Portal Berita Ekonomi Senin, 28 September 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief

DPR Ramai-Ramai Ceramahi Airlangga yang 'Senggol' Kebijakan Anies Baswedan

DPR Ramai-Ramai Ceramahi Airlangga yang 'Senggol' Kebijakan Anies Baswedan
WE Online, Jakarta -

Anggota Komisi XI DPR Kamrussamad mengkritisi pernyataan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto terkait anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) usai Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengumumkan penetapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Menurutnya, pernyataan Airlangga tersebut mencerminkan pola pikir pemerintah yang mengutamakan ekonomi daripada kesehatan dan keselamatan masyarakat.

"Ini merupakan problem utama sejak awal, takut lockdown akhirnya di-lockdown oleh puluhan negara, takut perpanjang PSBB akhirnya virus membuat peternakan sendiri dalam transmisi setiap komunitas warga," kata Kamrussamad dalam keterangan tertulisnya kepada Republika, Kamis (10/9/2020).

Baca Juga: PSBB Total Diramal Picu PHK Massal

Kamrussamad mengimbau kepada seluruh pihak untuk tidak menyalahkan siapa-siapa. Menurutnya, IHSG yang fluktuatif adalah hal yang biasa. Bahkan, pemerintah sendiri yang mengatakan bahwa Indonesia saat ini berada dalam situasi extraordinary.

"Artinya, sewaktu-waktu bisa terjadi turbulensi ekonomi nasional apalagi pasar modal seperti IHSG," ujar politikus Partai Gerindra itu.

Menurutnya, langkah Gubenur DKI Jakarta menerapkan kembali PSBB total pada 14 September mendatang merupakan langkah tepat. Karena, imbuhnya, dari 34 Provinsi baru DKI yang memenuhi standar jumlah tes spesimen warga yang ditentukan oleh WHO 1:1.000. "Hasilnya, semua rumah sakit penuh pasien Covid. Bagaimana dengan provinsi lain?" imbuhnya.

Anggota Komisi XI DPR lainnya, Anis Byarwati juga menyoroti soal terjunnya nilai IHSG 154,7 poin atau 2,99 persen ke posisi 4.988,33 pada Kamis (10/9) pagi. Menurut Anis, koreksi IHSG yang terjadi kemarin merupakan hal yang wajar sebagai reaksi pasar terhadap rencana penerapan PSBB total untuk wilayah DKI Jakarta.

Anis menambahkan, sudah dipahami bahwa PSBB total yang rencananya akan diberlakukan DKI Jakarta pasti akan berdampak besar terhadap ekonomi nasional. Hal tersebut lantaran DKI Jakarta menjadi motor penggerak ekonomi utama Indonesia.

"Kontribusi Provinsi DKI Jakarta terhadap perekonomian Indonesia sangat signifikan, sekitar 17 sampai 18 persen," kata Anis dalam keterangan tertulisnya kepada Republika, Kamis.

Ia pun menyambut keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang memutuskan kembali menerapkan PSBB total pada 14 September mendatang. Menurutnya, pemberlakuan kembali PSBB total di Jakarta sudah harus dilakukan lantaran kebijakan pelonggaran PSBB memiliki tingkat risiko penyebaran virus corona tinggi.

"Dengan kondisi memprihatinkan seperti ini, PSBB ketat sudah seharusnya diterapkan," ujarnya.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho mengatakan bahwa PSBB total di DKI Jakarta merupakan contoh tepat untuk mengatur kembali strategi menekan pandemi kemudian diikuti pemulihan ekonomi.

"Mindset diubah, memang kesehatan diutamakan, nanti ekonomi mengikuti," katanya dalam webinar di Jakarta, Kamis. Ia mengharapkan langkah tersebut dapat ditiru pemerintah daerah lainnya dengan menempatkan kesehatan sebagai prioritas utama.

"Kesehatan yang utama, tapi pada akhirnya dibuat berjalan berdampingan sehingga inilah akibatnya ternyata kesehatan bukan prioritas utama sehingga akan berdampak ke ekonomi," katanya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, pengumuman pemberlakuan kembali PSBB total oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berimbas pada pasar keuangan. Menurutnya, kebijakan 'rem darurat' yang diumumkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada Rabu (9/9) itu menyebabkan volatilitas pasar keuangan meningkat pada pagi ini.

Airlangga mengatakan, sebenarnya, kinerja pasar keuangan sebenarnya sudah menunjukkan arah positif sejak beberapa pekan terakhir dibandingkan April. Indeks saham sektoral mengalami penguatan pada sebagian besar sektor dengan variasi kenaikan hingga di atas 20 persen.

Namun, kinerja tersebut berubah pada indeks saham Kamis (10/9) pagi. "Hari ini, indeks masih ada ketidakpastian akibat announcement Gubernur DKI tadi malam sehingga pagi tadi, indeks sudah di bawah 5.000," tutur Airlangga dalam Webinar Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Kamis (10/9).

Diketahui, IHSG pada Kamis pagi dibuka anjlok ke level 5.084,32. Bahkan, Bursa Efek Indonesia (BEI) membekukan sementara perdagangan saham pada pukul 10.36 JATS.

Dalam kesempatan yang sama, Airlangga juga menekankan, 'gas' dan 'rem' sebaiknya tidak dilakukan secara mendadak. Karena, menurutnya, langkah itu bisa berimbas pada kepercayaan dari publik dan investor. "Ekonomi tidak semuanya tentang faktor fundamental, tapi juga sentimen keuangan, terutama di sektor capital market," katanya.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani mengatakan, penerapan PSBB total akan menjadi tantangan tersendiri bagi dunia usaha untuk mampu bertahan. "PSBB tentunya ini jadi tantangan tersendiri bagi dunia usaha terutama di DKI Jakarta mulai minggu depan 14 September," katanya dalam Rakornas Kadin Indonesia di Jakarta, Kamis.

Rosan menyatakan, dunia usaha harus mampu menavigasi dan beradaptasi dengan penerapan PSBB total jilid II yang akan berlangsung mulai Senin, 14 September 2020. Menurut Rosan, hal itu harus dilakukan dunia usaha agar mampu berkembang di tengah tekanan pandemi sehingga dapat berkontribusi dalam peningkatan perekonomian nasional.

"Berkembang dan akselerasi perekonomian meskipun di tengah tekanan pandemi yang luar biasa dalam waktu singkat memiliki tekanan yang sangat besar bagi dunia usaha," katanya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memang akhirnya menarik rem darurat yang mencabut kebijakan PSBB transisi dan memberlakukan kembali PSBB secara total. Anies menilai, Jakarta saat ini dalam kondisi darurat.

"Dengan melihat keadaan darurat ini di Jakarta, tidak ada pilihan lain selain keputusan untuk tarik rem darurat. Artinya, kita terpaksa berlakukan PSBB seperti awal pandemi. Inilah rem darurat yang harus kita tarik," kata Anies dalam keterangan pers yang disampaikan di Balai Kota Jakarta, Rabu (9/9) malam.

Prediksi akan habisnya kapasitas tempat tidur dan ruang rawat sejumlah rumah sakit (RS) khusus penanganan Covid-19 menjadi salah satu alasan utama Anies menarik tuas rem darurat dan memberlakukan PSBB total. Meskipun Jakarta memiliki fasilitas kesehatan yang besar dengan 67 RS rujukan, jumlah dokter yang lebih tinggi dibanding rata-rata nasional, saat ini sudah melebihi ambang batas kerawanan sebesar 80 persen dari ketersediaan.

"Namun, ambang batas sudah hampir terlampaui dan tak lama lagi pasti akan over kapasitas," kata Anies.

Partner Sindikasi Konten: Republika

Baca Juga

Tag: Airlangga Hartarto, Anies Baswedan, PSBB Total, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Foto: Antara/Aprillio Akbar

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 4,006.12 3,966.15
British Pound GBP 1.00 19,168.36 18,971.68
China Yuan CNY 1.00 2,205.71 2,183.67
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 15,025.76 14,876.25
Dolar Australia AUD 1.00 10,606.68 10,498.17
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,938.76 1,919.44
Dolar Singapura SGD 1.00 10,934.19 10,821.45
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,536.56 17,356.12
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,607.63 3,568.30
Yen Jepang JPY 100.00 14,243.78 14,100.71
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 4945.791 103.035 707
2 Agriculture 1137.608 23.110 24
3 Mining 1330.114 20.962 47
4 Basic Industry and Chemicals 706.280 14.201 80
5 Miscellanous Industry 871.512 36.945 53
6 Consumer Goods 1841.021 34.944 60
7 Cons., Property & Real Estate 342.335 3.912 95
8 Infrastruc., Utility & Trans. 803.559 4.621 79
9 Finance 1072.260 31.539 94
10 Trade & Service 623.467 4.558 175
No Code Prev Close Change %
1 FIRE 200 270 70 35.00
2 BOSS 92 123 31 33.70
3 INAF 2,330 2,910 580 24.89
4 PYFA 765 955 190 24.84
5 PEHA 1,170 1,460 290 24.79
6 KBAG 77 96 19 24.68
7 KAEF 2,310 2,880 570 24.68
8 NIKL 590 735 145 24.58
9 INTD 153 187 34 22.22
10 GMFI 68 83 15 22.06
No Code Prev Close Change %
1 ALKA 230 214 -16 -6.96
2 SBAT 288 268 -20 -6.94
3 PLIN 2,740 2,550 -190 -6.93
4 ROCK 1,515 1,410 -105 -6.93
5 WICO 505 470 -35 -6.93
6 TUGU 1,595 1,485 -110 -6.90
7 AIMS 145 135 -10 -6.90
8 MTPS 408 380 -28 -6.86
9 DPUM 73 68 -5 -6.85
10 EMTK 7,325 6,825 -500 -6.83
No Code Prev Close Change %
1 BRIS 725 770 45 6.21
2 BBRI 3,030 3,160 130 4.29
3 TLKM 2,730 2,690 -40 -1.47
4 DEAL 160 187 27 16.88
5 BBCA 27,225 28,050 825 3.03
6 TOWR 1,005 1,020 15 1.49
7 FIRE 200 270 70 35.00
8 SMBR 410 500 90 21.95
9 PURA 138 131 -7 -5.07
10 KAEF 2,310 2,880 570 24.68