE Online, Washington -

Rusia berupaya menggunakan berbagai teknik untuk mengalahkan calon Presiden Amerika Serikat (AS), Joseph R. Biden Jr atau yang akrab dengan Joe Biden. Hal ini merupakan bagian upaya campur tangan Rusia di Pemilu AS 2020, demi membantu memenangkan Presiden Trump kembali.

Pernyataan ini, dikutip media AS, The New York Times, diungkap Direktur Pusat Kontra Intelijen dan Keamanan Nasional AS, William R. Evanina, Senin (7/9/2020).

Baca Juga: AS Jual Jet Tempur F-35 ke UEA, Israel Balik Menuntut

Sebaliknya, lanjut rilis itu, China yang dinilai lebih menghendaki Trump kalah pada pemilihan presiden (pilpres AS) November mendatang, kini mempertimbangkan apakah akan bertindak lebih agresif dalam pemilu itu.

Dari dua negara ini, Rusia adalah ancaman yang jauh lebih besar dan lebih langsung.

Sementara China, meski berusaha mendapatkan pengaruh di kancah politik Amerika, mereka belum memutuskan ikut campur secara langsung ke dalam pemilihan presiden, sekali pun China tidak menyukai Trump.

Sementara anggota parlemen dari kubu Joe Biden, partai Demokrat yang tak disebutkan namanya, menambahkan potensi Iran, yang tak hanya berusaha merusak institusi demokrasi AS dan Presiden Trump, tapi juga berupaya memecah belah Amerika menjelang pemilihan umum mendatang.

Rilis yang disampaikan Evanina ini dinilai banyak pihak memang tidak detil. Namun menurut Senator dari Negara Bagian Maine, Angus King, hal itu karena kalangan intelijen memang berupaya melindungi sumber informasi mereka.

"Direktur (Evanina) pada dasarnya telah memberi tahu rakyat Amerika, Rusia khususnya, juga China dan Iran, akan mencoba mencampuri pemilihan ini dan merusak sistem demokrasi kita," kata King, yang juga anggota Komite Intelijen di Senat.

Para pejabat intelijen melanjutkan, memang akan selalu ada kritikan politis saat informasi tentang pemilu seperti yang kini mereka rilis. Namun tujuan mereka bukanlah memberi peringkat ancaman yang akan muncul. Yang jelas, baik Rusia, China, dan Iran, semuanya dinilai berbahaya bagi pilpres mendatang. Meski bentuk kampanye pengaruh China dan Rusia sangat berbeda.

Banyak upaya China saat ini adalah menggunakan kekuatan ekonominya, dalam mempengaruhi politik lokal. Namun itu pun bukanlah hal yang baru.

China juga menggunakan berbagai cara untuk mendorong kembali berbagai kebijakan administrasi Trump, termasuk tarif dan larangan pada perusahaan teknologi China. Upaya itu bahkan dilakukan dengan terang-terangan. Meski tak jelas, apakah hal itu akan berdampak pada politik kepresidenan AS.

Sementara Rusia, kini kembali mencoba secara aktif mempengaruhi hasil pemilu 2020. Meski tentunya akan sulit bagi negara-negara musuh memanipulasi hasil pemungutan suara dalam skala besar, jelas Evanina lagi, namun negara-negara tersebut dapat mencoba mencampuri proses pemungutan suara atau mengambil langkah-langkah yang bertujuan mempertanyakan keabsahan hasil pemilihan.

Selain itu, juga ada upaya peningkatan kampanye hitam oleh China, dan upaya Moskow untuk menggambarkan Biden sebagai sosok yang korup.

“Menjelang pemilihan umum AS 2020, negara-negara asing akan terus menggunakan langkah-langkah pengaruh terselubung dan terbuka, dalam upaya untuk mempengaruhi preferensi dan perspektif pemilih AS, mengubah kebijakan AS, meningkatkan perpecahan di AS, dan merusak kepercayaan rakyat Amerika,” kata Evanina.

Rilis intelijen itu juga menyebut nama Andriy Derkach, anggota Parlemen Ukraina yang pro-Rusia, yang telah terlibat dalam merilis informasi tentang Biden. Pejabat intelijen AS mengatakan, dia memiliki hubungan dengan intelijen Rusia.

Di saat yang sama, Komite Senat yang dipimpin oleh Senator Ron Johnson, dari Partai Republik wilayah Wisconsin, juga memimpin penyelidikan terhadap putra Biden, Hunter Biden, dan pekerjaannya untuk Burisma, sebuah perusahaan energi Ukraina.

Beberapa pejabat intelijen mengatakan, seorang saksi yang ingin dihubungi oleh komite tersebut adalah agen Rusia yang bertugas melakukan disinformasi.

Terkait rilis intelijen ini, partai Demokrat meminta pejabat intelijen AS bisa membuka lebih banyak informasi untuk publik. Alasannya, hanya dengan pengungkapan ke publik secara jelas tentang adanya upaya campur tangan asing ini, akan dapat menyadarkan warga AS. Sehingga mereka bisa melawan upaya Rusia, China, atau negara lain untuk mencoba memengaruhi pemungutan suara.

Bahkan Senator Marco Rubio dari wilayah Florida, yang juga Ketua Komite Partai Republik, dan Senator Mark Warner dari wilayah Virginia, yang juga Wakil Ketua Partai Demokrat sama-sama berharap, Evanina terus mempublikasi lebih banyak informasi lagi untuk publik.

"Pernyataan Evanina menyoroti beberapa ancaman serius dan berkelanjutan oleh China, Rusia, dan Iran terhadap pemilu AS. Semua orang, baik pemilih, pejabat lokal, dan anggota Kongres, perlu mewaspadai ancaman ini,” bunyi pernyataan bersama keduanya. 

Partner Sindikasi Konten: Rakyat Merdeka

Baca Juga

Tag: Joe Biden, Donald Trump, Pilpres AS, Amerika Serikat (AS)

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Muhammad Syahrianto

Foto: Antara/REUTERS/Kevin Lamarque

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 4,006.12 3,966.15
British Pound GBP 1.00 19,168.36 18,971.68
China Yuan CNY 1.00 2,205.71 2,183.67
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 15,025.76 14,876.25
Dolar Australia AUD 1.00 10,606.68 10,498.17
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,938.76 1,919.44
Dolar Singapura SGD 1.00 10,934.19 10,821.45
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,536.56 17,356.12
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,607.63 3,568.30
Yen Jepang JPY 100.00 14,243.78 14,100.71
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 4945.791 103.035 707
2 Agriculture 1137.608 23.110 24
3 Mining 1330.114 20.962 47
4 Basic Industry and Chemicals 706.280 14.201 80
5 Miscellanous Industry 871.512 36.945 53
6 Consumer Goods 1841.021 34.944 60
7 Cons., Property & Real Estate 342.335 3.912 95
8 Infrastruc., Utility & Trans. 803.559 4.621 79
9 Finance 1072.260 31.539 94
10 Trade & Service 623.467 4.558 175
No Code Prev Close Change %
1 FIRE 200 270 70 35.00
2 BOSS 92 123 31 33.70
3 INAF 2,330 2,910 580 24.89
4 PYFA 765 955 190 24.84
5 PEHA 1,170 1,460 290 24.79
6 KBAG 77 96 19 24.68
7 KAEF 2,310 2,880 570 24.68
8 NIKL 590 735 145 24.58
9 INTD 153 187 34 22.22
10 GMFI 68 83 15 22.06
No Code Prev Close Change %
1 ALKA 230 214 -16 -6.96
2 SBAT 288 268 -20 -6.94
3 PLIN 2,740 2,550 -190 -6.93
4 ROCK 1,515 1,410 -105 -6.93
5 WICO 505 470 -35 -6.93
6 TUGU 1,595 1,485 -110 -6.90
7 AIMS 145 135 -10 -6.90
8 MTPS 408 380 -28 -6.86
9 DPUM 73 68 -5 -6.85
10 EMTK 7,325 6,825 -500 -6.83
No Code Prev Close Change %
1 BRIS 725 770 45 6.21
2 BBRI 3,030 3,160 130 4.29
3 TLKM 2,730 2,690 -40 -1.47
4 DEAL 160 187 27 16.88
5 BBCA 27,225 28,050 825 3.03
6 TOWR 1,005 1,020 15 1.49
7 FIRE 200 270 70 35.00
8 SMBR 410 500 90 21.95
9 PURA 138 131 -7 -5.07
10 KAEF 2,310 2,880 570 24.68