Portal Berita Ekonomi Minggu, 20 September 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief

Startup Berguguran, Terpukul Pandemi atau Tergerus Kompetisi?

Startup Berguguran, Terpukul Pandemi atau Tergerus Kompetisi?
WE Online, Jakarta -

Saat pagebluk Covid-19 menyerang Indonesia pada awal Maret 2020 lalu, hampir seluruh sektor bisnis mati suri. Lain halnya dengan bisnis digital yang banyak digerakkan oleh para perusahaan startup. Sektor ini digadang-gadang memiliki imun kuat melawan hantaman virus yang telah menewaskan hampir 900 ribu jiwa di seluruh dunia ini.

Bisnis startup disebut bakal tetap tokcer lantaran hadir sebagai solusi di saat ruang gerak masyarakat dibatasi oleh imbauan social distancing dan physical distancing demi menekan penyebaran virus mematikan itu.

Baca Juga: Startup Story: Janji Jiwa, Kopi yang Terjual Jutaan Gelas/Bulan

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), sektor informasi dan komunikasi di kuartal II-2020 termasuk bisnis yang justru berkembang di tengah pandemi Covid-19. Pertumbuhannya tercatat sebesar 10,8%, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya di angka 9,8%.

"Pandemi justru men-drive bisnis digital karena konsumen awalnya bisa bebas keluar rumah, tapi saat sekarang semakin sulit keluar rumah, digital menjadi solusi. Online shop menjadi solusi, Zoom menjadi solusi, Halodoc menjadi solusi. Secara umum digital menjadi growing," kata pengamat pemasaran Inventure Consulting, Yuswohady, membenarkan hal tersebut katanya kepada redaksi Warta Ekonomi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sayangnya, bisnis startup tak sepenuhnya kebal virus corona seperti yang dielu-elukan. Sejumlah perusahaan rintisan, satu persatu mulai berguguran, menutup layanan mereka secara permanen di Indonesia di antaranya Airy, Sorabel, Stoqo, Eatsy, dan Hooq.

Sementara Heru Sutadi, Direktur Eksekutif ICT Institute, berpendapat bahwa secara perkembangan bisnis, dalam kondisi normal sekalipun, tidak semua startup bisa meraih kesuksesan karena salah startegi.

"Banyak unicorn juga sebenarnya secara balance sheet masih merugi atau bahkan berdarah karena masih yang banyak bakar uang. Pandemi tentu merupakan kondisi yang juga tidak diprediksi dan jika kondisi normal saja berat, apalagi ditekan kondisi akibat Covid-19," kata dia saat dihubungi redaksi Warta Ekonomi.

Membedah lebih lanjut, berikut sejumlah perusahaan digital dan alasan di balik penutupan bisnisnya yakni

1. Sorabel (Juli 2020)

Kebalikan dari sektor pariwisata dan hospitality, e-commerce sebetulnya sektor yang paling menuai berkah dari wabah ini. Survei Nielsen yang terbit Maret 2020 lalu, mengungkapkan, sekitar 30% konsumen Indonesia lebih sering melakukan belanja online.

Shopee menjadi e-commerce yang meraup cuan besar dengan menghimpun sebanyak 260 juta transaksi di kuartal kedua tahun ini. Direktur Shopee Indonesia Handhika Jahja mengklaim angka ini meningkat pesat 130% dibandingkan tahun lalu.

Meski sama-sama online shop, nasib mujur tak menghampiri Sorabel, e-commerce produk fesyen. Startup ini resmi bangkrut pada 30 Juli lalu.

Co-Founder dan CEO Sorabel Jeffrey Yuwono bilang seiring pandemi melanda, cadangan kas perusahaan habis meski sudah mendapatkan beberapa tawaran investasi. Namun, calon investor asing tidak bisa terbang ke Indonesia untuk memverifikasi operasional fisik startup tersebut.

"Jadi, Covid-19 menyerang pada titik paling rentan dalam strategi pendanaan kami dan menghancurkan basis pelanggan inti kami," ujar Yuwono dilansir dari e27.co.

Mengamini kondisi Sorabel, Yuswohady, menjelaskan investasi jadi pemicu lain yang membikin startup gugur. Investasi, nyawa startup. Di masa krisis, duit langka. Investor memilih untuk wait and see.

"Minat untuk investasi langsung mandek. Tidak berani invest. Ketika investor tidak menggelontorkan duitnya ke startup-startup, otomatis aktivitas (startup) agak terganggu. Praktis, nyawa startup ditentukan oleh suntikan duit dari investor."

Di sisi lain, Jeffrey menambahkan strategi bisnis e-commerce yang dipimpinnya tersebut sangat mengandalkan kehadiran toko offline sebagai sumber trafik online. Sementara wabah membikin pabrik hingga toko-toko fisik berhenti beroperasi.

Mengutip riset Facebook dan Bain & Company berjudul Southeast Asia Digital Consumer Trends that Shape the Next Normal, berbeda dengan bahan makanan segar dan makanan jadi yang jadi primadona saat ini, ritel, termasuk fesyen, butuh waktu yang tak sedikit untuk bisa kembali bangkit.

Baca Juga

Tag: Startup

Penulis: Rosmayanti

Editor: Cahyo Prayogo

Foto: Airy

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,956.98 3,917.50
British Pound GBP 1.00 19,218.70 19,023.06
China Yuan CNY 1.00 2,196.09 2,173.95
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,841.84 14,694.16
Dolar Australia AUD 1.00 10,856.81 10,741.43
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,915.08 1,896.00
Dolar Singapura SGD 1.00 10,939.66 10,826.82
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,586.10 17,406.70
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,597.15 3,557.91
Yen Jepang JPY 100.00 14,156.66 14,011.79
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5059.223 20.822 707
2 Agriculture 1171.729 -22.067 24
3 Mining 1370.434 12.402 47
4 Basic Industry and Chemicals 724.951 10.929 80
5 Miscellanous Industry 866.535 -7.832 53
6 Consumer Goods 1884.335 4.638 60
7 Cons., Property & Real Estate 347.883 3.847 95
8 Infrastruc., Utility & Trans. 838.076 14.829 79
9 Finance 1093.794 -6.183 94
10 Trade & Service 636.535 12.642 175
No Code Prev Close Change %
1 DPUM 51 66 15 29.41
2 JMAS 133 172 39 29.32
3 AKSI 362 452 90 24.86
4 TFCO 330 412 82 24.85
5 JSKY 244 296 52 21.31
6 AIMS 141 170 29 20.57
7 SOHO 9,475 11,350 1,875 19.79
8 AMIN 228 270 42 18.42
9 ASBI 322 376 54 16.77
10 LRNA 131 150 19 14.50
No Code Prev Close Change %
1 ENZO 115 107 -8 -6.96
2 PCAR 320 298 -22 -6.88
3 ATIC 585 545 -40 -6.84
4 SSTM 468 436 -32 -6.84
5 SIPD 1,190 1,110 -80 -6.72
6 AALI 10,800 10,075 -725 -6.71
7 BEST 194 181 -13 -6.70
8 ROCK 1,570 1,465 -105 -6.69
9 DNAR 240 224 -16 -6.67
10 AISA 244 228 -16 -6.56
No Code Prev Close Change %
1 BBCA 28,775 28,150 -625 -2.17
2 BBRI 3,200 3,220 20 0.62
3 JSKY 244 296 52 21.31
4 ASRI 117 131 14 11.97
5 BEST 194 181 -13 -6.70
6 MEDC 420 430 10 2.38
7 TLKM 2,820 2,890 70 2.48
8 AISA 244 228 -16 -6.56
9 BBNI 4,720 4,740 20 0.42
10 MDKA 1,575 1,600 25 1.59