Warga CitraGran Cibubur Keluhkan Air Keruh dan Bau, Pengembang: Dampak Pencemaran dan Kemarau

Warga CitraGran Cibubur Keluhkan Air Keruh dan Bau, Pengembang: Dampak Pencemaran dan Kemarau Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Perwakilan warga CitraGran Cibubur khususnya RW 11 melakukan pertemuan langsung dengan pengelola CitraGran Cibubur, PT Sinar Bahana Mulia (SBM) sebagai pengelola air bersih. Pertemuan ini sebagai luapan kekesalan warga perumahan mewah dari pengembang Group Ciputra ini terhadap persoalan ketersediaan air bersih. 

Pertemuan yang berlangsung di Family Park CitraGran Cibubur, Bekasi, Sabtu (19/9) dihadiri antara lain Perwakilan PT Sinar Bahana Mulia General Manager Zainal Arifin, Head of Estate  Marcus Ngadiono, Supervisor WTP/Listrik: Luthfi, Wakil RT/RW Jati Karya Jati Sampurna, Kota Bekasi; Ketua RW 11 Fajar Shodiq; Ketua RT 1/11 Ramdan; Ketua RT 8/11 Ansori Abdullah dan warga. 

Ansori Abdullah  mengatakan warga menilai pengelola tidak mampu menyediakan dan mengelola air bersih di lingkungan Perumahan CitraGran Cibubur. Sudah lebih dari 10 tahun warga mengeluhkan pengelolaan Air bersih yang sudah tidak layak selain berwarna coklat, berbau amis dan juga menimbulkan gatal-gatal. Hampir tiap hari selalu ada bau kalaupun air jernih, kalu tidak bau kadang berwarna namun tidak pernah digubris dan tidak ada solusi permanen dari PT SBM. Wargapun sudah lelah dan geram dengan kualitas air yang makin tidak ada kepastian. Sekarang warga menuntut keadilan, solusi cepat baik jangka pendek dan jangka panjang serta adanya kompensasi seperti pemotongan pembayaran IPL (iuran pengelolaan linkungan).

"Warga sudah beberapa kali meminta PT SBM untuk melakukan perbaikan dan upgrade teknologi Water Treatment Plan (WTP) sehingga warga  tidak dirugikan materil dan non materil. Warga sudah membayar jadi menuntut haknya untuk mendapatkan air bersih," katanya.

GM PT BSM Zainal Arifin mengakui adanya masalah pelayanan air bersih ini, seperti yang dikatakannya,  persoalan terganggunya pelayanan air bersih CitraGran ini karena adanya pencemaran sumber air baku yang diambil dari sungai Cikeas. "Ada pencemaran dari RPH dan dihulu ada pabrik tapioka dan penyamakan kulit," ujarnya.

Senada dengan itu, Marcus menambahkan, kualitas air yang menurun akibat adanya polusi (pencemaran) dari pabrik tapioka dan penyamakan kukit dihulu sungai selain rumah potong hewan (RPH) Depok yang diduga membuang limbah kesungai Cimeas. "

Namun menurut Marcus, persoalan air bersih yang terjadi di CitraGran tidaklah setiap hari dan hanya pada sebagian  RW 11 saja, itu terjadi disaat musim kemarau, di mana debit air menurun sehingga dampak polusi makin besar terasa seperti puncaknya pada tanggal 29 Agustus lalu, air menjadi kuning dan berbau. Namun bila ada hujan turun air hasil pengolahan kembali normal. Disebutkan juga persoalan pencemaran sungai Cikeas ini sudah disampaikan kepada  PT Jasa Tirta sebagai regulator walaupun hingga saat ini belum ada langkah kongkrit untuk mencegah pencemaran ini.

"Kalau dari sistem yang ada di WTP untuk CitraGran ini sudah berjalan normal bahkan sudah dilakukan penambahan kaporit. Sudah juga mengunakan bak penampungan sedimentasi untuk menambah waktu settling/pengendapan. Kita punya kapasitas pengolahan air bersih 1000 m³ untuk melayani sekitar 3.500 keluarga  ditambah pertokoan. Untuk jangka panjang sebetulnya kita sudah berencana membangun 2 reservoir (penampungan air) baru masing-masing 300 m³ dan 200 m³ untuk menambah daya tampung air hasil produksi.  Pengerjaan ini membutuhkan 2-3 bulan namun terkendala adanya pandemi Covid-19. Kita juga bererencana membangun sumur dalam, yang saat ini dalam proses perizinan. Untuk komplain warga terhadap dampak air pada kulit manusia seperti alergi dan gatal-gatal kita sudah membawa sampel air untuk diperiksa di labiratorium PDAM Pejompongan untuk diperiksa yang hasilnya akan keluar minggu depan, dan untuk solusi jangka pendek kita bisa sediakan mobil tenki air bersih untuk melayani warga," pungkas Marcus.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini