Portal Berita Ekonomi Minggu, 20 September 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief

Startup Unicorn OVO Tertarik IPO di Bursa?

Startup Unicorn OVO Tertarik IPO di Bursa?
WE Online, Jakarta -

Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, pergerakan pasal modal Indonesia masih tergolong bagus. Meski sempat jatuh ke level 3.900-an pada awal pandemi di bulan Maret 2020, tetapi perlahan indeks bergerak naik dan kembali ke level 5.000-an per bulan September ini.

Tidak hanya dari sisi indeks harga saham, kinerja baik juga terlihat dari kenaikan jumlah investor yang menanamkan modal di pasar saham. Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI) Pandu Patria Sjahrir, mencatat terjadi kenaikan jumlah investor ritel yang masuk ke bursa hingga menembus angka tiga juta investor. 

"Sebelumnya hanya satu juta investor saja," katanya sebagaimana dilansir dari SindoNews di Jakarta, Kamis (17/9/2020).

Baca Juga: Startup Story: Asumsi.co, Media Alternatif yang Baru Kantongi Modal dari ....

Kinerja moncer juga dipanen oleh sejumlah startup e-commerce dan digital payment. Salah satunya OVO yang merupakan perusahaan rintisan Indonesia dengan gelar unicorn. Berdasar catatan perusahaan, fintech milik Lippo Group ini berhasil menarik jumlah pengguna baru secara signifikan mencapai 267%.

Capaian ini bukan tanpa sebab. Selama pemberlakuan PSBB April 2020 lalu terjadi kenaikan transaksi digital hingga 64,48% secara tahunan. Bahkan volume transaksi digital tumbuh 37,35% secara tahunan. Begitu menurut catatan Bank Indonesia.

Dengan mempertimbangkan pergerakan bursa dan kinerja perusahaan yang kebal Corona, apakah perusahaan dengan nama PT Visionet International ini berambisi melakukan initial public offering (IPO) atau penawaran umum perdana tahun ini untuk menambah modal dari pasar saham?

Menjawab soal ini, Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra bilang bahwa perusahaan belum memiliki rencana untuk menghimpun dana lewat pasar modal, baik domestik maupun internasional. Fokusnya saat ini adalah menjalankan rencana bisnis yang sudah dirancang perusahaan.

"OVO terus melakukan berbagai cara untuk beradaptasi terhadap setiap situasi. Kami memastikan strategi yang kami jalankan tepat untuk menghadapi kondisi ekonomi baru, khususnya terkait dengan kondisi ekonomi pandemi Covid-19," kata dia dalam pernyataan tertulis yang dikirim melalui aplikasi pesan singkat kepada redaksi Warta Ekonomi, Kamis malam (16/9/2020).

Lebih jauh, Karaniya bicarakan bahwa di tengah ancaman pandemi Covid-19 saat ini, perusahaan akan lebih fokus pada upaya membantu dan memberikan kontribusi positif bagi pemerintah guna memulihkan ekonomi Indonesia.

Dia sampaikan, "fokus utama kami saat ini ialah untuk membantu pemerintah Indonesia untuk secara proaktif berkontribusi dalam berbagai program maupun bantuan yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam menghadapi pandemi."

Salah satu kontribusinya, startup yang akan genap berusia tiga tahun pada 25 September mendatang ini mendukung inisiatif QRIS yang dijalankan Bank Indonesia untuk mempermudah UMKM dan pengguna dalam bertransaksi tanpa kontak langsung. 

"OVO juga turut andil mendukung penerapan pembayaran non-tunai yang disalurkan ke masyarakat melalui Kartu Prakerja kepada jutaan pencari kerja dan usaha kecil, mendukung PLN dalam mendistribusikan pencairan subsidi tagihan listrik, meluncurkan berbagai program donasi digital, serta mendukung program Bangga Buatan Indonesia," tandasnya.

Sebagaimana diketahui, pagebluk Covid-19 telah meluluhlantakkan hampir semua lini bisnis. Namun, sebaliknya OVO justru memanen berkah dari krisis akibat virus asal Wuhan, China, tersebut.

Baca Juga

Tag: OVO, Initial Public Offering (IPO)

Penulis: Rosmayanti

Editor: Cahyo Prayogo

Foto: WE

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,956.98 3,917.50
British Pound GBP 1.00 19,218.70 19,023.06
China Yuan CNY 1.00 2,196.09 2,173.95
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,841.84 14,694.16
Dolar Australia AUD 1.00 10,856.81 10,741.43
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,915.08 1,896.00
Dolar Singapura SGD 1.00 10,939.66 10,826.82
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,586.10 17,406.70
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,597.15 3,557.91
Yen Jepang JPY 100.00 14,156.66 14,011.79
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5059.223 20.822 707
2 Agriculture 1171.729 -22.067 24
3 Mining 1370.434 12.402 47
4 Basic Industry and Chemicals 724.951 10.929 80
5 Miscellanous Industry 866.535 -7.832 53
6 Consumer Goods 1884.335 4.638 60
7 Cons., Property & Real Estate 347.883 3.847 95
8 Infrastruc., Utility & Trans. 838.076 14.829 79
9 Finance 1093.794 -6.183 94
10 Trade & Service 636.535 12.642 175
No Code Prev Close Change %
1 DPUM 51 66 15 29.41
2 JMAS 133 172 39 29.32
3 AKSI 362 452 90 24.86
4 TFCO 330 412 82 24.85
5 JSKY 244 296 52 21.31
6 AIMS 141 170 29 20.57
7 SOHO 9,475 11,350 1,875 19.79
8 AMIN 228 270 42 18.42
9 ASBI 322 376 54 16.77
10 LRNA 131 150 19 14.50
No Code Prev Close Change %
1 ENZO 115 107 -8 -6.96
2 PCAR 320 298 -22 -6.88
3 ATIC 585 545 -40 -6.84
4 SSTM 468 436 -32 -6.84
5 SIPD 1,190 1,110 -80 -6.72
6 AALI 10,800 10,075 -725 -6.71
7 BEST 194 181 -13 -6.70
8 ROCK 1,570 1,465 -105 -6.69
9 DNAR 240 224 -16 -6.67
10 AISA 244 228 -16 -6.56
No Code Prev Close Change %
1 BBCA 28,775 28,150 -625 -2.17
2 BBRI 3,200 3,220 20 0.62
3 JSKY 244 296 52 21.31
4 ASRI 117 131 14 11.97
5 BEST 194 181 -13 -6.70
6 MEDC 420 430 10 2.38
7 TLKM 2,820 2,890 70 2.48
8 AISA 244 228 -16 -6.56
9 BBNI 4,720 4,740 20 0.42
10 MDKA 1,575 1,600 25 1.59